scriptamanent

"verba volant, scripta manent"

Lagi Getol

Saya lagi getol menulis private thing, hoho, and by ‘getol’ I mean, only 1 or 2 posts that related with the private issue. So, I guess I am quite widely open about how I feel right now. UAS kemarin, harus saya akui membuat saya cukup terpukul dan mengubah frekuensi kehidupan saya selama beberapa waktu. Ini tidak lama, paling sampai seminggu ini saja sampai saya merasa harus mengisi blog ini lagi dengan post-post sok serius. Anyway, I try to fill this blog with ‘things-that-are-deserved-to-be-published-after-I-die’. Quite like Hok-Gie dengan catatan hariannya. Walaupun buat dipublish, catatan-catatan sengak di blog ini nyaris sama mustahilnya dengan mengetahui momentum dan posisi elektron di waktu yang bersamaan.

There it goes: I’d like to talk about city.

Ini topik lama, as a matter of fact. Beberapa minggu yang lalu, saya menemani teman saya, Finda untuk survei lokasi tesisnya. Lokasinya di Sungai Tapak, Semarang. Tempat yang menarik untuk dieksplorasi, and conceives beauty as it is. Saya menjadi tidak sabar menunggu hasil analisis Finda.

Well, cerita bermula ketika pulang dari Sungai Tapak untuk menuju Jatingaleh, saya kebablasan, as usual. Tapi kebablasan itu membawa saya kepada tempat yang sungguh menakjubkan: Pesisir Utara Semarang, dan sebagai bonus: sunset. Melihat kemegahan Tanjung Emas dari jalan layang dari Pesisir Utara Jawa saat sunset menjadi sensasi yang sangat luar biasa. Saya terharu.

Saat itu saya sadar bahwa kota, bukan sembarang fenomena. Mari kita lihat contoh kasus Semarang dalam hal ini.

Jonathan Raban, membagi kota menjadi dua dimensi: soft dan hard. Ketika seseorang masuk ke dalam kota untuk pertama kali, ia akan melihat kota dari hard aspectnya. Jalanan, petunjuk arah, rambu lalu litas, batas tembok, dinding, dan particular location, adalah hal-hal yang menjadi pusat perhatian seseorang ketika ia masuk ke dalam suatu kota yang baru. Seiring berjalannya waktu, orang itu akan masuk ke dalam soft aspect from a city. Sisi lembut suatu kota akan merasuknya, ia akan berubah identitasnya, perilakunya, nilai-nilai yang dianutnya, hingga cara bicara atau bahasanya. Bisa dikatakan, apabila seseorang berubah aksennya ketika ia masuk ke suatu kota baru dengan dialek yang berbeda dengan dialek ibunya, ia sudah totally blended in. Bahasa, bagaimanapun adalah struktur utama yang mengatasi struktur-struktur lainnya, gitu sih kata Durkheim.

Dalam kasus Semarang, saya berdiri dalam kegamangan antara hard aspect dengan soft aspect. Kota Semarang menjebak saya dalam struktur kotanya yang semrawut (lihat ajah daerah Genuk ke timur ke arah Demak) dan romantika lansekapnya. Semarang adalah kota yang unik karena sebelum kita masuk ke kotanya, kita diberikan birdview terhadap dirinya sendiri. Jarang ada kota yang demikian (Jogja bisa saja asal kita masuk dari Gunung Kidul lalu lewat bukit bintang). Sehingga, sebelum akhirnya kita terintegrasi dalam diri kota Semarang, kita diberi kesempatan untuk melihat dirinya -secara keseluruhan terlebih dahulu.

Bagaimana ini membuat berbeda? Saya pun bingung. Namun penjelasan yang bisa saya berikan adalah: ketika kita diberikan kesempatan untuk melihat kota Semarang terlebih dahulu kita diberikan fakta bahwa kita dengan kota itu adalah entitas yang terpisah. Dalam entitas yang terpisah, lebih dimungkinkan tercipta dialog. Dengan menyadari keterpisahan itu, saya masih bisa merasakan diri saya sendiri walau saya teah tercelup dan tenggelam masuk ke dalam kotanya. Saya tahu bahwa saya dan Semarang bersatu namun tidak menyatu. Hal tersebut tentu tidak terjadi ketika kita perlahan tenggelam dalam suatu jalan-jalan kota.

Cuma saya yang merasakannya ya? Ah, ya sudah.

By the way, tulisannya cukup sekia sih, tapi sebagai bonus saya mau membuat point terhadap beberapa kota yang pernah saya datangi. Here it goes.

Jakarta (Pamulang, particularly)

‘Fondasi’ menjelaskan segala sesuatu tentang Jakarta. Place where I was born, tempat saya tumbuh dan berkembang dan membangun struktur-struktur bawaan dan archtype saya. Jakarta menjelaskan nyaris segalanya tentang saya. Di tengah hiruk-pikuknya, polusinya, kemacetannya, Jakarta memberikan pesona dan persona yang tidak mungkin tergantikan.

Yogyakarta

Tempat saya membangun struktur-struktur lanjutan di atas fondasi saya. Apapun yang Anda lihat dari saya sekarang adalah hasil pemberian Yogyakarta sedangkan yang tidak Anda lihat namun saya lihat di diri saya adalah pemberian dari Jakarta, begitu. Still, I find almost everything in this city (or region).

Semarang

Sudah saya jelaskan diatas

Bandung

Saya jarang main ke Bandung, but when I do, saya tidak main. Bandung adalah kota yang paling intim buat saya, karena saya hampir nyaris merayapi kota ini dengan berjalan kaki. Mulai dari Geger Kalong hingga Stasiun Hall, Jalan Riau sampai Dago, hingga Soekarno Hatta sampai Ganesha. Saya cinta Bandung dan berharap kota ini tidak terJakartaisasi, karena cukup hanya ada satu Jakarta saja di dunia ini.

Surabaya

Saya rajin mandi di kota ini.

Dan dari seluruh kota diatas, tempat dengan romantika yang tinggi adalah: Jalan Pantura, Jalan-jalan Pegunungan Sewu, dan Jalan Jogjakarta-Semarang. Kok jalan? Ya, sebab cinta adalah selayaknya jalan, bukan menjadi suatu tujuan.

 

Kalibrasi

Berhubung lagi ada internet dan suasana yang asik, jadi saya memutuskan untuk melanjutkan postingan di blog ini. Kali ini saya malas bicara yang berat-berat. Maka, saya putuskan untuk mencurahkan uneg-uneg, curhat lagi lebih tepatnya. Dan kalau uneg-uneg maka hampir dapat dipastikan tulisan ini bakal kayak status facebook, cuma lebih panjang dan private aja karena saya tulis disini.

Oke, pertama saya sedang memulai “Tale of Resurrection of Smarvo and The Prince”. Saya berniat menghidupkan kembali dua kekasih lama saya yang telah mati. Yang satu adalah amplifier gitar bermerk smarvo dan yang satu lagi adalah gitar Prince STC-34 X saya. Keduanya pernah begitu saya cintai lantas secara egois saya tinggalkan. Kini, smarvo tengah berada di pusat servis amplifier dan saya sedang berdebar-debar menunggu tagihan servisnya. Prince aman berada di kamar saya.

Dan yang kedua yang tengah menjadi perhatian saya adalah isu ibu warteg di Serang yang tengah menjadi viral karena multiplier effect yang ditimbulkannya. Kini saya sadari, betapapun njijikinya bahasan yang ada di timeline saya, saya harus menyerah dan mengakui bahwa ada kenikmatan sendiri melihat bagaimana netizen beraksi di media sosial, hohoho. Melihat mereka berdebat menyenangkan walau tak jarang saya kemudian dibuat bertanya-tanya sendiri lalu baper, hehe. But thanks anyway, from them I learn not to underestimate the power of numerous lazy people.

Yes, they do make their point. Yet, in my humble opinion, the discussion and the discourse in the public sphere recently is diverted into one but a very peculiar concept: toleration. Then when I read all the arguments, I was like: “wait, what?!”. It’s not something I used to know about tolerance or something I had written in this blog, once.

Well the implication is, not so long from the Warteg incidents, my government decline almost 3000 federal laws and wasted trillions of rupiahs. Bisa dibayangkan kalo buat ngebeli lidi-lidian pedas terus dijejer, bisa berapa kali kita bolak-balik bumi ke merkurius. Dan lucunya, isu pembatalan perda tersebut dicap sebagai bentuk intoleransi. Sekali lagi: toleransi.

