scriptamanent

"verba volant, scripta manent"

Welcome, May!

I begin to believe that god started considering to choose those who don’t believe in god -Anonymous

Mei telah tiba dan saya tahu sudah hampir dua bulan saya tidak mengisi blog ini. Tidak banyak yag ingin saya katakan kecuali bahwa dunia sosial semakin melelahkan dan saya rasa kesunyataan semakin melenakan. Mungkin itu yang bisa saya sampaikan untuk saat ini. Postingan ini bisa Anda abaikan sewaktu-waktu.

Death | Rite

Hanya ada 3 hal yang dapat dipercayai di kefanaan ini: kematian, perubahan, dan kesepian. Lewat ketiganya, sang Ada, yang omnipotent memanifestasikan diri. Ketiganya terhampar di dalam bentang ruang, perisitiwa dan waktu.

Secara khusus, malam ini saya mau menyampaikan satu ide secara singkat kaitannya terhadap kematian. Kematian masih menjadi topik yang begitu menggoda untuk diselami. Pesonanya yang begitu kuat memikat dan aromanya yang selalu menguar serta kekuatannya yang begitu meluluhlantakan menjadi alasan bagaimana kematian begitu menarik. Meski dalam kerangka etis, kematian seperti halnya seksualitas menjadi tabu untuk dibicarakan. Pamali katanya, nyumpahin jadinya. Namun menurut saya, keterbukaan kita terhadap kematian adalah upaya kita untuk menemukan kesejatian, keaslian sebagai seorang insan.

Kematian adalah keniscayaan yang tak terelakan. Semua pasti mati tanpa terkecuali. Premis tersebut menjadikan kematian menjadi fenomena paling universal yang dapat makhluk manusia alami. Semua manusia akan dan pernah mengalaminya. Kalaupun belum, bayangan dan pengetahuan mengenai kematian sudah barang tentu menjadi fakta yang seluruh umat manusia di kolong langit ini pahami dan ketahui.

Namun demikian, dead man tells no tales. Orang mati tidak bisa kita tuntut untuk bercerita mengenai kematian. Akibatnya, kematian tidak dapat kita ketahui secara pasti. Sebagai topik, ia hadir dalam ruang-ruang metafisika dan spekulasi. Kematian, dibawa kemudian masuk ke dalam ranah-ranah simbolik yang hanya bisa didekati lewat penghayatan alih-alih lewat pengetahuan.

Upaya menjelaskan kematian itu yang kemudian dilakukan lewat kaidah-kaidah penghayatan. Dalam konteks genealogi kebudayaa, penghayatan akan simbol-simbol tersebut yang membentuk sistem kebudayaan  dan nilai-nilai yang komunitas manusia anut. Kita tentu saja tidak boleh hanya berhenti di tataran penghayatan yang serba subjektif ini, perlu ada studi ketat mengenai pemaknaan kematian oleh manusia. Kita bisa mengekstraksinya lewat studi perbandingan lewat, yang paling mudah menurut saya untuk diamati, ritual-ritual kematian.

Kita bisa menyaksikan bagaimana komunitas-komunitas masyarakat memiliki ritual kematian yang berbeda-beda menurut konteks spasialnya. Dengan kata lain, beda tempat maka beda ritual kematiannya. Agama-agama semit mengadskan upacara penguburan. Umat kristen mengenal persemayaman sedngkan islam tidak. Tentu mereka punya makna tersendiri. Manusia diciptakan dari tanah dan harus kembali ke tanah. Cerita tak berhenti sampai disitu. Dikenalkan lah konsepsi siksa kubur.

Hindu melakukan pembakaran terhadap jenazah. Komunitas Huaulu dan komunitas dataran tinggi tibet, tempat dimana Kun Lun atau Dalai Lama dibesarkan, mengenal konsep memberikan jenazah kepad burung-burung. Alasannya adalah burung-burung akan membawa orang yang meninggal tersebut ke langit. Orang Cina dengan matrealisme yang begitu pekat memiliki kebiasaan membakar berbagai replika harta benda yang terbuat dari kertas agar di akhirat sana saudaranya berkecukupan.

Dari situ, secara pribadi, saya merasa sangat beruntung pernah menyaksikan tiga ritual kematian yang berbeda-beda. Sungguh, melalui pengalaman akan ritual kematia, saya merasa bisa mendapatkan ajaran pokok atau falsafah dari suatu agama tertentu. Tentu saja karena titik terdekat manusia terhadap penciptanya adalah ketika kematiannya.

Maka untuk mengamati struktur utama yang mengatur pola hidup manusia, saya mengusulkan kita melihat penghayatan manusia tersebut pada kematiannya. Kita sudah mengalami berbagai aspek yag dianggap menjadi dasar keberadaan manusia: Marx dengan pekerjaannya, Habermas dengan komunikasinya, Graeber dengan hutangnya, dan contoh-contoh lainnya. Dari dasar-dasar tersebut, saya pikir belum ada sefundamental dan seumum kematian bagi manusia. Dengan melihat posisi manusia terhadap kematiannya, kita akan bisa memahami manusia, tidak seutuhnya, namun sebagian besarnya.

Begitulah, pengantar ini saya tuliskan dulu, entah bisa saya lakukan atau tidak perkara nanti. Namun saya senang dengan pemahaman saya kali ini. Ah, akhir minggu yang menyenangkan meski saya juga tidak sabar menanti Senin kembali.

scriptammanent

Silence of Science (ii)

Tulisan saya kali ini berdiri di atas kegetiran saya terhadap impotensi ilmu pengetahuan yang semakin kencang saya rasakan. Untuk apa, pada akhirnya, semua kebenaran yang dihasilkan dari ilmu pengetahuan? Tidak ada gunanya, semua hanya berlalu dan ditumpuk dalam rak-rak berdebu atau terbakar menjadi abu.

Kritik sudah begitu sering dilakukan. Ilmu pengetahuan tidak boleh hanya digunakan sebagai kontemplasi; utak atik gathuk antara fenomena yang hadir di lapangan (dunia fenomena) dengan dunia idea. Ilmu harus dapat memutus dan mengubah keadaan dari yang sebelumnya mengalami keajegan atau bahkan penindasan. Kritik yang begitu sering kita dengar bukan?

