scriptamanent

"verba volant, scripta manent"

Silence of Science

Saya merasa bahwa kini seluruh elemen kehidupan semakin terfragmentasi. Mereka terpecah belah, saling tercerabut, terputus, dan mengosongkan. Celakanya, elemen-elemen tersebut kemudian terjeblos ke dalam nuansa kompetisi yang jelas saja saling mencurigai dan tidak saling mempercayai. Dan apa yang tengah menjadi perhatian saya beberapa hari belakang ini adalah mengenai tercerabutnya ilmu pengetahuan dari kehidupan praksis manusia.

Fokus saya tersebut bukan muncul dari ruang kosong. 2 hari yang lalu, ketika tengah menyelesaikan sebuah tulisan, saya mendapatkan topic menarik mengenai bagaimana ilmu lingkungan (dan ekologi) tidak lagi dapat dilepaskan dari konteks politik. Bicara ekologi, maka kita bicara soal politik. Adalah Tim Forsyth yang menelurkan paradigma demikian. Di tengah semakin kompleksnya permasalahan lingkungan, maka ekologi dan ilmu lingkungan tidak cukup hanya bermain di zona amannya.

Zona aman tersebut adalah kungkungan normative-protokoler. Dalam contoh ilmu lingkungan, praksis utamanya adalah konservasi. Dan lucunya, praksis konservasi tersebut mulai melantur ke kanan ke kiri dan semakin menjauh dari praksis itu sendiri. Konservasi, kini hanya semata-mata menjadi jargon dan simbol semata.

Akibatnya adalah struktur praksis tersebut menjadi acak adul. Konservasi tidak lagi menjadi praksis-epistemologi yang berujung kepada emansipasi, melainkan malah menjadi tujuan. Untuk mencapai tujuan konservasi, maka praksisnya kini hanya berkisar di retorika reboisasi dan penanaman kembali. Hoaaaam, saya bukannya tidak sepakat, namun di tengah kemelut permasalahn lingkungan yang begitu mbulet  ini, upaya reboisasi dan penanaman kembali atau seluruh jargon konservasi yang ada di jalanan terasa tidak nyata dan hanya basa-basi belaka. Yang diperlukan untuk itu adalah pendobrakan.

Dan saya percaya bahwa pendobrakan, revolusi dalam praksis sehari-hari dimulai dari revolusi dalam sains. Kita melihat di abad ke 15 bagaimana sains mengobrak-abrik tatanan teokratis dan hegemoni institusi agama. Kita melihat lagi di abad 18 sains kembali menunjukan supremasinya dengan menjungkirbalik tatanan masyarakat lewat revolusi industri. Dan di abad 21 ketika fisika kuantum menancapkan relativisme, at its finest.

Untuk itu, dalam menghadapi permasalahan lingkungan, ilmu lingkungan harus melakukan revolusi dalam tubuhnya sendiri secara terus menerus. Ia harus berlari sekencang inovasi dan seluwes maneuver kapitalisme jika masih mau menjadi mercusuar bagi permasalahan lingkungan yang ada.

Bersediakah kita?

Saat ini, para akademisi sibuk berdebat entah apa. Mahasiswa juga tidak jelas arah pergerakannya. Mahasiswa sering mangkir kalau kuliah, unit kegiatan mahasiswa tidak laku, research week tak ada peminat, pameran buku tak meledak (ramainya kalau pas di job fair aja). Dan di tengah arus kapitalisme-neoliberalisme yang menjadi terdakwa utama dalam kasus kejahatan lingkungan, para akademisi ini bak orang bingung; tertatih-tatih menjelaskan kondisi.

Anehnya, keadaan tersebut disadari betul namun tidak ada upaya nyata untuk mengantisipasinya. Akademisi begitu nyaman berlindung dalam kidung moralitas bebas-nilainya. Bahwa sains tidak butuh intensi dari peneliti. Netralitas adalah solusi untuk mencapai kebenaran absolut. Selama sains dan saintis bungkam, selama itu dunia hanya jadi bulan-bulanan. Knowledge is power.

Dan sungguh menyiksa untuk hanya membaca berbagai kasus ketidakadilan lingkungan dan berbagai teori yang menjelaskannya secara berbunga-bunga di balik dinding rumah yang aman dan nyaman.

scriptammanent

Ranah

Malam ini ada satu pertanyaan atau perumusan masalah yang tetiba menyeruak. Pertanyaan tersebut adalah ‘siapa yang paling punya kepentingan atas diri saya?’. Mengesankan bukan?

Bahwa saya meyakini tidak ada yang berasal dari ruang hampa, maka permasalahan tersebut barang tentu ada pemicunya. Ya, salah satu pemicunya adalah upaya saya dalam memahami pendekatan Bourdieu. Pemikirannya, untuk saat ini, saya anggap yang aling mengesankan karena ia dapat mempertemukan dan menegosiasikan dua pendekatan yang penuh kemelut: voluntarisme-eksistensialisme dan strukturalisme.

Kedua paham tersebut berada pada kutub yang antagonis dan saling memberikan keberatan satu sama lain. Di satu sisi, makhluk manusia dianggap sebagai produk kebebasannya, segala motivasi, preferensi, dan perilaku manusia adalah hasil pemikirannya sendiri. Di sisi lain, makhluk makhluk manusia dianggap sebagai produk-produk struktur masyarakat dan makhluk manusia lain di sekelilingnya. Perdebatan ini begitu fundametal dan mengakar. Dan, puf! datanglah Bourdieu dengan konsep mahaeloknya: habitus.

Namun, sama seperti konsep eksistensiaisme Heidegger, konsep ini sulit dipahami. Untuk itu, daripada saya menceritakan konsep yang tidak-tidak, maka saya ambil pemikiran Bourdieu yang relatif lebih sederhana: konsep arena.

Terminologinya berbeda-bede, bisa arena atau ranah atau field, tergantung buku mana dan siapa yang menterjemahkannya. Namun dalam tulisan saya, saya lebih suka menggunakan kata arena karena terkesan lebih jantan. Arena adalah konsep yang cukup penting karena dalam arena, seperti arena yang sebenarya, terjadi kontestasi.

Siapa yang berkontestasi? Para aktor dan pemangku kepentingan. Apa yang dikontestasikan? Kapital. Di dalam suatu arena, terdapat aktor-aktor yang menginvestasikan kapitalnya untuk memperebutkan kapital lainnya. Oh, sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami bahwa konsep kapital Bourdieu berbeda dengan kapital dalam pemahaman Marx. Dalam terminologi Bourdieu, kapital terdiri atas beberapa jenis: sosial, kultural, ekonomik, dan simbolik.

Para aktor di dalam arena tertentu kemudian saling berlomba menginvestigasikan kapital tersebut untuk mendapatkan kapital yang lebih besar atau mengubah satu jenis kapital dengan kapital lainnya. Katakan lah, dalam arena pendidikan, kita menukarkan kapital ekonomik kita berupa uang untuk menjadi gelar sarjana yang menjadi kapital sosial atau kapital kultural kita. Atau katakan lah dalam arena jalanan, seorang preman menggunakan kapital sosialnya untuk memalak dan menjadi kapital ekonomik berupa uang. Begitu lah kira-kira.

Menjadi menarik ketika kita memandang diri kita atau setiap makhluk manusia adalah masing-masing arena.

Saya, Anda, dan 7 milyar manusia lain merupakan arena tempat aktor-aktor meletakan investasi dan memanen investasi. Sebagai arena kita menjadi tempat pertarungan berbagai pihak. Sebagai contoh: orang tua, pemuka agama, dosen, pacar, istri, hingga peer group. Masing-masing punya kepentingan di dalam diri kita. Apa itu kepentingannya? Setiap kapital yang ditanamkan dan kapital yang akan mereka tuai.

Dalam kondisi riil, yang paling banyak berinvestasi dalam diri kita adalah orang tua kita. Beberapa mungkin merasakan Tuhan yang berinvestasi paling banyak. Well, intinya, mereka yang menyediakan basis atau infrastruktur bagi hidup kita adalah mereka yang paling punya kepentingan disini. Saya sebut punya kepentingan karena selain mereka harus menuai investasi kapital mereka, mereka juga penting dalam artian krusial dan esensial. Hasil dari kepentingan tersebut adalah relasi kuasa yang tarik ulur dan saling bernegosiasi dalam kehidupan kita sebagai arena.