(wow, downloadan saya selesai! hahaha)

(berhubung downloadan saya selesai, saya jadi bingung mau ngomong apa soal toleransi)

Ada satu kata yang melintas di dalam pikiran saya ketika memikirkan hal tersebut. Prinsip dari Ignatius Loyola: Finding God in all things. And when I do, I literally mean ‘all things‘. Artinya, saya harus (sebagai produk Ignasian) menemukan Tuhan dalam berbagai hal, mulai dari salib besar, tembok besar cina, debu di sepatu, hingga foto satelit hubble. Artinya menemukan tuhan di rosario, tasbih, lafadz Allah, huruf aum, hingga kopiah Haji Maka’. Dan yang paling ekstrem, menemukan tuhan di rudal Israel, mata seorang pencuri, senyum seorang penipu, hingga tawa pelaku genosida. Tuhan hadir di sana semua.

Kok aneh, selama ini kan Tuhan identik dengan kebaikan. Bukankah kata Albert Einstein (dalam anekdot viral yang pasti kita pernah semua baca) bahwa kejahatan adalah absennya kebaikan? Tuhan tidak berada disana ketika ada kejahatan. Aha, selamat jika begitu, pikirkan lagi soal paradoks Epicurus yang menyebalkan itu.

Saya tidak punya jawaban praktis untuk itu. Nanti mungkin akan saya coba tuliskan argumentasinya. Untuk sementara, ketahuilah bahwa tuhan is literally, everywhere, everytime. Anda yang beriman tahu istilah Gusti ora Sare kan? God watches, listens, and knows everything dari yang kemarin hingga yang akan terjadi. Tapi bukan urusan kita untuk itu, dalam katolik, saya diajarkan untuk menghargai misteri yang diberikan tuhan dan yeah, I enjoy it. Saya menikmati misteri yang Tuhan berikan dalam kehidupan ini.

Lalu kita, manusia pada dasarnya adalah makhluk yang bertuhan. Sayangnya tentu saja kita sering sekali lupa. Kita lupa bahwa kita bertuhan justru dengan beragama. Kita sibuk mengatur ibadah kita (bahkan ibadah orang lain!) tapi lupa mengenal tuhan. Well, I do believe bahwa hubungan dengan tuhan adalah urusan yang sangat personal. Karenanya, segala ibadah yang diperintahkan hanyalah awal menuju kepada tuhan kita. Sayangnya, kita malah tidak mengikutinya. Apa yang terjadi adalah petunjuk itu, papan-papan penunjuk arah itu tidak kita ikuti hanya kita lekati dan kita jaga selayaknya satpam yang sangat galak. Akibatnya? ya kita ga kemana-mana lah, hanya berkutat di urusan ibadah tanpa menuju ke tuhan kita.

And I do believe too, bahwa seluruh jalan itu akhirnya akan menuju puncak yang sama kok, everybody will be happy beside God. Dan tuhan cukup punya kuasa untuk memanifestasikan diriNya yang hanya satu itu dalam berbagai bentuk yang ciptaannya sukai. Saya pikir dia juga tidak akan keberatan untuk itu.

Masalahnya adalah ada ciptaanNya yang tidak menyukai bentuk satu dan yang lainnya lalu memaksakan bentuk kesukaan mereka. Well, it’s kind of weird tapi kalau ada yang begitu, sikapi dengan dingin saja, terima, lalu tersenyum dan bilang, “ya, pilihanmu memang yang terbaik”. Seperti ketika kita ditawari jenis musik tertentu, pura-pura sukai saja. Cara tersebut aneh, memang, tapi dalam menghadapi orang cupet yang belum bisa move on dari metode menuju tujuan sebenarnya, agaknya, cara ini bisa dipakai. Toh nanti juga akan ketemu juga ujung-ujungnya.

Begitu saja sudah, ini saya berikan ilustrasi tree of life, buat pembaca supernova pasti familier dengan simbol ini. Ini simbol akar, bentuk lingkaran biru adalah sefirot: 10 tahap emanasi menurut ajaran Kabbalah. Dan tree of life, adalah wujud universalitas agama-agama dunia, karena simbol ini, mulai dari mitologi Nordik hingga buddhism muncul terus-menerus.

Tree-of-Life_Flower-of-Life_Stage

Dan semoga kita tetap bisa menjadi buddha walau tertulis katholik di KTP.

scriptammanent

Domestik (iii): Tubuhku Hasratku

Dalam dunia ini ada suatu kondisi yang disebut homeostatis. Kondisi tersebut adalah kondisi seimbang sempurna, suatu kondisi dimana segala proses niscaya berheti, ultimate ending. Sementara kita tahu pada faktanya bahwa dunia masih berputar, proses masih terjadi, dan Justin Beiber masih bernanyi. Mengapa proses tersebut masih berhenti? Artinya masih ada yang belum tuntas di dunia ini, masih ada kondisi dimana keseimbangan belum terwujud. Manusia masih berpikir karena res cogitans masih bertempur dengan res extensa, penelitian masih berjalan karena das sein belum sama dengan das sollen, aktivitas sosial-ekonomi masih berputar karena ada hutan dan lain sebagainya. Intinya adalah ada perbedaan antar dua entitas tersebut yang membuatnya menjadi proses. Perbedaan itu yang menjadi titik tolak dalam melihat bagaimana pria dan wanita terus saling mencinta (preambule yang ga nyambung dan maksa banget).

Apa yang mau saya tuliskan berangkat dari premis sederhana: ‘mencintai tak harus memiliki’ yang buat saya preketek. Tapi supaya kelihatan canggih, ‘preketek’ saya tersebut saya coba kembangkan lewat perangkat yang minta ampun susahnya buat dipahamin: eksistensialisme sartre. Kata kunci yang akan kita gunakan adalah hasrat.

Tidak mungkin mencintai tanpa mengingini. Biarpun apabila dibawa ke mahkamah diskusi atau perdebatan aspek tersebut kemudian bisa diperdebatkan dan akhirnya kembali ke premis maha ampuh: ‘semua kembali ke diri masing-masing’. Tapi premis barusan membuat konjengtur saya menjadi benar karena masih ada kemungkinan untuk difalsifikasi bukan?

Terlepas dari aspek positivism logis tadi, saya ulangi bahwa tidak mungkin mencintai tanpa mengingini atau dalam bahasa yang lebih ngeksistensialis, tak mungkin berhasrat tanpa mengingini. Sartre mengatakan bahwa: “tidak mungkin kita menghasratkan wanita (sesuatu apa pun itu, wanita dalam konteks Sartre sebagai penulis-ed.) tanpa berada dalam hasrat tersebut” (Sartre, 2015: 16). Secara otomatis, berhasrat berarti meletakan kesadaran kita dibawah hasrat tersebut. Manusia karena itu adalah kaki tangan dari hasratya sendiri.

Hasrat, sebagai komponen tubuh merupakan salah satu gerbang dalam berkomunikasi dengan tubuh, tubuh kita. Ketika kita berhasrat, kita menutup kesadaran kita dan sebagai por-soi, perhatian kita akhirnya kembali ke tubuh kita sendiri. Hal tersebut yang disebut sebagai kontingensi kesadaran. Pemahaman mengenai hasrat adalah analog dengan pemahaman terhadap rasa lapar, ia adalah insting dan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Dan karena hasrat adalah produk tubuh, maka kita akan bicara dalam konteks yang sangat badaniah. Anda yang menganggap bahwa cinta itu cinta maha suci putih alih-alih merah membara bisa merenung sejenak dan melepaskan diri dari jebakan metafora.

Dalam prosesnya, hasrat yang bersemayam dalam tubuh memberikan ketenangan yang mendalam, sensasi yang sekali lagi, sama seperti rasa lapar apabila dikenyangkan. Sebagai insting (yang terjebak dalam peyorasi nafsu kebinatangan), hasrat mecoba berdialog dengan tubuh untuk membuka kesadaran bagi por-soi, kesadaran untuk memahami keberAdaan kita, Dassein.

Semisal kita tahu bahwa metode dalam mengetahui Ada bagi Heidegger adalah dengan terus mempertanyakannya (Balontia, 2015), maka metode hasrat ini cukup radikal. Metode hasrat adalah menggunakan media tubuh untuk mencapai persetubuhan. Mengapa persetubuhan?

Persetubuhan merupakan pengungkapan tubuh. Hasrat adalah dorongan bagi por-soi untuk menyadari Ada. Tubuh bertindak sebagai wahan sekaligus penghalang utama dalam memahami Ada. Dan memahami Ada ini merupakan keinginan yang paling utama bagi dassein. Hasrat dalam konteks eksistensialisme bukanlah nafsu kebinatangan karena dassein bisa mengakses Ada lewat berbagai cara dan inilah yang justru membedakan kita dengan binatang. Maka hasrat kita janganlah direduksi menjadi nafsu, ia merupakan jalan bagi por-soi untuk mengenyahkan realitas sekelilingnya agar bisa focus kepada dirinya; kepada tubuhnya.