Lalu, beberapa hari kebelakang saya terlibat dalam sebuah diskusi yang menyenangkan. Topiknya pun panas: Kasus Semen Rembang. Kasus ini, bagaimanapun, menghajar bolak-balik kesadaran solidaritas saya dan terus menerus menyalakan alarm pertanggungjawaban sebagai akademisi yang banyak berkecimpung di area pengelolaan bentanglahan karst. Seruan solidaritas dalam berbagai bentuk, mulai dari aksi turun ke jalan, diskusi, penulisan buku, hingga survey langsung ke lapangan berkali-kali meghampiri memaksa untuk ditanggapi secara serius, namun tetap, saya begriming tak acuh.

Bagi saya ini sungguh tidak menyenangkan. Berbagai tulisan, slide presentasi, materi, diskusi santai hingga serius dengan teman-teman mengenai pengelolaan kawasan karst dilihat dari berbagai aspek telah saya jalani. Berbagai pustaka berbagai disiplin ilmu, kerangka teori, paradigma saya ikuti dan saya telaah semampunya untuk kemudian hanya sekedar beronani belaka.

Sungguh getir.

Dalam diskusi tersebut saya diceritakan berbagai proses penanganan kasus tersebut mulai dari kemelut produk hukum hingga jalannya berbagai persidangan baik di ranah pidana maupun persidangan ilmiah. Dapat saya katakan bahwa bentrokan yang terjadi adalah golongan pro-pemanfaatan dan golongan pro-perlindungan. Saya, by default, seharusnya memihak golongan pro-perlindungan dengan segala tanggung jawab ilmiah dan semangat kemanusiaan kemapalaan. Seharusnya. Di lain sisi, saya membiasakan diri untuk terbiasa melihat dan menganalisis sesuatu secara ketat. Fakta yang saya dapat harus benar-benar bisa saya percayai dan saya yakini keberadaannya. Agaknya kebiasan sok ilmiah ini yang banyak membuat saya macet dalam membuat suatu pergerakan, katakan lah pergerakan seperti update status atau menyuarakan ketidakadilan yang terjadi.

Menariknya, saya justru melihat bahwa pola pikir saintifik yang diterapkan dalam jalannya kasus ini tidak berguna sama sekali. Kedua pihak memiliki basis data dan argumentasi yang valid secara saintifik, apa yang lantas kemudian terjadi? sains membunuh sains. Bahwa ilmu pengetahuan mutlak diperlukan baik oleh sosialisme (atau anti-kapitalisme yang diwakili oleh pro-perlindungan) dan oleh kapitalis-kapitalis tersebut. Keduanya memakai metode ilmiah yang sama-sama vaild dan mengagumkan serta dapat dipertanggungjawabkan. Yang terjadi pada akhirnya adalah toh satu pihak kalah. Apakah ini contoh nyata hadirnya jenjang kebenaran dalam sains? Semisal knowledge is power, mengapa ada pihak yang memiliki kuasa lebih akhirnya bisa mengangkangi mereka yang juga memiliki knowledge.

Entah lah, saya tidak paham. Bagaimanapun kasus ini membuat saya merasa seperti pecundang dan ini sungguh menjengkelkan.

Kemanusiaan tidak butuh pertanyaan, kemanusiaan tidak butuh alasan.

scriptammanent

Tubuh

Baik, akhirnya saya menemukan topic yang cukup menarik dan aman untuk dibahas. Setelah berhari-hari terpuruk dikepung tugas dan pekerjaan yang menjemukan, saya pikir menulis (selain Burgerkill, tentunya) menjadi sarana pelampiasan yang menyenangkan. Dan kali ini apa yang menjadi topic pemikiran saya adalah soal tubuh. Sebelumnya saya mencoba membuat tulisan mengenai relasi antara seksualitas dan agama namun urung saya selesaikan karena tulisannya berantakan. Entah bagaimana, belakangan pikiran saya dipenuhi kekacauan dan abstraksi sehingga sulit menuliskannya. Hal itu tentu saja begitu menyebalkan dan mengganggu.

Sebagai disclaimer, saya tengah menikmati gaya tulisan ofensif dan sarkastik. Sedapat mungkin saya akan bermain aman di tulisan ini untuk tidak memicu ketegangan dengan teman-teman pegiat feminitas dan kesetaraan jender yang masih saya anggap sebagai barisan pegiat paling galak. Tidak mungkin mendiskusikan tubuh tanpa membawanya ke ranah jender. Untuk amannya, sedapat mungkin saya mencoba berimbang, alih-alih netral dalam memaparkan studi kasus jender. Bagi Anda yang sudah merasa tidak nyaman, dengan senang hati saya sarankan untuk berhenti saja.

Baik kita mulai, tidak terlalu panjang juga kok.

Kita tahu atau bila Anda belum tahu, maka mari kita sepakati bersama dulu. Tubuh merupakan objek kekuasaan, kepengaturan dan politik yang empuk. Dalam ranah publik, tubuh ditempa, dibentuk, dipahat, dicincang, diubah warnanya, diraba, dieksploitasi dan dikomodifikasi. Artinya, tubuh merupakan arena yang sangat panas tempat aktor-aktor bertarung untuk kapital yang mereka miliki. Industri yang berkenaan dengan tubuh merupakan industri yang sangat besar. As the beauty matters, industri kecantikan termasuk salon, produk perawatan tubuh, jasa dandan, hingga fashion menjadi industri-industri yang sanggup menandingi sektor energi.

Sebelumnya, saya pikir penting untuk membedakan antara tubuh (body) dengan jasad (corpse). Jasad adalah kumpulan daging dan tulang Anda an sich yang tersusun hanya secara morfologis dan fisiologis; das sein. Sedangkan tubuh adalah kumpulan daging dan tulang Anda yang dibentuk dan dipersepsi; das sollen.

Sebagai suatu das sollen, maka dalam persepsi masa kini, tubuh diangkat tinggi ke dalam ranah-ranah simbolik di ruang publik. Sebagai suatu konsepsi simbolik yang termasuk sebagai fakta sosial dalam pendekatan durkheimian, maka, menurut Amir Pialang, tubuh tak lepas dari agenda-agenda perubahan sosial. Tubuh berevolusi sesuai dengan tuntutan zaman. Tubuh pada masa prasejarah, masa sejarah, dan post-sejarah memiliki bentuk yang berbeda-beda. Selain berevolusi, tubuh juga memiliki perbedaan di tempat dimana dia tumbuh. Tubuh di Afrika akan berbeda dengan tubuh di Asia dan tubuh di Amerika.