Maka sebenarnya mudah saja memahami arah kehidupan kita bagi Anda yang tengah limbung diterpa quarter life crisis misalnya. Petakan lah aktor-aktor apa saja yang ada di hidup kita, lalu inventarisasi persepsi dan fantasi mereka terhadap diri kita, itu penggunaan struktur. Tapi jangan lupakan, inventarisasi juga persepsi dan fantasi kita terhadap para pemangku kepentingan itu. Cari irisannya, lalu melenggang lah dengan anggun. Tambahkan sedikit bumbu pragmatisme dan voila!

Udah ah, saya mengantuk.

scriptammanent

Death | Religion

Ada hantu yang tengah membayangi eksistensi manusia, hantu kematian.

Kesadaran akan kematian merupakan kesadaran yang menurut saya paling luar biasa manusia. Setelah kesadaran simbolik dan etika, saya pikir, pemahaman mengenai kematian adalah hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya di bawah matahari ini. Dalam kematian, manusia menemukan makna, dalam kematian, manusia mendapatkan otentitasnya. Tak ayal, diskusi tentang kematian selama berabad-abad terus merecoki manusia dengan segala misterinya.

Kematian itu sendiri lebih misterius dibanding keberadaan Tuhan maupun masa lalu. Kita tahu bagaimana semangat filsafat spekulatif pada pertengahan abad 17 sampai abad 18 berhasil untuk beberapa lama mengungkap makna-makna pelampauan (beyond). Para leluhur kita itu bisa membongkar bagaimana realitas bekerja, bagaimana kesadaran manusia bisa ada, hingga pemahaman tentang tuhan yang dibawa pada aras-aras yang berbeda dari sebelumnya. Namun soal kematian? Tidak ada satupun filsuf atau pemikir atau ilmuwan yang sanggup menjelaskannya sesuai dengan kaidah-kaidah metodologis.

Karena kematian tidak dapat dipahami, maka kematian kemudian hanya diapresiasi. Kematian menjadi narasi-narasi anekdotal yang bersifat kedongengan dengan estetika sebagai perangkat apresiasinya. Sastra, puisi, dan seni menjadi aras-aras tempat kematian dibuka, diperbincangkan, dikomunikasikan, dan diinterpretasikan dengan sangat asyik. Mungkin salah satu karya yang paling terkenal adalah Dante dengan Divine Comedynya. Dan saya yakin di tengah pengetahuan yang sangat terbatas ini, masih banyak contoh katya lain, ada banyak sekali.

Dan dari seluruh struktur yang berperan dalam kehidupan dan perikehidupan manusia, agama yang sekiranya paling bisa menjelaskan dengan memuaskan.

Agama, bagi saya, merupakan struktur yang paling ambisius untuk mengontrol manusia. Setidaknya, apa yang disampaikan oleh timeline media sosial belakangan ini mengatakan demikian. Dia menjadi solusi pertama dan utama dari segala kebobrokan masyarakat masa kini. Agama hadir memberikan penjelasan, solusi, dan jawaban atas segala permasalahan manusia mulai dari pertanyaan eksistensial hingga cara ceboknya. Enak betul menjadi orang beragama, hidupnya tata titi tentrem gemah ripah loh jinawi. Celakalah mereka yang mengkritisinya.

Ah, saya jadi nyinyir, gusti parengi ampun.

Salah satu upaya yang juga sangat ambisius dari agama adalah penjelasan soal kematian. Tak hanya penjelasan soal kematian, agama bahkan menyiapkan settig untuk pasca-kematian. Mengapa kita mati? Apa yang terjadi setelah kematian? Kemana kita setelah mati? dan pertanyaan matiniah tersebut saya rasa telah dijawab dan dielaborasi sangat baik oleh agama. Sains masih tertinggal sangat jauh dan kelihatannya tidak akan pernah sanggup mengejar agama dalam hal ini. Filsafat masih terbelit dengan spekulasinya dan sementara bisa kita tinggalkan.

Sebentar, kita mungkin bisa memungut Heidegger di sini. Yeps, Heidegger sebagai filsuf punya concern yang cukup baik untuk kematian. Keresahan (angst) manusia terhadap keterlemparan atau kejatuhannya di bumi ini akan menemui pemecahannya di kematian. Keatian merupakan satu-satunya kepastian dalam perjalanan dassein di dunia ini. Yang ini saya sepakat. Sebagai satu-satunya kepastian dalam hidup manusia, maka kematian adalah kebenaran yang utama (ultimate truth). Ini lah kemewahan yang diberikan oleh sang pencipta kepada manusia lewat kesadarannya akan kematian.

Oke, agama menyadari hal itu dan mereka lalu menginternalisasi kematian sehingga agama menjadi begitu superior. Bagaimanapun bodohnya hidup Anda (sebagai pengkhianatan terhadap sains) atau rusaknya hidup Anda (pengkhianatan terhadap etika), matilah dalam keadaan beragama! Di alam kematian, agama Anda dengan segala instrumennya yang menjadi andalan Anda, bukan kepintaran bukan pula harta.

Ini merupakan sebaik-baiknya retorika, sungguh. Manusia tidak punya pilihan apapun kecuali menghadapi kematiannya yang dengan senang hati sudah dipersiapkan oleh agamanya. Agama, merupakan event organizer terbaik untuk urusan kematian. Mulai dari jasad, firasat hingga ruh Anda di alam sana sudah diatur sebaik-baiknya oleh agama Anda.

Dan sebagai tambahan, di dalam kematian manusia menghadapi ketakutan terbesarnya.

Heidegger menyebutkan soal being is being-towards-death. Berada berarti berada-terhadap-kematian. Maksudnya adalah kematian merupakan komponen atau elemen yang inheren terhadap keberadaan dassein. Imaji kematian adalah imaji fundamental yang menyusun seluruh hidupnya. Tak peduli kemana ia berlari atau bersembunyi, bayang-bayang kematian akan dengan sangat mudah menemui dan menyapanya kembali. Selama itu manusia didera penderitaan ketakutan pada kematian selama itu pula agama sangat krusial dibutuhkan.

Saya pikir itu lah sebabnya banyak orang akhirnya berpulang kembali ke agama. Well done religion, you do very well.

scriptammanent 

 

 

Sureal

Sureal? Itu loooh yang buat sarapan pagi, yang kayak ener*en gitu deh.

Jayus.

Kenapa jayus? Apa karena tidak cukup ironis? tidak cukup cerdas memelintir realitas? atau karena tidak hiperbolis? Entah lah. Tampaknya perlu juga membahwa soal bagaimana kelucuan bisa terjadi, mana yang disebut lucu dan yang mana yang tidak. Ini jelas menarik, sebab kata Milan Kundera “Kecerdasan tertinggi adalah humor”. Sepakat.

Namun sebelum kita kesana dan mentertawakan lelucon menyedihkan saya di awal postingan ini, mari kita membahas soal surealitas ini.Surealitas merupakan singkatan dari superrealitas. Superrealitas adalah sebuah aliran dan merupakan sebuah gaya tersendiri dalam seni. Setahu saya, gerakan ini muncul pada tahun-tahun 1920, yaps, dekat dengan Golden Age pada periodisasi sastra. Munculnya gerakan ini didorong oleh kemuakan terhadap otomatisasi atau mechanical art yang sangat statis dan teknologis itu. Saya paham mengapa orang-orang kemudian memberontak terhadap mechanical art. Aliran itu terlalu mengesankan dan sangat kering. Kita tahu bahwa pada era itu, manusia disilaukan oleh mekanika dan segala macam positivisme, presisi, dan mekanisasi yang maha ampuh itu.

Surealisme muncul dan ada dimana saja serta terjadi pada siapa saja, terlebih kepada mereka yang bosan dengan segala mekanisasi dan keteraturan. Termasuk saya? Rahasiaaa.

Begitulah kemudian minggu lalu saya mendapatkan asupan surrealisme yang sangat bergizi: yang satu adalah pameran sahabat saya, Meliantha Muliawan dan yang kedua adalah film Ponyo.