Hasrat yang menagalir lewat tubuh  itu yang kemudian berubah menjadi polah-polah ketika berdekatan dengan orang yang kita taksir. Tubuh kita perlu menyingkap dan mengungkap. Ia mengungkap dengan menggunakan tubuh yang lainnya. Itulah sebabnya, kita butuh bersentuhan dengan orang lain gara tubuh kita mengungkap. Ketika kita bergenggaman tangan, kita tahu bahwa tangan kita ada disana dengan persentuhannya dengan tangan lain. Hasrat yang mendorong tubuh kita sehingga ia mengungkapkan dirinya sendiri.

Lalu apa bedanya dengan mengenggam stang sepeda? Bukankah kita juga merasakan tangan kita juga? Ya, namun dalam tahapan yang berbeda. Tubuh yang tidak bersentuhan dengan tubuh lainnya tidak akan masuk ke dalam kontingensi kesadaran karena focus kita adalah stangnya, bukan tangan kita. Lagipula itu hanya tangan saja yang berlaku, dalam menyingkap tubuh yang kita perlukan adalah tubuh sepenuhnya, bukan hanya sepotong-sepotong. Contoh paling udah adalah berpelukan. Dengan berpelukan, tubuh kita menyingkap lewat tubuh orang lain yang kita dekap. Biokimia kedokteran bisa saja mereduksinya menjadi semata-mata pelepasan endorphin atau serotonin atau dopamin. Namun dalam konteks hasrat, tubuh kita menyingkap.

Selain itu, proses penyingkapan berjalan secara resiprokal. Bahwa dekapan dan pelukan membuat tubuh yang lain juga menyingkap bagi por-soi nya. Dengan demikian, perlu dua tubuh yang saling menyingkap untuk satu sama lain. Maka tidak dapat penyingkapan tubuh dihasratkan kepada benda-benda.

Sedikit penghiburan, makna menginginkan dalam budaya populer senada dengan penempatan yurisdiksi atau otoritas pada orang yang kita cinta. Sok ngatur-ngatur, begitu bahasa kasarnya. Bukan begitu bagi seorang eksistensialis. Pada akhirnya, otoritas tubuh akan kita korbankan untuk mengakses Ada. Therefore, it’s alright semisal kita mencoba mengkonfigurasi tubuh pasangan kita dengan komplen ‘kamu kok gendutan, yang? Kurusin dong’, ‘rambutmu pendek jelek yah’, dan jargon yang saya yakin anda lebih fasih. Itu adalah upaya penyingkapan tubuh dalam rangka mendukung kontingensi kesadaran. Tubuh yang kita beri hasrat dan sesuai dengan apa yang kita mau membuat proses penyingkapan berjalan lebih mudah. Maka jangan sembarangan bilang kalau fisik itu ga penting. Hasrat dan seks adalah jalan menuju Ada dan manusia yang tidak mencoba mengaksesnya tak ubahnya dengan kardus bekas yang kehujanan, melapuk, lalu larut begitu saja. Miris.

Wacana Wisata

Senin 30 Mei lalu, saya kembali mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dengan teman-teman kalisuci mengenai kondisi terkini, saling tukar menukar kabar dan informasi. Kalisuci merupakan salah satu tempat bermain favorit saya (paling favorit mungkin). Sering saya mampir kesana untuk berbincang, gojekan sambil ngopa-ngopi, atau tengak-tenguk mbak-mbak ginak-ginuk sembari nyantai sore-sore. Tempat ini damai, indah, asri, dan sangat menyenangkan, begitu intinya. Tak pelak, kawasan ini dijadikan salah satu situs wisata.

Saitus wisata ini bukan sembarang situs wisata. Kalisuci bahkan masuk ke dalam salah satu jajaran geosite untuk mendukung kawasan Geopark Gunung Sewu. Tak heran, kekayaan fitur yang dimiliki kalisuci cukup banyak dan yang paling penting ia merupakan representasi keunikan kawasan karst yang paling kentara. Kalisuci asyik banget lah, kalau Anda ke Gunung Kidul sempatkan mampir. Selain keunikan fitur geologinya, hal yang buat saya menjadi sangat menarik adalah kondisi masyarakatnya. Secara pribadi, belum pernah saya menemukan pengelolaan situs semenarik ini. partisipasi masyarakat tinggi, pembatasan pengunjung ada hingga dukungan teknis dari sumber daya manusianya. Singkatnya, kalisuci sejauh ini buat saya adalah pola pengelolaan kawasan ekowisata yang ideal.

Namun kali ini bukan promosi ala jalan-jalan men atau situs wisata yang perlu saya tuliskan. Saya bukan blog traveler yang bermodal drone atau Go pro lantas selfie-selfie ganteng. Bukan, ada sesuatu di kalisuci yang sangat penting dan diatas keunikan fitur geologinya, hal tersebut menempati prioritas yang cukup untuk saya tuliskan ke dalam blog saya yang agak terbengkalai belakangan ini.

Ha tersebut adalah wacana pariwisata.

Namun sebelum masuk ke dalam substansinya saya perlu menjelaskan posisi saya ketika menulis ini. Sedikit curhat, dalam memandang suatu permasalahan yang ada di masyarakat saya lebih suka berlaku sebagai pengamat. Saya kurang suka berlindung di balik prinsip kebermanfaatan atau menunggangi suatu pergerakan. Ketika menemukan suatu permasalahan, saya lebih suka mendengarkan lalu utak atik gathuk dengan teori yang saya baca di buku-buku lalu selesai, saya bisa tidur. Masturbasi intelektual katanya, biar kelihatan keren saja kalau buat saya.

Oleh sebab itu saya mencoba anti propaganda di setiap polah saya. Meskipun demikian, saya suka gaya-gaya para orator, para mutiara dan katalis peradaban yang biasa diringkas dalam kelas mahasiswa dengan segala idealisme dan jargon intelektualnya. Karena saya merasa itu keren jadi pada beberapa produk pemikiran saya (blog ini salah satunya) warna tersebut pasti ada. Namun, saya tidak membutuhkan sertifikasi label apapun dari Anda, bagaimanapun Anda mencap saya itu urusan Anda. Demikian disclaimer ini saya buat dengan paksaan dari diri saya sendiri.

Mari masuk ke substansinya.

Pengelolaan kawasan karst merupakan suatu seni tersendiri. Tren terbaru pengelolaan lingkungan yang saya dalami berbasis kepada ekoregion yang berbasis pada bentanglahan yang berbasis kepada bentuklahan genesis sesuai klasifikasi Verstappen (1983). Dalam pendektana tersebut, kondisi lingkungan masa kini dilakukan dengan melihat proses terbentuknya (genesanya) sehingga dinamika masa kininya dapat dilihat. Prinsip kunci dalam memahaminya adalah: ‘present is the key to the past and the future’ mirip dengan propaganda RATM di lagu testify: ‘who control the past now control the future, who control the present now control the past’. Jadi, rule the present!

Singkat cerita, Soemarwotto (1997) menelurkan konsep menarik yang disebut tekanan penduduk. Pada kawasan karst, tekanan penduduknya tinggi karena, well, mereka pada dasarnya tidak punya pilihan banyak dan menuntut strategi adaptasi yang tinggi. Kok iso? Jelas bisa, kondisi lingkungan kawasan karst menyulitkan penduduk untuk melakukan intensifikasi atau ekstensifikasi pertanian apalagi mau dikembangkan menjadi sentra industri atau perkebunan. Kalau ketiga hal tersebut sudah tidak bisa laggi diharapkan, pariwisata harus dimajukan.

Pariwisata di Gunung Sewu punya potensi yang tidak main-main. Keunikan kawasan karst dengan segala ketebelecenya mampu memuaskan hasrat turis Indonesia kekinian yang menuntut identitas dan pembedaan sebagai condition sine qua non nya. ‘Gue harus kece! (tanpa perlu keluar duit banyak)’ dengan parameternya adalah jumlah like foto selfie mereka di instagram dan facebook sembari menunggu seruan: ‘anj*it bagus baget tuh! Mau juga dong kesana’ di comment fotonya, that’s life goals for them. Begitulah sebaiknya kita berhenti nyinyir kepada mereka karena mereka ini yang menggerakan roda perekonomian di kawasan yang begitu saya cintai itu.

Dan ketika terakhir saya berbincang dengan rekan-rekan kalisuci saya terpukul. Kalisuci terancam mati.

Ada isu pembangunan bendungan di hulu kalisuci yang ditengarai oleh pengelola akan mengganggu debit air di kalisuci. Karena kalisuci adalah wisata tubing, maka ketersediaan debit adalah keharusan. Debit yang cukup menjamin keasyikan wisatawan yang menelusuri gua ini dengan menunggangi ban sambil mengikuti arus. Kekhawatiran yang kemudian muncul adalah, semisal sungai suci yang menjadi atraksi utama wisata kalisuci dibendung, lantas bagaimana debit kalisuci? Secara teknis operasional, debitnya diperkirakan akan berkurang oleh oengelola kalisuci.