Kita kembali ke premis utama bahwa tubuh adalah milik domain simbolik. Domain simbolik berada di jagat idea yang abstrak dan sangat lentur. Dunia abstrak-idea manusia adalah dunia yang penuh dengan perubahan. Perubahan yang terjadi bisa sangat radikal dan terjadi dalam skala waktu yang sangat singkat. Tak pelak mereka yang senang berada di dunia idea atau la la la land menurut bebrapa orang adalah orang yang tersiksa karena dituntut berubah dengan selalu cepat. Ini kawan-kawan, sangat melelahkan. Konsekuensi hal tersebut terhadap tubuh adalah tubuh juga berubah dengan begitu cepat, persepsi kita tentang tubuh tidak ajeg dan berubah-ubah sesuai dengan kondisi struktur-struktur di sekeliling kita.

Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut bukannya tanpa tujuan. Setiap ideologi yang menjadi landasan perubahan memiliki tujuannya. Agenda perubahan tubuh adalah demi memenuhi hasrat (desire) manusia atau menurut Baudrillard, tubuh dirancang menjadi agen penggoda (seduction). Dengan bertolak dari hasrat, kita bisa merekayasa perilaku manusia-manusia. Ini dipahami betul terutama oleh rezim kapitalistik yang sangat getol dan memiliki perhatian sangat besar terhadap tubuh. Melalui hasrat, mereka mendorong konsumsi dan penjualan barang-barang. Bagi wanita, produk kecantikan dan kosmetik menjadi komoditasnya sedangkan bagi pria prostitusi dan pornografi menjadi komoditasnya.

Agen penggoda ini yang menjadi sebab-musabab tubuh dianggap sebagai hal yang berbahaya. Secara das sein, nothing is wrong with the body; it’s all on your mind kalau kata Anggun C. Sasmi. Namun kita tidak bisa menjadi naïf dan menganggap bahwa tubuh berada dalam ruang kosong sesuai dengan apa yang ia miliki (fenomenologi tubuh rasa-rasanya cocok buat menjelaskannya). Semua tubuh akan menimbulkan intensi dan tidak hanya terbatas di ranah hasrat seksual.

Nothing is wrong with our and our mind as well, it’s all on capitalist

Kini kita bicara mengenai tubuh yang ofensif. Tubuh dengan segala relasi dan atributnya adalah candu. Bagi Anda yang belum pernah mengalami pengalaman seksual tentu agak kesulitan memahami hal ini. saran saya, cari lah pengalaman itu. Tidak sepakat? Tentu saja, itu lah titik dimana pikiran etis kita membentengi kita. Pengalaman seksual ditancapkan dari awal hanya boleh dan hanya boleh didapat di dalam institusi perkawinan. Di luar institusi itu, haram sangat hukumnya, perzinahan yang berujung kepada hukuman mati.

Dalam konteks Foucaultian hal ini tentu saja menarik. Kita dapat melihat bagaimana pengaturan tubuh menjadi counter-culture yang garang di awalnya namun melempem pada akhirnya. Contohnya saja: jilbab. Jilbab yang merupakan sarana penjaga aurat tubuh yang digdaya kini diserap dan digeser fungsinya. Masih sering saya jumpai anekdot bahwa “kamu kalo berjilbab tambah cantik loooh” sebagai pembenaran dalam upaya mengajak seseorang berjilbab. Ini aneh, bahwa seharusnya orang yang berjilbab harusnya ingin tampil lebih jelek bukan agar hasrat orang terhadapnya menjadi berkurang.

Dalam industri fashion ini menjadi hal yang perlu diperhatikan. Kita diajarkan bahwa salah satu fungsi pakaian adalah untuk menutupi aurat dan tubuh. Namun kini, menurut Marshall McLuhan, pakaian dan juga seluruh alat-alat di era postmodern ini tak lebih merupakan ekstensi organ tubuh kita. Pakaian merupakan ekstensi dari kulit kita. Ia hadir memang untuk menutup aurat namun malah menimbulkan hasrat yang lebih hebat lagi. Ia seringkali malah mengamplifikasi kadar seksualitas dari tubuh.

Dengan melihat intensitas kepengaturan tubuh yang penyalahgunannya (termasuk seks di luar nikah atau zina) dapat berujung kepada hukuman mati kita perlu bertanya-tanya bahwa kadar tubuh adalah sebesar kadar hidup itu sendiri. Mereka yang menyalahgunakan tubuhnya tidak pantas hidup. Saya tidak mau mengelaborasi hal ini lebih jauh, saya hanya mau menunjukan dalam konteks pemahamana masyarakat, tubuh memiliki peran yang sangat vital dan krusial.

Saya pusing, jadi mau saya sudahi saja tulisan ini. Saya termasuk dalam golongan yang tidak mempermasalahkan bagaimana seseorang mengatur dan mendayagunakan tubuhnya. Kesadaran akan tubuh adalah kesadaran akan diri Anda sendiri. Anda bebas saja memandang tubuh Anda dan meletakkan kehormatan Anda didalamnya atau Anda bisa serampangan menggunakan tubuh Anda atau bahkan mengobralnya. Setelah Anda mendapatkan kesadaran mengenai tubuh Anda, segeralah mencari pengalaman seksual agar penghayatan Anda terhadap tubuh Anda mencapai penghayatan yang sempurna. Menikahlah! Atau tidak juga tidak mengapa.

scriptammanent

Silence of Science

Saya merasa bahwa kini seluruh elemen kehidupan semakin terfragmentasi. Mereka terpecah belah, saling tercerabut, terputus, dan mengosongkan. Celakanya, elemen-elemen tersebut kemudian terjeblos ke dalam nuansa kompetisi yang jelas saja saling mencurigai dan tidak saling mempercayai. Dan apa yang tengah menjadi perhatian saya beberapa hari belakang ini adalah mengenai tercerabutnya ilmu pengetahuan dari kehidupan praksis manusia.

Fokus saya tersebut bukan muncul dari ruang kosong. 2 hari yang lalu, ketika tengah menyelesaikan sebuah tulisan, saya mendapatkan topic menarik mengenai bagaimana ilmu lingkungan (dan ekologi) tidak lagi dapat dilepaskan dari konteks politik. Bicara ekologi, maka kita bicara soal politik. Adalah Tim Forsyth yang menelurkan paradigma demikian. Di tengah semakin kompleksnya permasalahan lingkungan, maka ekologi dan ilmu lingkungan tidak cukup hanya bermain di zona amannya.