Saya mulai dari pameran sahabat saya. Ini judulnya: Translucent

Translucent (adj.) (of a substance) allowing light, but not detailed images, to pass through; semitransparent.

Pameran Meli mengambil tema anak kecil. Tema yang sebenarnya cukup umum untuk diambil. Tapi hey, tema apa yang tidak cukup umum di era ini? Nihil sub sole novum. Meli tidak asing dengan dunia anak kecil. Sebelumnya ia mempunyai Nina, ‘anaknya’ yang juga bertindak sebagai alteregonya. Nina adalah karakter yang lucu dan menggemaskan.Meli, kemudian mengemasnya dengan cara yang menarik. Ia menggunakan media resin sebagai media dalam menggambarkan karyanya.

Oleh sebab itu ia memebrikan judul pamerannya sebagai translucent. Sebagai media, resin memberikan efek transparan dan tembus pandang. Dalam penuturannya, efek resin akan menimbulkan bayangan yang memberi efek kedalaman air. Kedalaman tersebut yang menjadi inti dari karyanya. Anak kecil memiliki kedalaman yang menipu. Kita, sebagai orang dewasa, selalu tertipu dengan kedalaman pemikiran anak kecil. Tak pernah ada orang dewasa yang cukup cerdas untuk dapat memetakan dan menyelami kedalaman rasa dan imajinasi dari anak-anak. Selalu ada ruang antara, selalu ada jarak yang tercipta antara kita dan anak-anak.

Dunia anak-anak adalah dunia yang sureal, ketika segalanya memiliki nuansa dan warna. Segalanya, memiliki rasa.

Lalu malamnya saya menonton Ponyo. Teranglah apa yang dimaksud oleh Meli. Dengan penuh sesumbar asumsi, saya memvonis Ponyo adalah sinema sureal. Ada gap yang saya rasakan ketika menonton kartun itu dan saya harus terus menerus berteriak dalam pikiran saya, “tonton ini selayaknya anak kecil, idiot! logikamu yang juga tak seberapa itu hanya akan membuatmu tampak semakin tolol di hadapan supremasi imajinasi Studio Ghibli”. Betul, bahwa ketika menghadapi semesta surrealitas kita akan tercengang, atau takut, atau bingung, atau melecehkannya dengan mengatakan “ga jelas ih!”.

Kita kehilangan anak-anak dalam diri kita yang dengan jumawanya kita kerangkeng dalam penjara logika. Ruang itu yang tengah saya akomodir kembali. Saya sadar bahwa saya tidak menyukai anak-anak yang serba merepotkan dan mahal biayanya itu, namun lewat anak-anak lah kita akan melihat dan memahami dunia yang serba amburadul dan serabutan ini.

scriptamanent

Kausalitas

Saya mulai mengamalkan adagium soal kembali kepada sesuatu yang ada sehari-hari, banalitas sebagai titik tolak dari postingan saya di blog ini. Lebih baik melihat sesuatu yang memang secara ada dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai realitas yang lebih tinggi dibanding sebaliknya. Gerakan memulai dari bawah ini saya pikir akan menjadi warna yang terus saya coba pertahankan.

Maka, dalam kesempatan ini, saya hendak membicarakan soal kausalitas. Kausalitas merupakan fenomena asasi yang mendasari seluruh proses yang ada di semesta. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengalami milyaran rentetan kausalitas dalam berbagai dimensi dan satuan waktu. Begitu terbiasanya kita dengan kausalitas ini sehingga menganggapnya sebagai sesuatu yang taken for granted. Sama taken for grantednya seperti pertanyaan-pertanyaan eksistensial ataupun struktur-sturktur sosial yang kita alami.

Dalam semesta bahasa (sphere of language), gejala kausalitas dapat dilihat dalam penggunaan frase “na na na na soalnya na na na na” atau “blab la bla karena bla blab la” atau “uvuvwevweve onyetenyevwe ugwembubwem ossas makanya uvuvwevweve onyetenyevwe ugwembubwem ossas”. Tak ada fenomena dan peristiwa di kolong langit ini yang tidak disebabkan oleh rentetan kausalitas, sekali lagi, tidak ada.

Sungguh? Tidak semuanya. Dalam filsafat teologi terdapat bentrokan besar antara golongan kreasionis dan golongan emanasi untuk menjawab darimana semua rentetan kausalitas ini dimulai. Kita bisa mensimplifikasinya lewat sang Prima Causa atau sang penyebab pertama yang tak lain adalah yang teman-teman sebut sebagai Tuhan. Lantas, dilemanya menjadi seru ketika pertanyaan berikutnya lahir: darimana Tuhan berasal? Ada yang menatakan sebagai creatio ex nihilio, penciptaan dari ketiadaan dan ada yang mengatakan bahwa bukan creatio ex nihilio melainkan emanasi yang berlaku. Pusying pala Barbie, baik kita simpan dulu perdebatan maha abadi ini ke dalam kotak bersama dengan kucing Schroedinger dan kita buka nanti setelah benar-benar memahami prinsip-prinsip fisika kuantum. Deal.

Lewat paragraph diatas, saya mau menyatakan bahwa prinsip kausalitas dapat diterima dengan baik sesuai dengan disiplin positivism logis yang ketat dan sok disiplin itu lewat proses falsifikasi walau serampangan. Bagaimanapun, saya bisa berpendapat gejala ini diterima, cihuy, mari kita lanjut.

Kausalitas merupakan interaksi dan interrelasi antara dua perisitiwa atau dua fenomena. Sang penyebab dan efek dari penyebab tersebut. Interaksi tersebut berlangsung dalam mata rantai maha berkepanjangan dan ada sejauh pikiran manusia bisa mengkonstruksi bila Anda seorang konstruktivis atau sejauh alam semesta ini ada bila Anda seorang realis. Kausalitas berada dalam seluruh jagat dan semesta, mulai dari jagat sehari-hari hingga jagat idea dan ilmu pengetahuan.

Dalam melakukan pengamatan terhadap kausalitas kita dapat melihat dua fenomena yakni fenomena interaksi antar dua peristiwa dan efek yang ditimbulkan olehnya. Keduanya, yang terikat dalam suatu ikatan kausalitas kerenanya interdependen. Sang efek terikat pada sang penyebab. Apa itu efeknya tergantung pada berbagai kualitas inheren yang bebas nilai dan pada maksud yang penuh intensi dari objek yang berkesadaran. Kita terpecah lagi disini bagi Anda yang seorang voluntaris dan yang determinis.

Ini bagian menariknya: eksistensi interdependental. Pernahkah Anda merasa bahwa kehadiran Anda atau segala yang bisa Anda cerna dalam kesadaran Anda merupakan sesuatu yang sangat mencurigakan? Dalam bentuk perumusan masalahnya, Anda akan dihadapkan pada “where the hell all of these came from?!” dan ya, hal tersebut membuat frustasi dan termasuk ke dalam kegalauan eksistensial Anda yang sebenarnya tak seberapa itu.

Dalam merasionalisasi sesuatu untuk membuat Anda tetap berada dalam posisi berkuasa, genealogi atau asal muasal sesuatu merupakan variabel yang hakiki. Ini yang berbuah pertanyaan yang menurut saya sangat mendasar: apa ini dan darimana ini. Keduanya terangkum dalam semesta yang berbeda namun berkelindan membentuk pemahaman akan realitas dan rasionalisasi di dalamnya, ya termasuk kegalauan eksistensial Anda yang tak seberapa itu.

Kita bisa merunutnya. Salah satu pendekatan yang dapat Anda lakukan adalah progressive contextualization yang dicetuskan dengan jenius oleh Andrew Vayda (1983). Saya mendapatkan metode ini dalam kuliah Lingkungan Sosial Budaya dan jujur saja, metode ini mengerikan. Dalam memandang fenomena lingkungan budaya, pengamat diwaibkan untuk bertanya ‘mengapa’ hingga hayat tak lagi dikandung badan, sak modar e. Simple yet deadly. Dengan melakukan pendekatan ini, Anda akan terombang-ambing dan sampai kepada hal-hal yang tidak akan duga sebelumnya. Selamat mencoba.