Teknis-operasional bisa kita singkirkan terlebih dahuul, bagi mereka yang punya usulan atau analisis fisik mengenai bagaimana dampak lingkungan apabila membendung sungai yang berubah menjadi Sungai Bawah Tanah bisa kontak saya pribadi lewat blog ini. Saya mau melihatnya dalam spectrum ide dan wacana sebagai kerangka utama blog ini.

Dalam tataran ide dan wacana, satu hal yang bisa kita lihat dari fenomena ini adalah adanya bentrokan antara da kepentingan yang ada di satu pemanfaatan sumberdaya. Ini perkara klasik dan sangat klise. Ada ribuan contoh kasus lain bagaimana pemanfaatan sumberdaya saling tumpang tindih dan menghasilkan centang pernenang bagi para pemangku kepentingannya. Ini merupakan konsekuensi prinsip open access terhadap sumberdaya alam. Ide masyarakat bahwa alam merupakan barang milik bersama sehingga tidak siapapun berhak memilikinya terkadang menjadi boomerang bagi diri mereka sendiri.

Namun boomerang yang ini berbeda. Ide “kepemilikan” dalam konteks sumberdaya alam merupakan suatu keanehan tersendiri. Dalam konteks Marxisme yang saya adaptasi, kepemilikan terhadap suatu sumberdaya adalah banyaknya akses yang dimiliki suatu pihak dalam menggunakan sumberdaya tersebut. Itu lah sebabnya, dalam memandang suatu open access, berlaku prinsip finder’s keeper (siapa yang menemukan dan menggunakannya terlebih dahulu, dia yang memilikinya. Konteks ini yang berkembang menjadi blockade dan barikade terhadap penggunaan dari pihak lain.

Itulah yang terjadi ketika pengelola sudah memanfaatkannya dan menggunakan sumber air dari sungai suci. Selain dari prinsip dulu-duluan, penggunaan sumber Sungai Suci juga berada dalam dimensi kebermanfaatan bahwa dengan adanya pariwisata di tempat tersebut, kegiatan perekonomian menjadi berputar sedemikian rupa. Sebagai suatu mode produksi, sumberdaya tersebut dimanfaatkan sesuai dengan ide pengelola, bermanfaat namun juga tidak menutup akses terhadap pemanfaatan dri pihak lain.

Namun open access yang terjadi membawa kita pada prinsip kedua: eksternalitas. Ketika suatu sumberdaya dimanfaatkan dua pihak atau lebih, dampak dari suatu pemanfaatan yang satu akan menganggu pemanfaatan yang lainnya. Dalam ekonomi sumberdaya, ini fenomena yang hampir bisa dipastikan terjadi dalam pengelolaan sumberdaya. Sedikit mensimplifikasi, yang kemudian perlu dilakukan adalah mengganti biaya kerugian yang diterima pihak lain apabila kegiatan yang setu mengganggu.

Begitulah prinsip ekonomi sumberdaya yang tengah berlangsung, namun hal lain yang perlu diperhatikan adalah ambruknya ide tentang pariwisata dalam kaitannya dengan konservasi kawasan karst. Dulu sekali, dalam suatu materi mengenai konservasi kawasan karst, Iqbal Wiliyanto menjelaskan bahwa untuk keluar dari tekanan penduduk yang dialami di kawasan karst, penduduk sebiknya menegakan prinsip pariwisata. Konsep tersebut saya amini sebagai salah satu wacana yang cukup kontekstual.

Konsekuensinya adalah dalam melindungi kawasan karst dari serbuan korporasi-korporasi ekstraktif yang dikatakan merusak seperti pabrik semen, kawasan karst harus dibuka sebegai destinasi wisata. Hal tersebut, apabila dilakukan secara partisipatif dan ‘merakyat’ dapat menghapus ilusi kekayaan dan kesejahteran yang ditawarkan oleh industri ekstraktif.

Ide tersebut diterapkan dengan sangat baik oleh masyarakat dan pemerintah Gunung Kidul. Tidak tanggung-tanggung, pariwisata Gunung Kidul dengan gua-guanya mampu menembus pasar internasional lewat Global Geopark Network. Penjaga kawasan Gunung Kidul langsung dari UNESCO. Sejenak, kita bisa bernafas lega bahwa korporasi ekstraktif belum akan merecoki kawasan ini. sejenak saja karena secara global kita aman.

Namun contoh kalisuci menunjukan bagaimana di skala mikro, kecolongan tumpang tindih pemanfaatan terjadi dengan cara yang tidak elok. Para regulator (kita katakan pemerintah) tidak menunjukan tajinya. Pers cukup baik membuka wacana ini ke ruang publik, lantas ditanggapi juga secara dingin oleh khalayak.

Tidak ada masalah memang bagi mereka yang sangat filosofis untuk tidak bertanya ‘lantas mengapa?’ dan masuk ke dalam siklus setan kausalitas. Namun, bagi yang memiliki ikatan batin, mereka yang mengambil manfaatnya secara ekonomis dan spiritual dari kegiatan kepariwisataan hal tersebut merupakan gangguan yang sangat berarti. Pariwisata kita memang digembar-gemborkan partisipatif, berbasis masyarakat, namun dari dinginnya khalayak menanggapi, sepinya pemberitaan mengenai permasalahan ini sedikit menyadarkan saya. Partisipasi kepariwisataan kita tidak melibatkan publik atau wisatawannya dalam menjaga tempat wisata tersebut. Sangat aneh, bahwa yang pernah dijelaskan dalam beberapa penelitian (Kane, 2002; Oltean, 2010) bahwa pariwisata seperti kalisuci yang mengedepankan unsur petualangan adalah wisata yang erat kaitannya dengan identitas. Wisata petualangan adalah wisata dimana dialog dengan diri kita yang lain, dengan ancaman dan bahaya terjadi. sayangnya, mereka lupa bermain ke dimensi itu. Sayang sekali.

Begitulah, akhirul kalam, ambruknya wacana pariwisata akan membuka domino effect dan kita akan kehilangan satu ide lagi untuk kawasan karst kita. Semoga ketakutan saya salah, tidak berdasar, dan tidak terjadi.

Domestik (ii): Tubuhku Otoritasku

Kembali melanjutkan bahasan tentang wanita sebelumnya. Ada suatu hal yang buat saya menjadi menarik. Sesuatu yang bukan Syahrini maksud. Hal yang cukup signifikan namun seringkali terlupakan: Tubuh.

Dalam hemat saya, salah satu keindahan yang dimiliki alam semesta adalah tubuh dan segala sensasi yang diberikannya. Sensasi tubuh berarti segala sesuatu yang dihasilkan oleh tubuh untuk kemudian menjadi sensasi. Apapun itu termasuk, suara, bentuk, imaji, asosiasi, hingga desah dan lenguh. Tubuh sekaligus menjadi moda reproduksi dan produksi di saat bersamaan. Dengan produksi ia bisa berupa komoditas atau tidak. Ini lah keajaiban tubuh yang berada inheren dengan keindahannya. Di saat bersamaan mendudukan tubuh menjadi perkara yang cukup sulit. Sebagai wahana rex cogitans, ia sangat sering terlupakan, tidak dianggap.

Padahal, tubuh memiliki representasi dan asosiasi tersendiri. Pada manusia, tubuh merupakan representasi id. Secara singkat dan mudah, saya menautkan id sebagai nafsu kebinatangan, yang biadab, dan penuh dosa. Definisi tersebut lebih mudah dan disukai masyarakat. Sementara dalam istilah yang lebih elok, tubuh saya anggap sebagai representasi sensasi. Tubuh hadir sebagai wahana kenikmatan, bersifat intuitif, spontan, tidak dibuat-buat, dan polos.

Bagaimana tubuh hadir sebagai wahana kenikmatan dapat dilihat pada lukiasan the Someil karya Gustave Coubert. Seni mengambil tubuh sebagai objek yang paling asyik. Berapa banyak seniman yang mengambil tubuh sebagai wahan keindahannya? Tak terhitung. Tubuh telah menjadi jalan seni dalam menyampaikan keindahan dan sebaliknya selama berabad-abad. Itu lah bagaimana tubuh menjadi inheren dengan keindahan dan estetika sebagai nafas utama seni.

Di luar seni sebagai keindahan; di sisi etika (bukan estetika), cara manusia menyikapi tubuhnya menjadi tolak ukur yang sangat menentukan kualitas manusia saat ini. Dengan merawatnya hingga cara berpakaiannya, manusia menunjukan keindahannya. Mereka yang piawai merawat tubuh yang akan menjadi kelas atas, terpandang, dan sudah pasti mendapat perhatian. Dalam konteks ini, perawatan terhadap tubuh dapat saya pandang sebagai suatu upaya perlawanan.