Zona aman tersebut adalah kungkungan normative-protokoler. Dalam contoh ilmu lingkungan, praksis utamanya adalah konservasi. Dan lucunya, praksis konservasi tersebut mulai melantur ke kanan ke kiri dan semakin menjauh dari praksis itu sendiri. Konservasi, kini hanya semata-mata menjadi jargon dan simbol semata.

Akibatnya adalah struktur praksis tersebut menjadi acak adul. Konservasi tidak lagi menjadi praksis-epistemologi yang berujung kepada emansipasi, melainkan malah menjadi tujuan. Untuk mencapai tujuan konservasi, maka praksisnya kini hanya berkisar di retorika reboisasi dan penanaman kembali. Hoaaaam, saya bukannya tidak sepakat, namun di tengah kemelut permasalahn lingkungan yang begitu mbulet  ini, upaya reboisasi dan penanaman kembali atau seluruh jargon konservasi yang ada di jalanan terasa tidak nyata dan hanya basa-basi belaka. Yang diperlukan untuk itu adalah pendobrakan.

Dan saya percaya bahwa pendobrakan, revolusi dalam praksis sehari-hari dimulai dari revolusi dalam sains. Kita melihat di abad ke 15 bagaimana sains mengobrak-abrik tatanan teokratis dan hegemoni institusi agama. Kita melihat lagi di abad 18 sains kembali menunjukan supremasinya dengan menjungkirbalik tatanan masyarakat lewat revolusi industri. Dan di abad 21 ketika fisika kuantum menancapkan relativisme, at its finest.

Untuk itu, dalam menghadapi permasalahan lingkungan, ilmu lingkungan harus melakukan revolusi dalam tubuhnya sendiri secara terus menerus. Ia harus berlari sekencang inovasi dan seluwes maneuver kapitalisme jika masih mau menjadi mercusuar bagi permasalahan lingkungan yang ada.

Bersediakah kita?

Saat ini, para akademisi sibuk berdebat entah apa. Mahasiswa juga tidak jelas arah pergerakannya. Mahasiswa sering mangkir kalau kuliah, unit kegiatan mahasiswa tidak laku, research week tak ada peminat, pameran buku tak meledak (ramainya kalau pas di job fair aja). Dan di tengah arus kapitalisme-neoliberalisme yang menjadi terdakwa utama dalam kasus kejahatan lingkungan, para akademisi ini bak orang bingung; tertatih-tatih menjelaskan kondisi.

Anehnya, keadaan tersebut disadari betul namun tidak ada upaya nyata untuk mengantisipasinya. Akademisi begitu nyaman berlindung dalam kidung moralitas bebas-nilainya. Bahwa sains tidak butuh intensi dari peneliti. Netralitas adalah solusi untuk mencapai kebenaran absolut. Selama sains dan saintis bungkam, selama itu dunia hanya jadi bulan-bulanan. Knowledge is power.

Dan sungguh menyiksa untuk hanya membaca berbagai kasus ketidakadilan lingkungan dan berbagai teori yang menjelaskannya secara berbunga-bunga di balik dinding rumah yang aman dan nyaman.

scriptammanent

Ranah

Malam ini ada satu pertanyaan atau perumusan masalah yang tetiba menyeruak. Pertanyaan tersebut adalah ‘siapa yang paling punya kepentingan atas diri saya?’. Mengesankan bukan?

Bahwa saya meyakini tidak ada yang berasal dari ruang hampa, maka permasalahan tersebut barang tentu ada pemicunya. Ya, salah satu pemicunya adalah upaya saya dalam memahami pendekatan Bourdieu. Pemikirannya, untuk saat ini, saya anggap yang aling mengesankan karena ia dapat mempertemukan dan menegosiasikan dua pendekatan yang penuh kemelut: voluntarisme-eksistensialisme dan strukturalisme.

Kedua paham tersebut berada pada kutub yang antagonis dan saling memberikan keberatan satu sama lain. Di satu sisi, makhluk manusia dianggap sebagai produk kebebasannya, segala motivasi, preferensi, dan perilaku manusia adalah hasil pemikirannya sendiri. Di sisi lain, makhluk makhluk manusia dianggap sebagai produk-produk struktur masyarakat dan makhluk manusia lain di sekelilingnya. Perdebatan ini begitu fundametal dan mengakar. Dan, puf! datanglah Bourdieu dengan konsep mahaeloknya: habitus.

Namun, sama seperti konsep eksistensiaisme Heidegger, konsep ini sulit dipahami. Untuk itu, daripada saya menceritakan konsep yang tidak-tidak, maka saya ambil pemikiran Bourdieu yang relatif lebih sederhana: konsep arena.

Terminologinya berbeda-bede, bisa arena atau ranah atau field, tergantung buku mana dan siapa yang menterjemahkannya. Namun dalam tulisan saya, saya lebih suka menggunakan kata arena karena terkesan lebih jantan. Arena adalah konsep yang cukup penting karena dalam arena, seperti arena yang sebenarya, terjadi kontestasi.

Siapa yang berkontestasi? Para aktor dan pemangku kepentingan. Apa yang dikontestasikan? Kapital. Di dalam suatu arena, terdapat aktor-aktor yang menginvestasikan kapitalnya untuk memperebutkan kapital lainnya. Oh, sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami bahwa konsep kapital Bourdieu berbeda dengan kapital dalam pemahaman Marx. Dalam terminologi Bourdieu, kapital terdiri atas beberapa jenis: sosial, kultural, ekonomik, dan simbolik.

Para aktor di dalam arena tertentu kemudian saling berlomba menginvestigasikan kapital tersebut untuk mendapatkan kapital yang lebih besar atau mengubah satu jenis kapital dengan kapital lainnya. Katakan lah, dalam arena pendidikan, kita menukarkan kapital ekonomik kita berupa uang untuk menjadi gelar sarjana yang menjadi kapital sosial atau kapital kultural kita. Atau katakan lah dalam arena jalanan, seorang preman menggunakan kapital sosialnya untuk memalak dan menjadi kapital ekonomik berupa uang. Begitu lah kira-kira.