Kegagalan metode ini adalah ketika para pengamat tidak tahan dan tidak kuat dalam merunut pertanyaan-pertanyaan mengapa hingga ribuan kali itu. Mereka bisa berhenti sejenak dan beribadah, mengingat Tuhannya atau mereka bisa tidak berhenti sama sekali dan membunuh Tuhannya. Dengan bahasa lain, ada yang membuat pertanyaan dan upaya progresif tersebut berhenti di satu titik. Titik itu yang disebut sebagai ultima causa atau prima causa. Perhentian manusia dalam rantai kausalitas ini yang menjadi titik penting. Manusia sebagai proses yang terus menjadi berarti manusia terus terseret dalam arus kausalitas. Manusia juga, sebagai makhluk yang memiliki kesadaran dan kehendak secara simultan menjadi penyebab dan efek dari yang ditimbulkan olehnya. Dan di dalam pemberhentian tersebut manusia menemukan kebenaran sejatinya.

Bilamana itu? Ketika manusia mati. Manusia yang merasa mendapatkan jawaban dan penyebab dari rantai kausalitas termasuk segala-gala penyebab dari kemahakompleksitas tersebut adalah manusia yang mati. Dan sebagai manusia yang mati, ga usah ditemenin yuk.

scriptamanent

Truth

Baiklah.

Salah satu motivasi untuk menulis ini adalah pesan anekdotal yang saya baca di salah satu lini masa. Saya pikir bahwa pesan tersebut cukup kontekstual dengan kondisi yang tengah terjadi saat ini. sulit memang rasanya untuk menahan diri tidak berkomentar mengenai berbagai macam fenomena dan perisitiwa yang ada. Permasalahannya adalah menuangkannya di dan dalam media yang tepat dan bagi saya, blog ini menjadi media yang tepat.

Pesan anekdotal tersebut berbunyi:

‘from ‘I think therefore I am’ into ‘I believe therefore I am right’’.

Apa yang saya tangkap kira-kira seperti ini. Bahwa kini, manusia semakin menjauh dari penggunaan akal-akalnya yang diwakili oleh proses thinking. Alih-alih berpikir, mereka lebih senang menggunakan daya percaya mereka. Menggunakan daya percaya tentu saja lebih mudah ketimbang harus melakukan kajian dengan daya pemikiran yang ketat. Selain itu, bahwa manusia kini dalam proses jadinya ditentukan oleh kebenaran-kebenaran. Kalimat I am right merupakan frase yang perlu dikaji lebih jauh untuk melihat relasi antara manusia yang jadi atau berada (I am, sulit sekali mengartikan subjek + to be nya ke dalam bahasa Indonesia, saya harap Anda membaca makna to be dan membedahnya lebih dalam) dengan kebenaran (right). Kedua hal tersebut yang menjadi pokok tulisan saya malam ini, semoga berkenan.

Cogito versus Credo

Ini merupakan pertentangan yang abadi. Dalam membedah konsep ini, yang menjadi titik sentrasi saya adalah relasi antara cogito (saya berpikir) dengan credo (saya percaya). Masing-masing memiliki alat berupa rasio untuk sang cogito dan iman (fidei) untuk credo. Manusia, dalam hal ini, memiliki kedua dimensi tersebut dalam mengkonstruksi atau menerima kebenaran.

Kita tahu, bahwa bentrokan antara iman dan akal menjadi warna yang sangat mencolok dalam jagat pemikiran filsafat Kristen. Berbagai pola relasi mewarnai bentrokan ini. Pola relasi tersebut dirumuskan dalam berbagai perumusan masalah seperti: ‘mana yang lebih didahulukan?’, ‘mana yang akan membawa manusia ke dalam kebenaran?’, atau ‘bagaimana genealogi keduanya?’.

Saya tidak mau menerapkan hubungan keduanya dalam kerangka normatif sebagai ‘yang satu lebih baik dari yang lain’. Sama halnya seperti saya enggan meletakan kerangka normative pada lisan dan tulisan pada beberapa postingan sebelum ini. sebagai suatu eksposisi, maka tulisan ini hanya bersifat penjabaran semata, saya mencoba mungkin tidak berpihak.

Bahwa kemudian, golongan yang mendahulukan akal dan rasionya akan menjadi golongan rasional-matrealis sementara yang mendahulukan imannya akan menjadi golongan fundamentalis. Keduanya benar pada suatu kesempatan dan salah di kesempatan yang lainnya. Saya tidak mau ambil pusing dengan hal tersebut dan mencoba mengambil jalan tengah bahwa rasio menjelaskan iman dan iman menghayatkan rasio. Perdebatan ini muncul semenjak era Yunani klasik dari Plato, hingga Aristoteles yang menghubungkan antara mitos dan logos.

Namun, apa yang saya yakini adalah bahwa kedua elemen tersebut harus hadir dalam proporsi yang seimbang. Manusia dengan wawasannya harus menggunakan pisau rasionya untuk terus mencincang imannya hingga ia menemukan Sang Haqq. Kepercayaan buta bagi saya hanya menjadikan manusia seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Manusia harus menggunakan akalnya untuk terus meragu, mencari tahu. Sebab hanya dengan cara seperti itu manusia akan berhadapan dengan dimensi transendentalitas. Karunia manusia bukan lah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan kepada instingnya untuk bertanya terus menerus.

Celakanya, insting ini yang kemudian dimatikan dengan begitu pongahnya. Manusia-manusia dilarang bertanya soal Tuhannya. Pertanyaan mengenai Tuhan saya rasa sengaja ditanamkan oleh Tuhan agar manusia kemudian dapat merasa dekat padaNya. Manusia hanya akan menemukan ketika ia mencari dan ia akan menemukanNya dalam proses pencariannya, bukan di ujung pencariannya.

Tentu lah dalam melakukan pencarian itu, kita butuh tuntunan dan landasan. Oleh sebab itu, Ia menurunkan kitab suci dan nabi-nabinya sebagai panduan untuk menemukanNya. Namun sekali lagi, ia menurunkan panduan tersebut bukan sebagai suatu jawaban tunggal atau seperti petunjuk penggunaan. Saya merasa jengkel setiap ada yang menganggap bahwa kitab suci adalah sebuah panduan dalam hidup bahwa hidup yang sedemikian kompleks ini terangkum dalam sebuah buku. Saya rasa tidak demikian. Manusia diberikan kemampuan lewat akal dan insting untuk terus-menerus bertanya.

Betul bahwa kita dikutuk untuk bebas. Di dalam kebebasannya, manusia menemukan kesakitan, ketakutan, kekalutan, dan berbagai sensasi yang maha dahsyatnya. Semua itu diperlukan untuk menghancurkan kita, meremukan dan meluluhlantakan manusia. Mengapa? Sebab hanya manusia yang hancur dan luluh lantak yang dapat menemukan Tuhannya. Lewat akal dan budi tersebut lah Tuhan menghancurkan manusia. Hasilnya? Perlukah saya menjabarkan kembali konsekuensi modernitas yang dipimpin oleh penggunaan akal budi secara berlebih dan tanpa penghayatan?

Modernitas mencapai titik nadirnya saat Perang Dunia II. Pasca peristiwa itu hadir arus balik yang menjungkirbalikkan semangat modernitas. Lahirnya gerakan postmodernisme membuat paradigma manusia melampaui semangat modernitas untuk kembali ke periodisasi mistis. Gerakan metafisika new age dan perenialisme menjadi semangat untuk mengkoreksi gerangnya nuansa manusia karena cahaya ilmu pengetahuan dan rasio yang begitu menyilaukannya.

Dalam proses itu, manusia kini malah tertinggal oleh rasio dan pengetahuannya. Berbagai ciptaan artifisial manusia kini malah meninggalkan manusia ke dalam kegelapan yang lebih pekat dan perasaan kekalahan yang begitu mendera. Sebagian masih dibutakan, yang lain kemudian jatuh di tengah jalan.

Yang kemudian jatuh di tengah jalan ini tidak mampu mengejar ketertinggalannya. Bukannya tidak mampu, mereka malas. Solusinya adalah mereka melawan ilmu pengetahuan dan rasio dengan dimensi lainnya: dimensi iman. Kemalasan mereka untuk mengejar ilmu pengetahuan dan berjalan di jalur sains membuat mereka mengambil jalan pintas untuk mengambil syahadat secara membabi buta. Lebih celaka lagi karena digunakan sebagai jalan pintas, mereka melakukan penghayatan terhadap syahadat mereka. Jelas saja sebab tujuan mereka hanya satu, mencapai kebenaran lewat jalan pintas. Marx (please, not again!) berkata dalam pengantar Das Capital jilid 1 bahwa:

“There is no royal road to science, and only those who do not dread the fatiguing climb of its steep paths have a chance of gaining its luminous summits.”