Bagaimana bisa? The body is the facticity. Ia given and not constructed. Pada awalnya, tubuh berada jauh dari kuasa manusia sebagai makhluk yang punya kemampuan untuk memilih dan mengkonstruksi. Oleh sebab ia tidak dapat dikonstruksi, jadilah tubuh hanya berada di level interpretasi. Sesuatu yang berada di level interpretasi tidak akan pernah menjadi kebenaran karena kemudian dibatasi selera dan asumsi-asumsi. Kebenaran berada di level konstruksi.

Meskipun demikian, sudah khitahnya manusia tidak pernah puas. Dalam mencapai kebenaran soal tubuh, mereka mengintervensi tubuh mereka. Tubuh menjadi sesuatu yang direkonstruksi (karena tidak dapat dikonstruksi), diintervensi, dan dimanipulasi sedemikian rupa. Apa tujuannya? Bisa kembali ke tujuan awal tubuh untuk memberikan sensasi dan mengangkatnya menjadi ambassador of people beauty atau memanipulasinya untuk membentuk masyarakat. Tujuan yang kedua menjadi hal yang perlu dibahas lebih lanjut.

Masyarakat merupakan manusia-manusia yang memerangi tubuh. Ia menjadi hakim dan juri lewat justifikasi moral sepihaknya: dimana bumi dipijak, disitu langit kujunjung. Masyarakat yang mendikte bagaimana individu harus menyikapi tubuh. Di satu sisi mereka mengkonstrukis tubuh secara das sollen; how it supposed to be dengan gempuran produk-produk kecantikan dan artis-artis yang ada di TV. Di sisi lain, masyarakat memasang pagar-pagar pembatas untuk tubuh lewat cara berpakaian; ada bagian-bagian dari tubuh yang harus diatur.

Penjelasan di atas saya pikir kemudian cukup untuk meberi gambaran bagaimana kemudian tubuh berada dalam suatu dualitas. Tubuh berdiri pada suatu kegamangan. Ia berusaha menampakan diri sebagai suatu kenikmatan namun harus disembunyikan sebagai tuntutan. Mirip dengan pola dialektis Freudian id-ego-superego. Tubuh sebagai id berbenturan dengan masyarakat sebagai superego untuk kemudian menjadi seolah-olah tubuh kita sendiri. Dalam kegamangan, tubuh berada dalam suatu ruang antara dimana setelahnya ia harus mengambil jalur kompromis-kritis atau ekstrem-frontal.

Dengan mengambil jalur kompromis kritis, maka tubuh menjadi wahana rekonstruksi masyarakat. Dengan mengambul ekstrem frontal, maka tubuh menjadi penyakit masyarakat. Namun, pada dasarnya, dilemma ruang antara, kegamangan tubuh tersebut tidak akan pernah berakhir. Saya berikan contoh, wanita yang berhijab namun ingin tampil cantik atau wanita yang memakai rok mini namun tidak suka kalau disuit-suitin tukang ojek pangkalan. Inilah dilemma tubuh. Tubuh hanya ingin menjadi tubuh, sebagai wahana sensasi namun dikekang masyarakat lewat tabu dan moral-moral picik.

Dalam Otoritas: Tubuh Wanita

Manusia lemah terhadap keindahan. Keindahan yang paling melemahkannya adalah keindahan tubuh. Tubuh menginterpretasi sensasi tubuh yang lain lewat nikmat dan syahwat. Dengan seksualitas menjadi puncak dari interaksi tubuh (makanya istilah seks merupakan persetubuhan, catat itu!). namun seksualitas menjadi musuh masyarakat yang sangat dibenci di sisi lain dan dipandang sangat jelek (makanya nafsu yang jelek nafsu badaniah, catat lagi itu!). mengeluarkan lagi trajektori pemikiran freud, relasi masyarakat yang selama ini kita lihat dan alami adalah rekonfigurasi seksualitas dalam mencapai orgasme.

Kalau kemudian di masyarakat muncul trio harta, tahta, wanita, itu menunjukan pada dasarnya tubuh telah berada dalam relasi kuasa sedari awalnya. Dalam dunia hewan, mereka yang berkuasa yang bisa mendapatkan tubuh betina yang dia inginkan, secara naluriah, hewan akan memilih tubuh wanitanya yang paling kuat, paling elok sebagai jaminan dari keturunannya. Dari motif tersebut, ia menjamin bahwa gennya akan menjadi sekuat dirinya. Tubuh wanitanya, betinanya adalah sarananya dalam menancapkan kekuasaannya.

Dari motif primordial tersebut, manusia menyikapi tubuh wanita. Tubuh wanita merupakan proses rekonstruksi masyarakat yang dapat dipandang sebagai upaya manusia meneruskan legitimasinya atas alam. Baik secara terang-terangan maupun terselubung, harus diakui bahwa pada dasarnya untuk tujuan tersebut, wanita harus kehilangan tubuhnya. Anekdot bahwa setelah melahirkan wanita akan menjadi gendut, jelek, keriput adalah suatu aformisme bahwa wanita rela mengorbankan tubuhnya demi keturunannya baik secara kecantikan maupun keselamatan.

Dan di titik ini wanita kehilangan otoritas terhadap tubuhnya.

Domestik

Selamat hari wanita internasional!

yang sayangnya benar-benar tidak dianggap di berbagai lini masa, kalah dengan fenomena gerhana matahari. Saya pikir di sini momentum bekerja, secara gerhana hanya 33 tahun sekali, tentu saja ia yang diberi prioritas. Frekuensi mengalahkan intensi dan urgensi. Berapa kali kita mengalah demi frekuensi di hidup ini? Cukup sering saya rasa.

Eniwei, memperingati soal wanita di blog ini, saya tidak mau menulis yang berat-berat. Feminisme pernah saya bedah cukup banyak di beberapa post beberapa bulan yang lalu. Hmmm, agaknya saya mulai sampai kepada writer’s block. Ada saat-saat dimana sebagai orang yang suka menulis, saya mulai kehabisan ide atau topik-topik. Which is good at one side, karena arah pemikiran saya cukup jelas kini namun sangat celaka di pihak lain karena berarti saya tengah sekarat.

Karena itu, saya beralih untuk coba menuliskan apa yang saya alami, empirik-fenomenologik. Nalar saya tengah lelah untuk diajak berpacu menciptakan diskursus atau wacana. Baiknya pragmatis saja lah!

Ini adalah kisah tentang Habiba, Kismey, Aziza, dam Manu.

Habiba berasal dari Kamerun, seorang muslimah taat. Ia dijodohkan oleh orang tuanya pada usia 17 tahun dengan seorang pria yang telah hidup dua kali lebih lama, yeps, 34 tahun. Habiba mencintainya. Ia tampan dan lucu menurut Habiba.

Kismey seorang pelacur dari Kamboja. Ia menjadi pelacur demi makanan dan uang. Anaknya yang kedua dijual oleh pacarnya seharga 300 dolar kepada seorang kaya. Sebagai pelacur, tak jarang Kimsey mengalami kekerasan fisik.

Aziza tinggal di Afganishtan. Ia mengungsi pada suatu malam ketika keluarganya mendengar satu ledakan. Ayahnya yang kembali untuk mengambil makan lalu ditangkap Taliban. Esoknya ayahnya dieksekusi mati dan Aziza baru tahu 3 hari kemudian.

Manu berasal dari Papua Nugini. Sangat polos dan baru berusia 19 tahun. Ia tengah mengandung anak pertamanya dan sangat senang karenanya. Ia tidak sabar untuk menjadi seorang ibu namun juga sangat nervous.

Keempat wanita itu merupakan fragmen wanita di dunia ketiga, tempat dimana segalanya tengah berkembang. Tayangan keempat wanita luar biasa itu saya saksikan di National Geoghrapic Channel tadi malam. Bukan yang pertama sebuah media menembak kepolosan manusia untuk dibagikan. Humans of New York melakukannya dan sangat menarik. Kemanusiaan pada bentuk kepolosan adalah kemanusiaan yang paling menyentuh. Sungguh, manusia menjadi buruk rupa karena kepicikan dan pemikirannya.

Saya berikan sedikit gambaran. Pernahkah Anda melihat seseorang tidur? Perhatikan lah manusia ketika ia tidur, ketika ia tidak punya pikiran atau pemikiran. Itu lah saat-saat dimana manusia berada dalam kondisinya yang paling polos. Semisal Anda bersilang pendapat begitu hebat dengan seseorang, cukup lah perhatikan orang tersebut ketika ia tidur, niscaya Anda akan luluh.