Menjadi menarik ketika kita memandang diri kita atau setiap makhluk manusia adalah masing-masing arena.

Saya, Anda, dan 7 milyar manusia lain merupakan arena tempat aktor-aktor meletakan investasi dan memanen investasi. Sebagai arena kita menjadi tempat pertarungan berbagai pihak. Sebagai contoh: orang tua, pemuka agama, dosen, pacar, istri, hingga peer group. Masing-masing punya kepentingan di dalam diri kita. Apa itu kepentingannya? Setiap kapital yang ditanamkan dan kapital yang akan mereka tuai.

Dalam kondisi riil, yang paling banyak berinvestasi dalam diri kita adalah orang tua kita. Beberapa mungkin merasakan Tuhan yang berinvestasi paling banyak. Well, intinya, mereka yang menyediakan basis atau infrastruktur bagi hidup kita adalah mereka yang paling punya kepentingan disini. Saya sebut punya kepentingan karena selain mereka harus menuai investasi kapital mereka, mereka juga penting dalam artian krusial dan esensial. Hasil dari kepentingan tersebut adalah relasi kuasa yang tarik ulur dan saling bernegosiasi dalam kehidupan kita sebagai arena.

Maka sebenarnya mudah saja memahami arah kehidupan kita bagi Anda yang tengah limbung diterpa quarter life crisis misalnya. Petakan lah aktor-aktor apa saja yang ada di hidup kita, lalu inventarisasi persepsi dan fantasi mereka terhadap diri kita, itu penggunaan struktur. Tapi jangan lupakan, inventarisasi juga persepsi dan fantasi kita terhadap para pemangku kepentingan itu. Cari irisannya, lalu melenggang lah dengan anggun. Tambahkan sedikit bumbu pragmatisme dan voila!

Udah ah, saya mengantuk.

scriptammanent

Death | Religion

Ada hantu yang tengah membayangi eksistensi manusia, hantu kematian.

Kesadaran akan kematian merupakan kesadaran yang menurut saya paling luar biasa manusia. Setelah kesadaran simbolik dan etika, saya pikir, pemahaman mengenai kematian adalah hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya di bawah matahari ini. Dalam kematian, manusia menemukan makna, dalam kematian, manusia mendapatkan otentitasnya. Tak ayal, diskusi tentang kematian selama berabad-abad terus merecoki manusia dengan segala misterinya.

Kematian itu sendiri lebih misterius dibanding keberadaan Tuhan maupun masa lalu. Kita tahu bagaimana semangat filsafat spekulatif pada pertengahan abad 17 sampai abad 18 berhasil untuk beberapa lama mengungkap makna-makna pelampauan (beyond). Para leluhur kita itu bisa membongkar bagaimana realitas bekerja, bagaimana kesadaran manusia bisa ada, hingga pemahaman tentang tuhan yang dibawa pada aras-aras yang berbeda dari sebelumnya. Namun soal kematian? Tidak ada satupun filsuf atau pemikir atau ilmuwan yang sanggup menjelaskannya sesuai dengan kaidah-kaidah metodologis.

Karena kematian tidak dapat dipahami, maka kematian kemudian hanya diapresiasi. Kematian menjadi narasi-narasi anekdotal yang bersifat kedongengan dengan estetika sebagai perangkat apresiasinya. Sastra, puisi, dan seni menjadi aras-aras tempat kematian dibuka, diperbincangkan, dikomunikasikan, dan diinterpretasikan dengan sangat asyik. Mungkin salah satu karya yang paling terkenal adalah Dante dengan Divine Comedynya. Dan saya yakin di tengah pengetahuan yang sangat terbatas ini, masih banyak contoh katya lain, ada banyak sekali.

Dan dari seluruh struktur yang berperan dalam kehidupan dan perikehidupan manusia, agama yang sekiranya paling bisa menjelaskan dengan memuaskan.

Agama, bagi saya, merupakan struktur yang paling ambisius untuk mengontrol manusia. Setidaknya, apa yang disampaikan oleh timeline media sosial belakangan ini mengatakan demikian. Dia menjadi solusi pertama dan utama dari segala kebobrokan masyarakat masa kini. Agama hadir memberikan penjelasan, solusi, dan jawaban atas segala permasalahan manusia mulai dari pertanyaan eksistensial hingga cara ceboknya. Enak betul menjadi orang beragama, hidupnya tata titi tentrem gemah ripah loh jinawi. Celakalah mereka yang mengkritisinya.

Ah, saya jadi nyinyir, gusti parengi ampun.

Salah satu upaya yang juga sangat ambisius dari agama adalah penjelasan soal kematian. Tak hanya penjelasan soal kematian, agama bahkan menyiapkan settig untuk pasca-kematian. Mengapa kita mati? Apa yang terjadi setelah kematian? Kemana kita setelah mati? dan pertanyaan matiniah tersebut saya rasa telah dijawab dan dielaborasi sangat baik oleh agama. Sains masih tertinggal sangat jauh dan kelihatannya tidak akan pernah sanggup mengejar agama dalam hal ini. Filsafat masih terbelit dengan spekulasinya dan sementara bisa kita tinggalkan.

Sebentar, kita mungkin bisa memungut Heidegger di sini. Yeps, Heidegger sebagai filsuf punya concern yang cukup baik untuk kematian. Keresahan (angst) manusia terhadap keterlemparan atau kejatuhannya di bumi ini akan menemui pemecahannya di kematian. Keatian merupakan satu-satunya kepastian dalam perjalanan dassein di dunia ini. Yang ini saya sepakat. Sebagai satu-satunya kepastian dalam hidup manusia, maka kematian adalah kebenaran yang utama (ultimate truth). Ini lah kemewahan yang diberikan oleh sang pencipta kepada manusia lewat kesadarannya akan kematian.

Oke, agama menyadari hal itu dan mereka lalu menginternalisasi kematian sehingga agama menjadi begitu superior. Bagaimanapun bodohnya hidup Anda (sebagai pengkhianatan terhadap sains) atau rusaknya hidup Anda (pengkhianatan terhadap etika), matilah dalam keadaan beragama! Di alam kematian, agama Anda dengan segala instrumennya yang menjadi andalan Anda, bukan kepintaran bukan pula harta.