Dan mereka yang menggunakan imannya tanpa penghayatan untuk mencapai kebenaran sesungguhnya adalah manusia yang sangat menjengkelkan. Indikasinya mudah, mereka ribut sekali di keramaian, malas mencari tahu namun selalu merasa paling tahu. Jujur saja, kemalasan mereka memuakkan.

Wew, tulisan saya jadi normatif begini. Gawat betul, saya harus mengubah topik.

Oke, topik kedua mengenai kebenaran.

Kebenaran adalah kesesuaian antara fenomena dunia nyata dengan dunia ide, saya harus meringkas ini. Membicarakan kebenaran hanya membuat pegal jari saya dalam mengetik tulisan ini. Singkat saja, carilah kebenaran sebaik-baiknya.

Menjadi berbeda ketika kita melihat kebenaran dari sisi yang lain. Albert Snijder dalam bukunya Manusia & Kebenaran mengatakan bahwa kebenaran bersifat relatif. Sifat relatif kebenaran berasal dari relasinya dengan manusia. Ini semacam logika yang menyebalkan bahwa tanpa ada manusia, maka tidak akan ada kebenaran. Mengapa? Sebab dari definisi diatas bahwa kebenaran menuntut adanya dunia ide yang datang dari manusia.

Disini lah kebenaran mengalami paradox. Di satu sisi ia dituntut untuk statis, ajeg, dan berlaku di seluruh tempat. Di sisi lain, ia hanya hadir dengan kaitannya terhadap manusia dengan dunia idenya. Dalam paradox ini saya harus memihak dimana saya mendukung pernyataan bahwa kebenaran hadir sejauh dunia ide manusia ide hadir.

Perlu juga dicatat pendapat Kant mengenai an sich dan fur sich nya. Bahwa adanya akal budi bukannya menyingkap fenomena melainkan semakin mengurungnya. Kant mengatakan bahwa terdapat jurang yang begitu dalam antara benda an sich dengan akal yang mengkajinya.

Perlu juga dicatat bahwa untuk mencapai kebenaran, Husserl mengatakan bahwa kita perlu melakukan bracketing atau epoche. Bahwa dalam memandang suatu fenomena, manusia memilika noema dan noesis dan selalu berada dalam intensionalitas. Kesadaran, adalah kesadaran terhadap sesuatu.

Maka kebenaran hanya akan hadir sejauh manusia hadir. Tanpa kehadiran manusia, kebenaran hanya akan menjadi rentetan peristiwa yang tak bermakna, hanya suatu noema yang kering. Makna tersebut yang manusia cari, suatu bentuk intensi yang kemudian membuat manusia dapat mengakses an sich. Makna tersebut yang juga membuat manusia lupa diri dan dimabuk kebenaran.

Apa yang paling memabukkan di dunia ini? kekuasaan. Dalam proses mencapai kebenarannya, manusia memisahkan dirinya dari objek yang diamatinya. Dimulai dari pertentangan res cogitans dan res extensa, manusia memisahkan antara dunia fenomena dengan dunia idenya. Pemisahan tersebut yang berakhir dengan celaka karena kemudian manusia malah mendominasi lewat kebenarannya. Inilah relasi antara kebenaran dengan dominasi dan kekuasaan.

Manusia akan menjadi manusia ketika ia terpisah dari sekelilingnya. Dan di dalam keterpisahan tersebut, manusia akan saling berlomba mencapai eksistensinya lewat moda-moda kuasa yang dimilikinya. Inilah dilemma eksistensial manusia modern bahwa manusia hanya akan menjadi (I am) ketika ia memiliki cukup kuasa. Dan kita tahu bahwa instrumen kuasa yang paling mendominasi adalah kebenaran.

Maka para golongan credo sangat senang dengan situasi seperti ini. Lewat kemalasan dan kepercayaan butanya, mereka mendapatkan cukup kuasa dan dominasi.

Demikian, semoga berkenan.

scriptamanent

kubus

Siang ini sungguh membosankan. Saya terperangkap di sekretariat SATU BUMI untuk kesekiankalinya bersama beberapa anggotanya yang baru bangun dan jelas belum mandi. Sementara menunggu isyarat untuk bergerak keluar, saya memutuskan untuk mendayagunakan sumber daya jaringan informasi yang begitu berharga ini. Upaya pendayagunaan itu tentu saja berarti browsing 9gag, Youtube, atau blog-walking. Separo sangat berharap supaya teman-teman saya yang rajin saya intip blognya terus mengupdate blognya.

Namun siang ini saya mendapat sfera net-walking baru: instagram! Setelah ratusan minggu platform social media ini meledak, baru sekali ini saya menggunakannya secara swalayan. Sebelumnya jika saya membuka instagram itu adalah di HP Pintar teman-teman saya yang juga punya akunnya. Setelah mengetahui bahwa instagram bisa ditilik tanpa harus punya akun, maka mulailah saya bergerilya didalamnya.

Kesan saya, saya bersyukur tidak bergabung di platform itu, yes!

Kesimpulan saya, manusia semakin nyata di dunia maya.

Ini yang mau saya curahkan. Saya pikir translasi realitas (bagaimanapun pemahaman dan kesan Anda terhadap konsep ‘realitas’ itu) sudah bergeser sangat jauh ke dalam dunia maya. Ini pendapat basi sih, kita tahu dan membaca bagaimana era hiperrealitas ini sudah dimulai semenjak 4 dekade lalu. Tidak ada kebaruan didalamnya. Namun demikian, apa yang saya perhatikan dan saya amati terus menerus semakin menguatkan pendapat itu.

Lalu apa Anda pikir saya akan membahas soal perilaku itu? Tentu saja tidak, sudah sangat sering saya lakukan. Dan saya ingin sekali menghargai apapun yang Anda lakukan di media sosial dan sangat enggan mengomentarinya. Be whatever you want, be whatever you want people to see you. Itu lah fungsinya dunia maya diciptakan, Anda bisa menjadi segala yang Anda inginkan. Anda bisa terkoneksi dengan orang seluruh dunia. Anda bisa menyampaikan pesan-pesan sublimasi Anda, baik itu seruan perang atau cinta yang tak kunjung disampaikan.

Well, beberapa kritik mungkin akan saya lontarkan, namun tidak untuk siang ini.

Apa yang mau saya angkat siang ini adalah bagaimana kemudian Baudrillard dapat dengan jitu mengulas hal ini. Bagaimana para ilmuwan sosial sanggup merengkuh kenyataan dan meletakannya dalam suatu hidangan informasi yang bisa dinikmati dan dipahami oleh siapa saja yang membaca atau menggunakannya. Ini juga basi sebenarnya, ujung-ujungnya adalah relasi antara dunia idea dengan dunia fenomena.

Eksposisi dan deskripsi yang komprehensif terhadap dunia ini merupakan salah satu tantangan ilmu pengetahuan. Menjadi tantangan karena eksposisi demikian harus dapat dipertanggungjawabkan. Eksposisi ilmiah adalah penyajian informasi yang mendekati sebenar-benarnya suatu fenomena di ‘dunia nyata’. Semisal ada suatu objek seperti ini:

Image result for cube

Maka deskripsi kita tentangnya adalah garis yang saling berhubungan, membentuk sesuatu, berwarna putih, dengan garisnya berwarna hitam. Tidak sulit, namun itu lah contoh sederhana bagaimana fenomena dirubah menjadi sebuah informasi. Pertanyaan yang mengemuka adalah: mengapa fenomena tersebut harus diubah menjadi informasi?

Jawabannya adalah agar bisa dikomunikasikan. Itu lah seni informasi, bagaimana membuat suatu informasi dapat dikomunikasikan. Oleh sebab itu, suatu informasi harus dapat diterima oleh seluruh orang di berbagai tempat dan waktu dan merujuk kepada fenomena yang sama. Fenomena gambar diatas, ketika saya mentransformasikannya menjadi suatu informasi dan saya berikan ke orang lain, orang lain kemudian akan memunculkan gambar tersebut di dalam dunia idenya.Sederhana.