Kembali ke empat perempuan tadi. Gambaran mereka adalah gambaran wanita pada umumnya. Wanita yang terjerat dalam jebakan reproduksi. Permasalahan gender, jika saya boleh mensimplifikasinya terkurung kepada silang sengkarut, centang perenang produksi dan reproduksi.

Produksi seharusnya menjadi domain dari kaum pria, suatu kegiatan yang dihasilkan oleh kerja sebagai dialektika manusia dengan alamnya. Reproduksi seharusnya menjadi domain kaum wanita. Menjadi permasalahan ketika Wanita dipaksa atau memaksa masuk ke dalam domain produksi. Sejatinya, kesetaraan tidaklah bergerak di dimensi vertikal. Berbagai terminologi yang dipakai: mengangkat, menyetarakan bergerak di ranah vertikal. Emansipasi, buat saya, bergerak di ranah horizontal di pembagian fungsi dan tugas dalam suatu masyarakat.

Keempat wanita di atas masuk ke dalam jebakan produksi-reproduksi tadi. Dan dari keempat orang tersebut, saya paling suka kasus Kimsey: prostitusi. Prostitusi merupakan aspek di mana produksi dan reproduksi menjadi satu. Seks, sebagai moda utama reproduksi bertindihan dengan komersialisasi, pe’kerja’an sebagai moda produksi. Tumpang tindih tersebut, menjadikan prostitusi sebagai dilema yang tak berkesudahan. Apalagi ketika nanti kaum agamais, para pewaris surga itu masuk dengan kebenaran absolutnya.

Kimsey menunjukan pada kita ketika aspek produksi dan reproduksi saling tumpang tindih, hal tersebut akan menjadi begitu menyakitkan. Gambaran lain yang pernah saya temukan adalah di film ‘Siti’ besutan Eddie Cahyono. Siti dan Kimsey menunjukan bagaimana wanita sedemikian tangguhnya sehingga sanggup bermain di dua domain produksi dan reproduksi secara bersamaan. Ya cari duit, ya ngurus anak.

Semisal ditanyakan mengapa hal tersebut bisa terjadi? Saya pikir ini konsekuensi. Modernitas dengan sepupunya, kapitalisme menjadikan manusia sebagai objek produksi dan diukur oleh satu dan hanya satu: produktivitas. Manusia masa kini adalah manusia yang mau tidak mau harus terus berproduksi dengan berbagai modus operandi: kuliah tinggi untuk apa? produktivitas. Jaminan kesehatan untuk apa? produktivitas. Liburan untuk apa? produktivitas. Kita berada dalam lumpur produktivitas yang begitu pekat. Begitu lah hingga perempuan terseret masuk ke dalamnya. Sebagai manusia, wanita harus masuk ke dalam disiplin produksi. Demikian sehingga, perempuan-perempuan masuk ke dalam domain produksi dan meninggalkan rumah reproduktif mereka.

Siti dan Kimsey dan milyaran perempuan lain di dunia mengalaminya. Para perempuan tengah gamang berdiri di tepi jurang reproduksi dan produksi. Melompat masuk ke lembah produksi namun enggan meninggalkan tepi reproduksi.

Menjadi permasalahan bukan karena pemaksaan masuk ke domain produksi itu an sich. Permasalahan, menurut Jack Sparrow, adalah tergantung kita menjadikan permasalahn tersebut sebagai masalah. Masalah adalah konstruksi. Saya mencoba memberikan bayangan saja dan tidak mengatakan bahwa domestifikasi wanita itu menyelesaikan masalah. Bebas saja, saya seorang liberal kok.

Satu hal yang menjadi sikap saya adalah ketika wanita tidak diberi pilihan. Kebebasan manusia diukur dari ruang-ruang pilihan yang ia punya. Apa bila ia memang mampu memilih antara produksi dan reproduksi lantas memilih produksi atau bahkan keduanya, itu tidak menjadi masalah. Sayangnya, super-super struktur seperti masyarakat, agama, keluarga (termasuk orang tua) memberangus pilihan-pilihan tersebut. Perempuan dipadamkan pilihannya dan dipaksa menerima salah satunya, baik secara halus maupun kasar.

Bicara lain soal prostitusi? Besok saja deh.

scriptamanent

The Pretender

Pretending to be alright.

Adalah manusia, suatu entitas yang begitu rumitnya. Konsepsi manusia terhadap dirinya sendiri adlah dnamika yang penuh dengan pertentangan, mulai dari trialektika mind-body-soul dan ego-id-superego; dialektika rex cogitans-rex extensa, mind-matters, dan por-soi-en-soi. Tapi ringkasnya, dalam menjalani kehidupannya, manusia pada dasarnya hanya berkutat pada the das sein dan das sollen; what we are dan what we supposed to be.

Jelas lah bahwa di tengah arus kapitalistik seperti ini, manusia dirampok habis otentitasnya. Dalam praktiknya, manusia diletakkan dalam satuan-satuan tertentu agar kemudian dapat diukur, dikuantitasi, dimaterialkan. Tujuannya satu dan hanya satu: produktivitas. Ini lah profil utama manusia kapitalistik yakni manusia yang produktif, yang persisten, yang mampu bekerja di bawah tekanan. Demi itu manusia dilarang tunduk pada hal-hal di luar mekanisme. Makna dimatikan dan dienyahkan oleh kebenaran. Tapi siapa yang bisa menghakimi kebenaran? Adakah air mata yang menetes kala melihat orang tua kita bercerai itu benar? Adakah rasa bahagia ketika bergandengan tangan melihat langit senja bersama kekasih itu benar?

Mungkin Kant bisa membaginya kedalam 12 kategori-kategori Kantian, mungkin fenomenologi bisa mengatakan bahwa fenomena lah yang sebenar-benarnya, mungkin Marxisme mengatakan perjuangan kelas lah yang sebenar-benarnya, atau spirit, geist yang menjadi sebenar-benarnya, atau tolok ukur kitab suci yang dijadikan kebenaran. Bagi saya, semua hanya menyajikan kebenaran lewat untuk dirinya masing-masing. Pada akhirnya, kebenaran berdiri di luar itu semua. Ia mengatasi seluruh metode dan jalan pemikiran.

Tapi tunggu dulu, bukannya kita bicara makna? Ah iya, saya lupa ya.

Humans are renegades of truth. Kita adalah buronan kebenaran. Bagaimana tidak, berada dalam kebenaran berarti berada di dalam penjara. Hanya itu-itu saja yang kita lihat, ruangan putih dengan batasan-batasan yang dikonstruksi oleh dunia sosial. Dikte-dikte bahwa kita harus begini harus begitu tak boleh begini dan tak boleh begitu.

Lalu selayaknya buronan, maka kita perlu menyamar. Kita menyiapkan begitu banyak topeng dan identitas untuk menutupi diri kita yang sebenarnya. Begitu ketahuan diri kita yang sebenarnya, dalam sekejap orang-orang mengirim kembali ke dalam penjara kebenaran tadi. Caranya macam-macam, lewat nasihat, motivasi, semangat semu, kutipan kitab suci, pseudo-science dan so on dan so on.

Sayangnya, mereka tulus. Sekeliling kita tulus ingin membantu kita namun percaya lah yang manusia lakukan pada dasarnya hanya lah mengenyahkan apa yang terlihat bukan menghilangkan secara an sich. Artinya, ketika mereka memberi nasihat dan sebagai-bagainya itu yang mereka inginkan hanyalah agar kita sekedar tidak terlihat sedih, bukannya tidak sedih sebagai contoh. Kesedihan, galau, dan melankoli kita adalah hal yang sistemik, ia ada sebagai konsekuensi sistem sehingga tidak mungkin dilenyapkan; hanya timbul tenggelam.

Dan masyarakat adalah kekuatan paling dahsyat untuk melakukan represi-represi tersebut. Namun, pada dasarnya, mereka tidak bisa menghilangkan makna, kekalutan, dan keresahan tersebut. Bagaimana bisa, lha wong mereka penyebabnya kok. Meminta tolong kepada masyarakat bagaikan memohon pada seorang pembunuh berdarah dingin untuk tidak menusuk kalian dari depan namun diganti racun saja. Kita akan tetap mati karenanya dan olehnya, namun secara perlahan-lahan. Dan ketika saya maksud masyarakat, itu termasuk orang tua, sahabat terbaik, tokoh agama, kekasih, musisi idola, hingga Tuhanmu yang dibikin-bikin sama tokoh agamamu itu.

Oh, termasuk dirimu sendiri, kamu kan juga konstruksi masyarakat, kawan.