Ini merupakan sebaik-baiknya retorika, sungguh. Manusia tidak punya pilihan apapun kecuali menghadapi kematiannya yang dengan senang hati sudah dipersiapkan oleh agamanya. Agama, merupakan event organizer terbaik untuk urusan kematian. Mulai dari jasad, firasat hingga ruh Anda di alam sana sudah diatur sebaik-baiknya oleh agama Anda.

Dan sebagai tambahan, di dalam kematian manusia menghadapi ketakutan terbesarnya.

Heidegger menyebutkan soal being is being-towards-death. Berada berarti berada-terhadap-kematian. Maksudnya adalah kematian merupakan komponen atau elemen yang inheren terhadap keberadaan dassein. Imaji kematian adalah imaji fundamental yang menyusun seluruh hidupnya. Tak peduli kemana ia berlari atau bersembunyi, bayang-bayang kematian akan dengan sangat mudah menemui dan menyapanya kembali. Selama itu manusia didera penderitaan ketakutan pada kematian selama itu pula agama sangat krusial dibutuhkan.

Saya pikir itu lah sebabnya banyak orang akhirnya berpulang kembali ke agama. Well done religion, you do very well.

scriptammanent 

 

 

Sureal

Sureal? Itu loooh yang buat sarapan pagi, yang kayak ener*en gitu deh.

Jayus.

Kenapa jayus? Apa karena tidak cukup ironis? tidak cukup cerdas memelintir realitas? atau karena tidak hiperbolis? Entah lah. Tampaknya perlu juga membahwa soal bagaimana kelucuan bisa terjadi, mana yang disebut lucu dan yang mana yang tidak. Ini jelas menarik, sebab kata Milan Kundera “Kecerdasan tertinggi adalah humor”. Sepakat.

Namun sebelum kita kesana dan mentertawakan lelucon menyedihkan saya di awal postingan ini, mari kita membahas soal surealitas ini.Surealitas merupakan singkatan dari superrealitas. Superrealitas adalah sebuah aliran dan merupakan sebuah gaya tersendiri dalam seni. Setahu saya, gerakan ini muncul pada tahun-tahun 1920, yaps, dekat dengan Golden Age pada periodisasi sastra. Munculnya gerakan ini didorong oleh kemuakan terhadap otomatisasi atau mechanical art yang sangat statis dan teknologis itu. Saya paham mengapa orang-orang kemudian memberontak terhadap mechanical art. Aliran itu terlalu mengesankan dan sangat kering. Kita tahu bahwa pada era itu, manusia disilaukan oleh mekanika dan segala macam positivisme, presisi, dan mekanisasi yang maha ampuh itu.

Surealisme muncul dan ada dimana saja serta terjadi pada siapa saja, terlebih kepada mereka yang bosan dengan segala mekanisasi dan keteraturan. Termasuk saya? Rahasiaaa.

Begitulah kemudian minggu lalu saya mendapatkan asupan surrealisme yang sangat bergizi: yang satu adalah pameran sahabat saya, Meliantha Muliawan dan yang kedua adalah film Ponyo.

Saya mulai dari pameran sahabat saya. Ini judulnya: Translucent

Translucent (adj.) (of a substance) allowing light, but not detailed images, to pass through; semitransparent.

Pameran Meli mengambil tema anak kecil. Tema yang sebenarnya cukup umum untuk diambil. Tapi hey, tema apa yang tidak cukup umum di era ini? Nihil sub sole novum. Meli tidak asing dengan dunia anak kecil. Sebelumnya ia mempunyai Nina, ‘anaknya’ yang juga bertindak sebagai alteregonya. Nina adalah karakter yang lucu dan menggemaskan.Meli, kemudian mengemasnya dengan cara yang menarik. Ia menggunakan media resin sebagai media dalam menggambarkan karyanya.

Oleh sebab itu ia memebrikan judul pamerannya sebagai translucent. Sebagai media, resin memberikan efek transparan dan tembus pandang. Dalam penuturannya, efek resin akan menimbulkan bayangan yang memberi efek kedalaman air. Kedalaman tersebut yang menjadi inti dari karyanya. Anak kecil memiliki kedalaman yang menipu. Kita, sebagai orang dewasa, selalu tertipu dengan kedalaman pemikiran anak kecil. Tak pernah ada orang dewasa yang cukup cerdas untuk dapat memetakan dan menyelami kedalaman rasa dan imajinasi dari anak-anak. Selalu ada ruang antara, selalu ada jarak yang tercipta antara kita dan anak-anak.

Dunia anak-anak adalah dunia yang sureal, ketika segalanya memiliki nuansa dan warna. Segalanya, memiliki rasa.

Lalu malamnya saya menonton Ponyo. Teranglah apa yang dimaksud oleh Meli. Dengan penuh sesumbar asumsi, saya memvonis Ponyo adalah sinema sureal. Ada gap yang saya rasakan ketika menonton kartun itu dan saya harus terus menerus berteriak dalam pikiran saya, “tonton ini selayaknya anak kecil, idiot! logikamu yang juga tak seberapa itu hanya akan membuatmu tampak semakin tolol di hadapan supremasi imajinasi Studio Ghibli”. Betul, bahwa ketika menghadapi semesta surrealitas kita akan tercengang, atau takut, atau bingung, atau melecehkannya dengan mengatakan “ga jelas ih!”.

Kita kehilangan anak-anak dalam diri kita yang dengan jumawanya kita kerangkeng dalam penjara logika. Ruang itu yang tengah saya akomodir kembali. Saya sadar bahwa saya tidak menyukai anak-anak yang serba merepotkan dan mahal biayanya itu, namun lewat anak-anak lah kita akan melihat dan memahami dunia yang serba amburadul dan serabutan ini.

scriptamanent

Kausalitas

Saya mulai mengamalkan adagium soal kembali kepada sesuatu yang ada sehari-hari, banalitas sebagai titik tolak dari postingan saya di blog ini. Lebih baik melihat sesuatu yang memang secara ada dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai realitas yang lebih tinggi dibanding sebaliknya. Gerakan memulai dari bawah ini saya pikir akan menjadi warna yang terus saya coba pertahankan.

Maka, dalam kesempatan ini, saya hendak membicarakan soal kausalitas. Kausalitas merupakan fenomena asasi yang mendasari seluruh proses yang ada di semesta. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengalami milyaran rentetan kausalitas dalam berbagai dimensi dan satuan waktu. Begitu terbiasanya kita dengan kausalitas ini sehingga menganggapnya sebagai sesuatu yang taken for granted. Sama taken for grantednya seperti pertanyaan-pertanyaan eksistensial ataupun struktur-sturktur sosial yang kita alami.