Dan komunikasi menjadi sangat krusial di era informasi ini. Apabila Marx mengatakan bahwa manusia menemukan kesejatiannya dalam bekerja, maka Habermas mencoba mengoreksinya dengan mengatakan bahwa manusia menemukan kesejatiannya dalam berkomunikasi. Komunikasi merupakan elemen mendasar yang membentuk peradaban, bukan pekerjaan seperti yang dicetuskan oleh Marx. Saya pernah membahas mengenai hal ini ketika membahas soal bentrokan antara lisan dan tulisan.

Dalam berkomunikasi hal yang menjadi menjadi penting adalah kehadiran subjek. Adagium ini bisa kita sedikit menjadi bahwa kehadiran subjek ada ketika mereka berkomunikasi. Komunikasi itu yang membuat manusia ada secara relasional. Lewat komunikasi, manusia menentukan posisinya di antara manusia lainnya.

Lebih lanjut, gerombolan informasi yang manusia bikin tersebut kemudian akan teragregasi membuat suatu dunia idea. Ini lah hebatnya manusia karena mereka bisa membayangkan sesuatu yang ada di pikirannya sebelum memanifestasikannya ke dalam berbagai bentuk di dunia fenomena. Imajinasi manusia menjadi sangat penting disini. Kita tidak semata-mata memakan daging hasil buruan, kita memasaknya dulu. Kita tidak semata-mata menggunakan batuan, kita membentuknya terlebih dahulu. Semuanya dilakukan untuk memastikan kita mempermudah hidup kita. Dan dari situ, lahirlah teknologi.

Ini menjadi narasi yang ambisius dan tidak nyambung satu sama lain, tapi saya coba teruskan.

Dalam kritik Marx terhadap ilmu pengetahuan, ia mengatakan bahwa ilmu pengetahuan kini tidak lebih menjadi sebuah kontemplasi saja. Manusia hanya merenungkan apa yang ia lihat, yang ia alami dan pengalaman serta pengalaman itu semata-mata hanya ia tuliskan, eksposisikan,dan deskripsikan. Syukur-syukur kemudian manusia-manusia ini mengkomunikasikannya.

Ilmu pengetahuan, menurutnya tidak boleh hanya berhenti di kontemplasi. Ia harus digunakan untuk mengubah dunia ini. Sampai pada titik ini Anda tahu arahnya kemana kan? bagus: praksis. Ini lah pepatah Marx: ‘filsuf terlalu banyak memikirkan soal dunia ini, yang terpenting untuk sekarang adalah mengubahnya’. Saya pikir yang paling banyak mengamalkan pepatah tersebut adalah para insinyur. Berbahagialah Anda para insinyur, Anda marxis sebelum berinsinyur.

Terakhir, saya mulai jenuh mesti terus menerus menuliskan nama Marx di blog ini, huh.

scriptamanent

 

Nggambleh

Malam ini, saya sedikit paksakan untuk menulis. Ada beberapa pola dalam kehidupan saya yang terasa berbeda akhir-akhir ini, menulis salah satunya. Beberapa kali ada dorongan yang sangat kuat untuk mulai kembali bermain dengan aksara dan kata-kata dalam suatu tulisan dan yah, akhirnya malah macet, mandeg dan ga kemana-mana. Saya menyadari hal itu dan tentu saja harus mengubahnya. Maka malam ini saya putuskan untuk menulis kembali, memaksakan diri untuk menulis kembali sebenarnya.

Saya pikir kesulitan saya dalam memulai tulisan adalah saat ini saya tidak dapat menemukan suatu idea atau konsep yang utuh. Secara emosi, banyak hal yang mulai megganggu dan ingin saya keluarkan agar tidak membusuk lalu menjadi sampah yang sia-sia. Banyak konsep dan fenomena yang datang sepotong-sepotong dan saya dibuat jengkel karenannya. Menyebalkan ketika kamu diganggu oleh rasa penasaran yang cuma sekelebat-sekelebat namun datang dalam jumlah besar. Akhirnya solusi yang saya lakukan adalah pelupaan.

Dua hal atau pertanyaan yang terus mengemuka adalah soal relasi manusia dengan alamnya dan mengenai posisi etis-moralitas dalam menelaah konsepsi Marx mengenai kapitalisme. Semestinya kedua hal tersebut berhubungan, semestinya saling berkaitan. Munculnya dua pertanyaan tersebut tentu saja tak lepas dari dua hal yang secara tak sengaja saya buka kembali ulasannya: Fenomenologi dan Etika, ga nyambung, kan?

Malam ini saya mungkin tidak mau membahasnya terlalu dalam, seadanya saja. Untuk yang pertama, saya cukup ketinggalan mode ketika melihat ternyata pendekatan fenomenologi banyak diterapkan dalam berbagai bidang. Salah satu yang cukup menarik adaah konsep yang dituliskan dalam bukunya Saras Dewi, Ekofenomenologi terbitan Marjin Kiri. Buku tersebut menceritakan bagaimana pandangan fenomenologi diterapkan dalam konsep ekologi dan mengurai mengapa kerusakan alam terjadi.

Analisannya sama saja dengan pandangan Metafisika New Agenya Capra sebenarnya. Namun tulisan Saras Dewi cukup memberikan saya sentakan. Bahwa banyak perkara remeh-temeh yang tidak dibangun diatas landasan filosofis yang mantap. Akibatnya adalah sesuatu tidak memiliki pijakan atau rumah untuk berkembang.  Dan itu yang saya pikir tengah terjadi.

Marcuse berbusa-busa menjelaskan fenomena New Age ini dengan istilah One-Dimensional Man. Bahwa segala fenomena dan gejala manusia masa kini terjadi hanya dalam satu dimensi. Dialektika, karena itu menurut saya divonis mati karena proses Tesis-Antitesis tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Banyak variabel yang meredam benturan antar realitas tersebut. Ini pendapat lama sebenarnya, bahwa dialektika mati semenjak Sartre memproklamirkan kebebasan manusia dan segala fenomena yang ada tidak perlu dibenturkan. Segala sesuatu dibenturkan dan diuji oleh pemikiran manusia.

Akibatnya adalah kebenaran dan fenomena tidak berkembang di bawah kontrol aparatus-aparatus. Dalam istilah Marcuse dikenal sebagai konsep rasionalitas teknologi. Ah, teknologi, lagi-lagi kamu deh ya. Singkatnya, fenomena demikian membuat dunia ini menjadi tidak menarik buat saya. Konsep dan ide dibenturkan atas asas emosi dan praktisnya saja, tidak ada konsekuensi atau implikasi filosofis yang dikandung didalamnya.

Ini yang menjadi kritik sosialisme ilmiah Marx dan Engels dalam merumuskan konsepnya. Bagaimana Marxisme bisa menjadi perangkat yang tidak lekang dan terkontekstualisasi dalam banyak kondisi adalah karena upaya teliti Marx dalam membangun sistem filsafatinya dan upaya Engels dalam mensistemasi pemikiran sahabatnya itu.

Apakah kalimat barusan kredo saya terhadap konsep Marx? Boleh jadi. Namun, dalam narasi yang lebih besar dari Marxisme, saya lebih yakin pada adagium dan anathema golongan-golongan matrealistik-saintisme. Marxisme merupakan dapur lokasi tempat paham tersebut diracik dan dibuat dalam sajian-sajian yang kemudian diambil oleh para pemikir setelahnya untuk dikembangkan. Tanpa sistematisasi demikian, pemikiran Marx hanya akan berakhir tanpa jejak saja.

Meracau? Sabodo teuing ah.

scriptamanent

Dari Buitenzorg Menuju Ketiadaan: Suatu Catatan-catatan Awal

Catatan Ilas Merah

Namaku Ilas Merah atau Ilas Abang, tergantung seberapa perlu kalian memandang ras dan latarbelakangku. Lahir di keremangan, aku tidak dibentuk lewat proses persetubuhan. Ayahku melukisku di mulus kulit ibuku. Lalu aku menjadi abadi.