Intinya, we’re helpless. Tunggu saja kematian sembari terus berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja. Segala argumentasimu terhadap data statistika, keindahan, hingga “nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan” itu hanya sebatas fenomena semata, apa yang terlihat, konstruksimu yang karenanya, semu semata. Sebab apa yang menjadi kebenaran bagi kita adalah apa yang kita berikan sebagai dusta pada yang lain. Pretending is the ultimate reality.

scriptamanent

 

larik (xxii): yang tak tersampaikan oleh noda kepada rasa

Rasa, mengapa kamu tidak mati jua?

Sungguhkah kamu cinta?

Atau hanya tipuan luka semata?

Aku tak kan berhenti mengajukan tanya

Sebab manusia dikutuk untuk menikmati luka

Menjilati bilur-bilur dengan perih yang merata tertabur

(*)

Mereka mencintaiku!

Tulikah engkau? Butakah matamu sudah?

Hentikanlah segala ini dan matilah

Lantas biarkan aku yang mengisi segala yang kau tinggalkan.

Rajasthan

Mati gaya. Alasan ini yang kemudian paling bisa saya eksploitir supaya kembali menjadikan blog ini catatan random.

As a matter of fact, saya sedang malas sekali untuk menulis namun kok rasanya sayang kalau saya melewatkan sendunya malam ini kalau ga ngisi blog ini. Berhubung udah lama juga ga ngisi blog ini pake sampah tulisan semacam ini, well, here we go (wow, rasanya saya mulai kehilangan jati diri saya ketika mulai memikirkan apa yang bakalan orang lain katakan soal tulisan-tulisan di blog ini, dasar sok penting!)

Let’s start!

Hari-hari di Jakarta berarti hari-hari tak produktif. Tak produktif sebab saya selalu berdiri gamang di antara laju kehidupan ibukota ini yang maha cepat dan ritme pemikiran saya yang maha lambat. Hasilnya: ga jadi apa-apa. Salah deng, hasilnya saya jadi bingung mesti berbuat apa atau bagaimana menghadapi situasi semacam ini.

Tapi kemudian ada penyelamat yang masuk ke babak ini: National Geographic Channel dan BBC Earth.

BBC saya anggap menjadi suatu kanal broadcast dengan konten paling bermutu di seluruh planet, Bloody England! Mereka selalu bisa membuat suatu tayangan menjadi bloody awesome! Katakan lah berhasil membuat permodelan untuk mengeringkan Segitiga Bermuda, membuat tampilan pengelihatan ekolokasi kelelawar sehingga kita tahu bagaimana kelelawar bisa “melihat” dengan supersonik, membuat tayangan burung yang menyuapi anak-anaknya yang baru menetas lebih seru dibanding seluruh episode FTV disatupadukan, dan membuat saya nyaris menangis (sacara harafiah) menyaksikan adegan pelepasan 3 ekor orang utan ke habitat aslinya: Leonora, Emen, dan Menteng.

Dan satu tayangan yang ingin saya ceritakan adalah pada dokumenter People of the Moonson, salah satu episode yang menceritakan tentang kawasan yang terkena dampak cuaca Moonson. Konsep yang sangat sederhana namun hasilnya menjadi sangat luar biasa.

Satu fragmennya menceritakan kehidupan orang-orang Hindu Bishnoi di kawasan Gurun Thar, Rajasthan.

Saya yakin Anda pernah mendengar kisah asal muasal orang-orang Bishnoi ini, kisah ‘Tale of the Grove’. Belum? Baiklah

Kisah awal mula orang-orang Bishnoi dimulai kita kaisar Jhodpur ingin membangun sebuah kastil dan yeps, dia butuh kayu. Kaisar Jhodpur kemudian mencari kayu di kawasan yang kini menjadi tempat tinggal orang-orang Bishnoi ini. Namun seorang wanita yang bernama Amrita Devi mencoba mencegah orang-orang kaisar menebang pohon tersebut. Akhir dari cerita ini jelas: Tidak, Amrita Devi tidak lantas jatuh cinta dengan salah seorang suruhan kaisar dan menikah lalu masuk FTV, tidak seperti itu. Akhirnya Amrita meregang nyawa karena dibabat oleh orang suruhan kaisar bak semak belukar. Melihat Amrita tewas, masyarakat marah dan mengikuti aksi Amrita.

Hari itu, 363 orang Bisnoi meregang nyawa. Darahnya membanjir hingga konon, daerah tersebut tidak lagi ditumbuhi rumput.

Happy endingnya, kaisar tersentuh dengan apa yang dilakukan masyarakat Bishnoi dan mengeluarkan dekrit untuk melindungi seluruh pohon di kawasan tersebut.

Hingga kini, Bishnoi menjadi orang-orang yang memelihara kesatuan dengan seluruh makhluk hidup. Mereka menganggap seluruh makhluk hidup suci adanya. Bishnoi tak segan berbagi hasil panen dengan burung-burung liar di kawasan tersebut. Mereka percaa ada roh atau spirit dalam setiap bentuk kehidupan.

Saya tersentuh.

Bayangkan kalian para aktivis melakukan apa yang dilakuan Amrita untuk menjaga kawasan kalian. Memeluk pohon untuk kemudian ikut terbabat oleh gergaji mesin atau buldoser. Jangan kawan, jangan demikian.

Well, intinya adalah saya menjadi bertanya-tanya mengapa saya tidak menganut kepercayaan spiritual semacam tadi? Apa yang salah dengan animisme-dinamisme sehingga kita berpusing-pusing mengukur alam ini mulai dari biomasa hingga nilai jasa ekologisnya? Mengapa kita tidak meyakini bahwa setiap entitas adalah ruh yang sama sebab kita berasal dari luahan yang sama, the Divine Being?

Mengapa meletakan Tuhan sebagai pencipta alih-alih sebagai sesama? Lantas kita menjadikan Tuhan sang pencipta sebagai konsep utama dan menjajah mereka yang menganut ajaran spiritual.

Ngawur toh koe le, ga nyambung blas tulisanmu iki.

Ben, karepku

Bishnoi dan puluhan juta manusia di tanah muson memuja elemen-elemen alam dan kita yang berTuhan satu yang mahakuasa tak jarang mencapnya sebagai ateis dan harus, ehem, dipertobatkan. Lalu kita mengkotbahi mereka soal menjaga alam.

Persetan dengan kita.

Akhirul kalam, cerita tentang Gurun Thar membawa saya kepada satu destinasi yang mengganggu saya sebulan belakangan ini. Menjadi semacam distorsi dan letupan obsesi: Karakoram; Gilgit-Baltistan.

Sesudah menikah saya ajak istri saya kesana ah.

Tabik, selamat malam.

The Written God

Tuhan kita adalah Tuhan yang menyejarah. Ia bergerak dalam suatu dimensi waktu dan periode dan tertulis pada suatu jurnal. Jurnal, catatan tersebut bisa jadi ditulis sendiri olehNya atau oleh manusia yang memiliki relasi denganNya. Sejarah Tuhan, adalah sejarah panjang selama beribu-ribu tahun dan telah ditulis dengan luar biasa oleh Karen Armstrong dengan judul demikian: ‘Sejarah Tuhan”.

Melihat sejarah Tuhan melupakan suatu hal yang sangat menarik. Tuhan menemani manusia selama berabad-abad lamanya. Ia menciptakan, lalu direproduksi dan diciptakan kembali oleh kesadaran untuk kemudian berinteraksi dengan ciptanNya kembali. Dalam narasi tersebut berbagai hal meliputi aspek-aspek vertical mengenai relasi makhluk dan khalik hingga relasi antara makhluk-makhluk didefinisikan dan diregulasi. Tak heran, catatan atau kitab tersebut menjadi begitu sacral.

Catatan atau tulisan merupakan bentuk eksistensi sesuatu dalam sejarah. Sumber-sumber tertulis menjadi sumber pengetahuan yang valid dan sarat dengan kebenaran. Sesuatu yang ditulis adalah sesuatu yang benar-benar ada dan terjadi. dengan maksud dari benar-benar ada adalah berada dalam jangkauan inderawi dan dapat dinalar atau secara empiris dan rasional bisa dipertanggungjawabkan. Setidaknya begitulah hingga era modern ketika Tuhan berlibur dan berhenti memberikan wahyu atau menciptakan agama baru.

Dalam sejarahnya, secara singkat dalam dua paragraph ini akan saya ceritakan, Tuhan telah melalui petualangan yang jujur saja, tidak seru. Tuhan selalu menjadi pemenang dan mengatasi segala-galanya. Mengapa demikian? Tentu saja karena ia maha kuasa (terkadang mengajukan pertanyaan retoris malah terkesan menyindir) atau karena hanya kebetulan ketika para kaum teis yang menang sehingga dimasukan dalam narasi sehingga hanya Tuhan dan pengikutnya yang menang terus. Sejarah, bagaimanapun, adalah milik para penguasa.