Dalam semesta bahasa (sphere of language), gejala kausalitas dapat dilihat dalam penggunaan frase “na na na na soalnya na na na na” atau “blab la bla karena bla blab la” atau “uvuvwevweve onyetenyevwe ugwembubwem ossas makanya uvuvwevweve onyetenyevwe ugwembubwem ossas”. Tak ada fenomena dan peristiwa di kolong langit ini yang tidak disebabkan oleh rentetan kausalitas, sekali lagi, tidak ada.

Sungguh? Tidak semuanya. Dalam filsafat teologi terdapat bentrokan besar antara golongan kreasionis dan golongan emanasi untuk menjawab darimana semua rentetan kausalitas ini dimulai. Kita bisa mensimplifikasinya lewat sang Prima Causa atau sang penyebab pertama yang tak lain adalah yang teman-teman sebut sebagai Tuhan. Lantas, dilemanya menjadi seru ketika pertanyaan berikutnya lahir: darimana Tuhan berasal? Ada yang menatakan sebagai creatio ex nihilio, penciptaan dari ketiadaan dan ada yang mengatakan bahwa bukan creatio ex nihilio melainkan emanasi yang berlaku. Pusying pala Barbie, baik kita simpan dulu perdebatan maha abadi ini ke dalam kotak bersama dengan kucing Schroedinger dan kita buka nanti setelah benar-benar memahami prinsip-prinsip fisika kuantum. Deal.

Lewat paragraph diatas, saya mau menyatakan bahwa prinsip kausalitas dapat diterima dengan baik sesuai dengan disiplin positivism logis yang ketat dan sok disiplin itu lewat proses falsifikasi walau serampangan. Bagaimanapun, saya bisa berpendapat gejala ini diterima, cihuy, mari kita lanjut.

Kausalitas merupakan interaksi dan interrelasi antara dua perisitiwa atau dua fenomena. Sang penyebab dan efek dari penyebab tersebut. Interaksi tersebut berlangsung dalam mata rantai maha berkepanjangan dan ada sejauh pikiran manusia bisa mengkonstruksi bila Anda seorang konstruktivis atau sejauh alam semesta ini ada bila Anda seorang realis. Kausalitas berada dalam seluruh jagat dan semesta, mulai dari jagat sehari-hari hingga jagat idea dan ilmu pengetahuan.

Dalam melakukan pengamatan terhadap kausalitas kita dapat melihat dua fenomena yakni fenomena interaksi antar dua peristiwa dan efek yang ditimbulkan olehnya. Keduanya, yang terikat dalam suatu ikatan kausalitas kerenanya interdependen. Sang efek terikat pada sang penyebab. Apa itu efeknya tergantung pada berbagai kualitas inheren yang bebas nilai dan pada maksud yang penuh intensi dari objek yang berkesadaran. Kita terpecah lagi disini bagi Anda yang seorang voluntaris dan yang determinis.

Ini bagian menariknya: eksistensi interdependental. Pernahkah Anda merasa bahwa kehadiran Anda atau segala yang bisa Anda cerna dalam kesadaran Anda merupakan sesuatu yang sangat mencurigakan? Dalam bentuk perumusan masalahnya, Anda akan dihadapkan pada “where the hell all of these came from?!” dan ya, hal tersebut membuat frustasi dan termasuk ke dalam kegalauan eksistensial Anda yang sebenarnya tak seberapa itu.

Dalam merasionalisasi sesuatu untuk membuat Anda tetap berada dalam posisi berkuasa, genealogi atau asal muasal sesuatu merupakan variabel yang hakiki. Ini yang berbuah pertanyaan yang menurut saya sangat mendasar: apa ini dan darimana ini. Keduanya terangkum dalam semesta yang berbeda namun berkelindan membentuk pemahaman akan realitas dan rasionalisasi di dalamnya, ya termasuk kegalauan eksistensial Anda yang tak seberapa itu.

Kita bisa merunutnya. Salah satu pendekatan yang dapat Anda lakukan adalah progressive contextualization yang dicetuskan dengan jenius oleh Andrew Vayda (1983). Saya mendapatkan metode ini dalam kuliah Lingkungan Sosial Budaya dan jujur saja, metode ini mengerikan. Dalam memandang fenomena lingkungan budaya, pengamat diwaibkan untuk bertanya ‘mengapa’ hingga hayat tak lagi dikandung badan, sak modar e. Simple yet deadly. Dengan melakukan pendekatan ini, Anda akan terombang-ambing dan sampai kepada hal-hal yang tidak akan duga sebelumnya. Selamat mencoba.

Kegagalan metode ini adalah ketika para pengamat tidak tahan dan tidak kuat dalam merunut pertanyaan-pertanyaan mengapa hingga ribuan kali itu. Mereka bisa berhenti sejenak dan beribadah, mengingat Tuhannya atau mereka bisa tidak berhenti sama sekali dan membunuh Tuhannya. Dengan bahasa lain, ada yang membuat pertanyaan dan upaya progresif tersebut berhenti di satu titik. Titik itu yang disebut sebagai ultima causa atau prima causa. Perhentian manusia dalam rantai kausalitas ini yang menjadi titik penting. Manusia sebagai proses yang terus menjadi berarti manusia terus terseret dalam arus kausalitas. Manusia juga, sebagai makhluk yang memiliki kesadaran dan kehendak secara simultan menjadi penyebab dan efek dari yang ditimbulkan olehnya. Dan di dalam pemberhentian tersebut manusia menemukan kebenaran sejatinya.

Bilamana itu? Ketika manusia mati. Manusia yang merasa mendapatkan jawaban dan penyebab dari rantai kausalitas termasuk segala-gala penyebab dari kemahakompleksitas tersebut adalah manusia yang mati. Dan sebagai manusia yang mati, ga usah ditemenin yuk.

scriptamanent

Truth

Baiklah.

Salah satu motivasi untuk menulis ini adalah pesan anekdotal yang saya baca di salah satu lini masa. Saya pikir bahwa pesan tersebut cukup kontekstual dengan kondisi yang tengah terjadi saat ini. sulit memang rasanya untuk menahan diri tidak berkomentar mengenai berbagai macam fenomena dan perisitiwa yang ada. Permasalahannya adalah menuangkannya di dan dalam media yang tepat dan bagi saya, blog ini menjadi media yang tepat.