Sepuluh ribu tahun seingatku tahun yang aku lalui dalam diam. Sunyi senyap makananku dan udara dingin minumanku. Dalam gelap, tidak banyak yang bisa aku ceritakan. Hanya ketenangan dan keajegan kawanku dan aku bahagia bersama mereka. Sungguh, sekali kau bercengkrama dengan kehampaan, kau akan merasa jumawa. Kekosongan adalah satu-satunya hal yang menentukan keberadaan manusia. Dan dihadapan kekosongan, manusia menjelmakan tuhannya.

Hingga pada suatu ketika, aku terjaga.

Siang itu, gemerisik daun kering dan lenguh nafas manusia (karena aku cukup punya otak untuk membedakan lenguh manusia dan lembu) mengusir dua kawanku. Aku terkesiap dan mengerjap mata. Tak berapa lama ia hadir dan menjelma menjadi bayang yang nyata. Seorang wanita. Aku ingat kami tidak banyak berbicara waktu itu. Dia tahu akan menemukanku. Aku lah yang diharapkannya. Ekspresinya jelas mengatakan demikian, dingin dan datar saja. Aku tahu bagian selanjutnya, kini adalah giliranku bekerja. Sembari berlalu, aku mengikutinya menuju kilau cahaya.

Catatan Getok Panuluh

Tak banyak yang bisa aku ceritakan tentangku. Aku teringat hanya muncul dari yang tadinya doa, harapan, dan bayangan, menjadi daging yang bisa ditarik dan ditekan. Aku bukan menjadi nyata, aku hanya manifestasi. Bayang semu yang menjadi bayang kurang semu. Kalau kesemuan adalah duniaku, maka kenyataan adalah langitku.

Ayah dan ibuku tidak banyak bicara ketika aku lahir. Ibu hanya pernah bercerita bahwa ia tidak merasa sakit waktu melahirkanku, hanya nyeri sedikit ketika otot-otot selangkangannya menggelinjang. Itu lah yang membuatku diremehkan orang tuaku. Manusia yang tidak lahir dari rasa sakit, baik dari dirinya sendiri atau manusia lainnya, tidak pantas hidup.

Kini aku mendekam dalam sekam-sekam peradaban.Mengumpulkan beberapa percik api untuk membakar. Bahwa dari kesia-siaan, aku akan bangkit menggilas perubahan zaman lewat pemikiran-pemikiran.

Catatan Karta Anumerta

Karta Anumerta namaku, vagina yang aku punya jika kalian merasa kelamin itu penting. Aku baru saja mengumumkan kematianku kemarin kepada khalayak. Tak kurang dari satu halaman koran aku pesan. Dengan pesan demikian: Turut berduka cita atas kematian yang terkasihi: Karta Anumerta, dari yang tidak mengasihi: korban penindasan zaman.

Begitulah kematian, tidak ada yang perlu disesali, tidak ada yang perlu ditangisi. Kematian, seperti kata seorang bijaksana hanyalah meninggalkan masa lalu dan masa kini, bukan lah masa depan.

Aku lah masa depan. Karenanya kuumumkan kematian.

Noch-Nicht

Selamat pagi, Namaste. Untuk beberapa alasan teknis operasional, saya baru menulis lagi di pagi hari. Betul saya rasa, bahwa ada rasa-rasa yang berbeda ketika menulis siang atau malam hari. Entah lah, saya anggap ini hanya permasalahan hormon saja tidak lebih. Sama seperti melakukan dialog, ada sensasi yang berbeda dari suatu relasi ketika dilakukan siang atau malam hari.

Dalam beberapa kesempatan, saya menggeser beberapa topic kontemplasi malam dan dialog-dialog tentangnya ke siang hari dan menyenangkan sebetulnya. Ada beberapa fakta yang bias oleh pekatnya jiwa ketika malam hari berhasil saya rumuskan dengan gembira saat siang hari. Well, meski harus diakui bahwa melankolia tengah malam memang begitu membuat terpana.

Dan itu yang tengah terjadi selama minggu ini. Hampir setiap hari selama seminggu ini saya isi dengan dialog, kontemplasi atau pembacaan. Baik pada siang maupun malam hari. Entahlah, tidak terlalu berlebihan bahwa pemikiran saya diakselerasi beberapa level hanya dalam satu minggu ini. begitu banyak hal yang saya sadari atau ketahui baik teori, postulat, dan yang paling menggembirakan adalah beberapa nilai, paradigma, dan pemikiran yang ternyata luput dari kacamata saya selama ini.

Untuk yang terakhir itu, saya perlu berterimakasih kepada dua orang yang tidak sebaiknya saya sebut di tulisan ini. bukan, dua orang itu saya yakin tidak pernah membaca blog ini, sehingga karenanya, akan butuh berbulan-bulan atau bertahun-tahun mereka baru mengetahui catatan dan rasa apresiasi saya terhadap mereka. Ada begitu banyak yang mereka dekonstruksi dan rekonstruksi. Saya masih mencoba untuk menyusunnya secara sistematis untuk itu, postingan saya ini hanya akan menjadi catatan-catatan terserak.

Topiknya sangat sederhana: pacaran. What? Biasa bangeeeet. Ya, memang. Namun, saya ingat prinsip pemahaman eksistensi Heidegger seperti apa yang dikatakan F. Budi Hardiman: dalam menyingkap Ada, kita tidak perlu melayang jauh ke angkasa atau menyelam terlalu dalam ke jalinan makna. Mulailah dari keseharian; mistisme keseharian. Inilah yang akan saya coba terapkan, bahwa filsafat permenungan tidak perlu dimulai dari penelusuran teks-teks filsafat primer atau kontemplasi berlebihan tapi mulailah dari pengamatan keseharian, banalitas manusia.

Apa yang dapat saya tangkap? Oke, pertama begini. Pertanyaan pertama yang diajukan orang-orang itu kepada saya adalah: mengapa saya tidak berpacaran?

Lol, saya tidak bisa menahan tawa.

Jawabannya simply because: pacaran tidak seru karena saya lebih tertarik untuk membicarakan masalah perkawinan. Apa sebab? Ini alasannya:

  1. Pacaran semata-mata sebuah relasi, sebuah kosensi antara dua insan bisa pria-wanita atau pria-pria atau wanita-wanita, terserah. Sebagai suatu relasi ia dibakukan lewat upaya ‘nembak’ sebuah pengakuan dan pertanyaan maha agung: ‘mau ga jadi pacar guweh?’. Ini pun bias gender karena lelaki yang diharap menyatakan, lol. Sebagai suatu relasi, ini hanya terjadi antar dua pihak dan hanya folklore, mitos yang berkembang di relasi ini. sanksi sosial yang berlaku sangat kecil, represi masyarakat nyaris tidak ada. Dari sini, kita melihat bahwa sebagai suatu relasi, tidak ada mekanisme sosial yang begitu berlaku didalamnya. buat saya ini sangat tidak seru.
  2. Kedua, pacaran belum membuka dimensi seksualitas dan hubungan seks secara legal. Ini berhubungan dengan beberapa teori Foucault yang tengah saya baca belakangan. Untuk itu, saya harus menggeser seksualitas sebagai sentral dari pendekatan-pendekatan ini. saya masih sepekat bahwa institusi pernikahan, pada dasarnya hanyalah selubung bagi institusi seksualitas yang menjadi inti dari relasi badaniah antara suami-istri. Seksualitas, sebagai suatu instsitusi baru berkembang setelah abad 18 setelah sebelumnya hanya dianggap sebagai daging (flesh) (Sarup, 2008). Mengapa institusi? Sebab ada gaming rule didalamnya. mengedepankan seksualitas adalah cara baru dalam memandang konstruksi-konstruksi sosial, struktur, mode of governmentality, hingga relasi-relasi (sosial, produksi, kuasa) di dalam masyarakat. Ini sungguh menantang. Saya sempat berpikir untuk segera menikah untuk bisa mendapatkan legalitas seksual dan memahami konsep ini lebih jauh. Tentu saja, karena ketika Anda mengenal seks, saya yakin seluruh konsep, nilai, pegangan, acuan, paradigma Anda akan terjungkir balik.

Saya perlu membuat tulisan ini menjadi sistematika catatan, sungguh. Waktu saya ternyata sempit.