Sulit rasanya menjabarkan proses awal mula kehadiran Tuhan. However, creator is keeper. Siapa yang menciptakan, dia yang memiliki, jadi kalau saya bilang Tuhan yang menciptakan manusia nanti diserang kaum sebelah kiri tapi kalau bilang manusia yang menciptakan Tuhan nanti diserang kaum kanan, duh, pusing pala Barbie. Maka dari itu cukup saya katakana awal interaksi –bukan proses cipta-mencipta- Tuhan adalah proses natural. Tuhan hadir sebagai sosok yang imanen karena ia dihayati sebagai elemen-elemen alam. Ini adalah point yang cukup penting sebab kehadiran Tuhan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari dalam interaksi manusia dengan alamnya; interaksi primodial. Oleh sebab itu, Tuhan hadir dalam banyak wujud atau yang disebut sebagai politeistik. Ada Tuhan api, Tuhan air, Tuhan angin, Tuhan halilintar, dan seterusnya dan seterusnya. Mau barat atau timur sama saja, di Yunani, konsep elemen dasar alam mengatasi konsep atom milik Demokritus sehingga bisa dilihat inilah penghayatan Tuhan pada kondisi awalnya.

Kondisi berubah ketika Tuhan kemudian mengadakan dialog aktif dengan umatNya. Adalah nabi-nabi kita yang kemudian berdialog aktif dengan Tuhan. Disini, Tuhan hadir secara sangat personal dan menggunakan manusia-manusia terpilih untuk menjadi proksinya. Posisi Tuhan, alih-alih mewakili elemen alam berubah menjadi diatas elemen-elemen alam tersebut. Ia menjadi sang pencipta yang omnipoten. Tuhan merupakan pencipta elemen alam dan berada di luar elemen-elemen alam tersebut. Karena ia berada diatas itu semua, maka ia tak terikat pada keduniawian. Tuhan menggeser dirinya menjadi sangat jauh dan transenden. Karena itu ia menjadi satu saja atau dikenal dengan konsep monoteis. Peran nabi-nabi sebagai perantara wahyu semakin kentara apalagi mereka yang masuk ke dalam jajaran tokoh-tokoh kitab suci.

Tuhan yang berdialog kemudian memberikan manusia satu kesempatan: kebebasan. Manusia bisa bebas, bisa ragu dalam menjalankan perintah Tuhannya sebab inilah pangkalnya: Tuhan menjadi terpisah dari manusia. Nabi Yunus kabur dan dimakan ikan, Yesus kalut dan galau ketika berdoa di taman getsemani, dan berbagai contoh lainnya. Kebebasan merupakan implikasi dari dari relasi teranyar ini. sehingga jika kemudian Tuhan dikritisi, itu bukan hal yang aneh saya pikir, Tuhan saja memberi ruang dialog dengan manusia, lha ini manusia malah menutup diri dari dialog.

Begitulah kira-kira, catatan-catatan dialogis tersebut kemudian dibukukan dalam kitab suci sebagai sumber tertulis.

(*)

Kitab suci, terutama bagi agama-agama abrahaministik, sebagai wahyu merupakan sumber keimanan yang nomor wahid. Kalau di istilah akademik, referensi utama. Begitulah sampai kemudian kitab suci disakralkan dan banyak terbelit dengan kehidupan fana ini.

Maksudnya? Seringkali, terlalu sering banyak perkara kehidupan yang jawaban praktisnya coba dicari di kitab suci. Ini yang bikin saya sering jengkel. Bahkan tak jarang, di forum-forum akademis seperti di kelas waktu kuliah , kitab suci dijadikan referensi. Kitab suci, sebagai catatan tertulis tentang Tuhan adalah representasi dari wahyu, sempurna dan tidak objektif artinya tidak terbuka terhadap penyangkalan intersubjektif. Sifat komunikasi tertulis adalah tidak emosional dan nirpretensi sebab minim keseleo lidah sebagai gejala alam bawah sadar menurut Freud dan Lacan. Sebab itu, kitab suci ajeg dan statis dan sangat cocok untuk dijadikan referensi.

Namun, karena ia mengandung catatan Tuhan, penghayatan terhadap sumber-sumber tertulis tersebut adalah penghayatan nirfana. Kitab suci menyimpan misteri yang dibungkus dengan rona estetis yang luar biasa kuat. Secara implisit, kitab suci menggambarkan kekuatan Tuhan yang maha kuasa dan maha besar. Terlebih lagi di agama-agama abrahamistik, sebagai notulensi dialog antara Tuhan dengan nabi-nabiNya, maka kitab suci memuat substansi yang sangat misterius dan berkenaan dengan hubungan vertical antara manusia dengan Tuhannya.

Kitab suci, bukanlah panduan praktis kehidupan. Enak dong manusia kalau begitu, tidak perlu berpikir tinggal menjalani. Kalau ada permasalahan A tinggal cari di kitab suci, ada permasalahan B, ada di kitab suci. Bahwa ia suci, betul, bahwa ia sacral, iya, tapi sekali lagi, kitab suci bukanlah petunjuk teknis kehidupan.

Dan mengenai pemikiran kritis, ada yang juga mengatakan, ah itu kan diberikan setan ketika manusia memakan buah pengetahuan sehingga pengetahuan malah menjauhkan manusia dari Tuhannya. Itu merupakan pemberian iblis, sehingga menggunakannya hanya menjauhkan Tuhan dari kehidupan. Ya, memang demikian. Penyatuan manusia dengan Tuhannya, manunggaling kawula gusti memang tidak dapat dicapai lewat jalan-jalan kritis dan pengetahuan. Oh sudah, nanti dulu bicara soal konflik ini, pembongkaran mistifikasi agama dengan epistemologi pengetahuan memang aneh dan jarang menemukan titik temu, belum menjadi kapasitas saya untuk menuliskannya.

Apa yang kemudian menjadi fokus di tulisan ini adalah adagium saya bahwa: ‘kitab suci bukanlah panduan praktis kehidupan’. Manusia saya yakini, memiliki kemampuan kritisnya oleh suatu sebab. Bagaimana relasi kitab suci dan penerapannya di dalam kehidupan yang menurut saya paling masuk akal adalah apa yang dikatakan Thomas Aquinas: ‘Gratia supponit naturam’. Gratia suppoint naturam kira-kira berarti ‘rahmat mebgandaikan kodrat’. Menurut Romo Magnis-Suseno, ketika Tuhan mendekati manusia, maka ia mendekatinya dengan menggunakan kodrat manusia sebagai makhluk yang serba terbatas. Sehingga, manusia merasa takut, merasa, ragu, hingga bebas memilih sebagai salah satu kodrat yang diberikan Tuhan kepadanya (terserah juga kalau Anda berpendapat bahwa ketakutan, daya kritis, dan kebebasan itu karunia iblis).

Dengan demikian, ketika berhadapan dengan fenomena dan dunia ini, kodrat manusia sebagai makhluk berakal budi menjadi yang pertama digunakan. Jawaban-jawaban praktis mengenai dunia ini harus diusahakan oleh manusia. Pertanyaan dan permasalahan kimia jangan dicari di kitab suci. Ketika Anda memaksa mencarinya yang terjadi bukanlah solusi melainkan pembenaran atau dalam bahasa media sosialnya, cocoklogi. Pembenaran sangatlah berbahaya dan terjadi ketika manusia bermain Tuhan. Bermain Tuhan itu menyenangkan karena berhubungan dengan kekuasaan yang tidak terbatas sehingga memabukan.

Sekuler bukan? Tidak boleh mencari jawaban sehari-hari pada agama. Padahal salah satu proyek agama sebagai salah satu bentuk institusi adalah menjadi kebenaran tunggal. Tapi bagi Anda yang beragama abrahaministik (Kristen, islam, yahudi) lalu menolak sekulerisasi saya rasa aneh. Tuhan Anda yang sangat jauh itu memang tidak terjangkau bukan? Tapi toh kita juga lantas merepresi kaum sufi ketika ada mereka mencoba bersatu dengan Tuhan mereka lewat cara-cara yang tidak ‘ilmiah’ menurut agama. Dianggap syirik, musyrik, menyekutukan Tuhan, dan sebagai-bagainya.

Tuhan yang dituliskan, beserta seluruh wahyunya adalah misteri yang sangat indah dan sangat sulit dijangkau lewat penalaran. Tuhan merupakan entitas yang dihayati bukan dipahami. Masalah-masalah praktis seperti putus dengan pacar, galau, dipecat, bertengkar dengan orang tua jangan lah dicari di kitab suci. Tuhan tidak menurunkan wahyunya buat perkara remeh-temeh semacam itu. Proyek Tuhan adalah keselamatan seluruh umat manusia ketika di akhir nanti. Semetara kita yang masih bisa berjuang sendiri, gunakanlah semua daya dan upaya kita: Sapere Aude!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.