Oke, aspek kedua yag mereka tanyakan adalah: mengapa orang berselingkuh?

Saya mencoba mengembangkan pertanyaan tersebut menjadi: bilamana cinta itu ada dan hilang?

Saya masuk dari adagium yang begitu agung ini: love is irrational dan saya begitu sepakat karenannya. Kita kembali kepada konsep rasionalitas. Tidak perlu terlalu tinggi untuk membedah Kant atau Hegel, cukup satu mahaadagium Hegel ini: ‘semua yang real itu rasional, semua yang rasional itu real’.

Maka, singkatnya, cinta lahir dari irasionalitas. Dari mana irasionalitas itu? Dari aspek-aspek yang berada di luar batas-batas real. Saya mencoba memperkuat konsep soal batas-batas pengetahuan ini. batas-batas pengetahuan atau limit kognisi adalah konsep yang sangat bagus dalam membuat garis demarkasi antara logika dan rasa. Semua yang berada dalam batas-batas pengetahuan, batas-batas rasionalitas adalah domain logika. Cinta, rasa suka sebagai elemen irasional mengampu domain diluar batas-batas pengetahuan tadi.

Itu bisa sedikit menjelaskan pertanyaan mengapa cowok cuek dan misterius begitu menggoda. Mereka yang berada di luar batas-batas rasional, batas-batas pengetahuan tadi jelas membuat kita tertarik terhadapnya. Lalu mengapa tidak membuat pacar khayalan? Jawabannya adalah kebutuhan badan. Suatu relasi tidak murni hanya fantasi. Kita butuh relasi-relasi (sosial, produksi, dan kuasa) didalam suatu relasi. Dalam domain ini, kita bisa menggunakan motif-motif dasar manusia dan buat saya relatif mudah untuk memahaminya. Katakanlah: ekonomi moral, motif kapital, struktur, konstruksi tubuh, nafsu birahi, you name it.

Dari sini pula lahir relasi-relasi baru. Suatu hubungan pria-wanita akan menuju tahap-tahap penyingkapan diri yang semakin terekskalasi. Dari mulanya berteman, pacaran, kemudian menikah. Masing-masing tahapan tersebut memberikan ruang utuk mendekat lebih banyak. Adanya ruang tersebut membuat eksplorasi terhadap pasangan lain semakin mudah saja. Setiap penyingkapan baru atau munculnya elemen-elemen yang tidak terduga dari pasangan kita sebelumnya membuat irasionalitas cinta, elemen mistisnya tetap hidup dan bernafas. Tidak lama sesudah penyingkapan itu, setelah mistisnya hilang, maka mekanisme sosial dengan motif-motif badaniah seperti yang sebutkan di atas tadi yang berlaku. Maka jangan heran bahwa saya berani mengatakan bahwa cinta orang yang menikah paling lama akan bertahan selama satu tahun saja. Cinta irasional tersebut akan hilang ketika elemen-elemen mistis yag tidak dapat dirasionalisasi sebelumnya itu –karena ada jarak sosial dsb. Sudah tereskplorasi. Akibatnya? Mekanisme sosial lah yang berlaku. Pernikahan Anda tidak akan ubahnya menjadi sebuah sistem selubung. Super ego yang bermain didalamnya.

Oke, aspek ketiga: mengapa saya bertahan walau saya tahu saya disakiti?

Disini saya bisa mengajukan beberapa hipotesis. Ini antaranya:

  1. Utopia; ketakmewaktuan Dassein. Anda perlu membaca ‘Principles of Hope’ dari Ernst Bloch untuk ini. suatu analisa yang begitu menggoda karena Bloch mendedah konsep utopia dan harapan. Awalnya tentu saja untuk memahami bagaimana proletar yang begitu pahitnya ditindas oleh kelas borjuis tidak malah megambil jalan bunuh diri atau menghilangkan eksistensinya dalam bentuk apapun. Jawabannya adalah: utopia, fantasi. Dalam konteks eksistensialisme Heidegger, utopia menafikan kewaktuan Dassein, karena Dassein kemudian menginternalisasi masa depan mereka ke waktu ini. proyeksi masa depan itu yang menjadi jalur bagi Dassein untuk tetap berada di relnya. Ini berbahaya memang karena dapat berujung pada schizophrenia dan dimulai dari mimpi-mimpi yang Nampak begitu nyata.Saya beberapa waktu pernah mengalaminya dan pernah berdialog langsung dengan seorang schizofren. Ini tidak baik memang.
  2. Pola patron-klien, khusus bagi Anda yang sering tidak dianggap. Anggap lah bahwa memang sudah tidak ada rasa lagi antara Anda berdua, namun relasi Anda memberikan fasilitas-fasilitas yang menyenangkan. Ini terjadi antara selir-selir priyayi zaman dulu dan relasi antara buruh tanah dengan tuan tanah. Bahwa dalam relasi Anda, Anda menemukan keamanan, security. Ketika orang tahu Anda dalam relasi berpacaran maka orang akan enggan menggoda Anda orang akan enggan mendekati Anda. Terlebih apabila dalam hubungan itu Anda mendapat kebutuhan primer: makan dibayarin, dibeliin baju dan rumah. Ini bukan soal tidak tahu diri atau oportunis, ini soal strategi dan motof sosial.
  3. Self-abusement. Ini yang paling menarik: pola masochism. Masochism adalah sifat dimana Anda tidak dapat mencapai orgasme seksual apabila tidak diberikan rasa sakit. Begitulah, beberapa orang bekerja dan berelasi dalam jagat sosial. Anda merasa perlu disakita, Anda merasa bahagia justru ketika disakiti. Jangan khawatir, pengalaman masa lalu Anda yang bermain disini. Anda mungkin pernah melakukan suatu kesalahan atau dosa yang belum bisa Anda tebus. Selain itu, Anda mungkin butuh perhatian lebih karena simply, Anda kesepian dan nyaris seluruh manusia modern mengidap patologi kesepian ini.

Oke, tiga aspek dan saya rasa cukup dulu, I have given the point.

Sedikit curhat, yah, kesulitan saya mendapatkan pacar adalah karena saya rasa saya punya kecenderungan untuk merasionalisasi segala hal ini. Saya sudah tidak begitu percaya pada mekanisme rasa. Adanya mistis kecantikan hanya bertahan sebentar saja setelah saya tahu bahwa kecantikan perempuan itu adalah konstruksi media dan manipulasi pola konsumsi. Ada perempuan baik hati dan sangat etis, namun cinta irasional saya akan hilang setelah tahu rasa baik hatinya dipengaruhi oleh suatu nilai-nilai atau set etika tertentu yang akan mudah saya bongkar setelah mengetahui latar belakangnya. Ada cewek pintar, namun cinta irasional saya akan hilang begitu tahu darimana ia mengambil kepintarannya: kuliah jurusan apa, buku apa saja yang di abaca, dan batas-batas etis pengetahuannya.

Demikian lah, kualitas baik, cantik, dan pintar tidak cukup mistis untuk menumbuhkan irasionalitas cinta pada diri saya. Otentitas? Lol, apa yang otentik di zaman ini?

Sebagai catatan akhir, tentu tulisan ini tidak hadir sebagai pembatas dari kemungkinan-kemungkinan lain yang terjadi. saya akan mafhum, bahwa Anda akan melancarkan barikade self-sefense mechanism dengan satu anathema pamungkas ini: sotoy! Tidak apa tentu saja, sains dan filsafat berkembang bukan sebagai dogma. Prinsip utama yang mau saya tegaskan adalah, belum ada cukup mistis atau irasionalitas yang membuat saya mencintai secara irasional. Segala macam keanehan rasa, invaliditas fenomena dapat ditrack ke dalam bingkai-bingkai logika yang memenuhi kaidah ilmiah. Saya memang berada di tepi saintisme dan bersyukur sekali saya sadar akan hal itu. Namun, saya belum (dan semoga tidak) menjadi maniak yang begitu mengagungkan kemajuan ilmu pengetahuan positif. Saya tahu dan menyadari konsekuensi modernitas ini dan menolak untuk mendogmakannya.

Kenapa saya seperti ini? hehe, saya pun mulai bisa menyadari alasannya. Marilah berdialog di dunia nyata.

scriptamanent