Pesan anekdotal tersebut berbunyi:

‘from ‘I think therefore I am’ into ‘I believe therefore I am right’’.

Apa yang saya tangkap kira-kira seperti ini. Bahwa kini, manusia semakin menjauh dari penggunaan akal-akalnya yang diwakili oleh proses thinking. Alih-alih berpikir, mereka lebih senang menggunakan daya percaya mereka. Menggunakan daya percaya tentu saja lebih mudah ketimbang harus melakukan kajian dengan daya pemikiran yang ketat. Selain itu, bahwa manusia kini dalam proses jadinya ditentukan oleh kebenaran-kebenaran. Kalimat I am right merupakan frase yang perlu dikaji lebih jauh untuk melihat relasi antara manusia yang jadi atau berada (I am, sulit sekali mengartikan subjek + to be nya ke dalam bahasa Indonesia, saya harap Anda membaca makna to be dan membedahnya lebih dalam) dengan kebenaran (right). Kedua hal tersebut yang menjadi pokok tulisan saya malam ini, semoga berkenan.

Cogito versus Credo

Ini merupakan pertentangan yang abadi. Dalam membedah konsep ini, yang menjadi titik sentrasi saya adalah relasi antara cogito (saya berpikir) dengan credo (saya percaya). Masing-masing memiliki alat berupa rasio untuk sang cogito dan iman (fidei) untuk credo. Manusia, dalam hal ini, memiliki kedua dimensi tersebut dalam mengkonstruksi atau menerima kebenaran.

Kita tahu, bahwa bentrokan antara iman dan akal menjadi warna yang sangat mencolok dalam jagat pemikiran filsafat Kristen. Berbagai pola relasi mewarnai bentrokan ini. Pola relasi tersebut dirumuskan dalam berbagai perumusan masalah seperti: ‘mana yang lebih didahulukan?’, ‘mana yang akan membawa manusia ke dalam kebenaran?’, atau ‘bagaimana genealogi keduanya?’.

Saya tidak mau menerapkan hubungan keduanya dalam kerangka normatif sebagai ‘yang satu lebih baik dari yang lain’. Sama halnya seperti saya enggan meletakan kerangka normative pada lisan dan tulisan pada beberapa postingan sebelum ini. sebagai suatu eksposisi, maka tulisan ini hanya bersifat penjabaran semata, saya mencoba mungkin tidak berpihak.

Bahwa kemudian, golongan yang mendahulukan akal dan rasionya akan menjadi golongan rasional-matrealis sementara yang mendahulukan imannya akan menjadi golongan fundamentalis. Keduanya benar pada suatu kesempatan dan salah di kesempatan yang lainnya. Saya tidak mau ambil pusing dengan hal tersebut dan mencoba mengambil jalan tengah bahwa rasio menjelaskan iman dan iman menghayatkan rasio. Perdebatan ini muncul semenjak era Yunani klasik dari Plato, hingga Aristoteles yang menghubungkan antara mitos dan logos.

Namun, apa yang saya yakini adalah bahwa kedua elemen tersebut harus hadir dalam proporsi yang seimbang. Manusia dengan wawasannya harus menggunakan pisau rasionya untuk terus mencincang imannya hingga ia menemukan Sang Haqq. Kepercayaan buta bagi saya hanya menjadikan manusia seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Manusia harus menggunakan akalnya untuk terus meragu, mencari tahu. Sebab hanya dengan cara seperti itu manusia akan berhadapan dengan dimensi transendentalitas. Karunia manusia bukan lah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan kepada instingnya untuk bertanya terus menerus.

Celakanya, insting ini yang kemudian dimatikan dengan begitu pongahnya. Manusia-manusia dilarang bertanya soal Tuhannya. Pertanyaan mengenai Tuhan saya rasa sengaja ditanamkan oleh Tuhan agar manusia kemudian dapat merasa dekat padaNya. Manusia hanya akan menemukan ketika ia mencari dan ia akan menemukanNya dalam proses pencariannya, bukan di ujung pencariannya.

Tentu lah dalam melakukan pencarian itu, kita butuh tuntunan dan landasan. Oleh sebab itu, Ia menurunkan kitab suci dan nabi-nabinya sebagai panduan untuk menemukanNya. Namun sekali lagi, ia menurunkan panduan tersebut bukan sebagai suatu jawaban tunggal atau seperti petunjuk penggunaan. Saya merasa jengkel setiap ada yang menganggap bahwa kitab suci adalah sebuah panduan dalam hidup bahwa hidup yang sedemikian kompleks ini terangkum dalam sebuah buku. Saya rasa tidak demikian. Manusia diberikan kemampuan lewat akal dan insting untuk terus-menerus bertanya.

Betul bahwa kita dikutuk untuk bebas. Di dalam kebebasannya, manusia menemukan kesakitan, ketakutan, kekalutan, dan berbagai sensasi yang maha dahsyatnya. Semua itu diperlukan untuk menghancurkan kita, meremukan dan meluluhlantakan manusia. Mengapa? Sebab hanya manusia yang hancur dan luluh lantak yang dapat menemukan Tuhannya. Lewat akal dan budi tersebut lah Tuhan menghancurkan manusia. Hasilnya? Perlukah saya menjabarkan kembali konsekuensi modernitas yang dipimpin oleh penggunaan akal budi secara berlebih dan tanpa penghayatan?

Modernitas mencapai titik nadirnya saat Perang Dunia II. Pasca peristiwa itu hadir arus balik yang menjungkirbalikkan semangat modernitas. Lahirnya gerakan postmodernisme membuat paradigma manusia melampaui semangat modernitas untuk kembali ke periodisasi mistis. Gerakan metafisika new age dan perenialisme menjadi semangat untuk mengkoreksi gerangnya nuansa manusia karena cahaya ilmu pengetahuan dan rasio yang begitu menyilaukannya.

Dalam proses itu, manusia kini malah tertinggal oleh rasio dan pengetahuannya. Berbagai ciptaan artifisial manusia kini malah meninggalkan manusia ke dalam kegelapan yang lebih pekat dan perasaan kekalahan yang begitu mendera. Sebagian masih dibutakan, yang lain kemudian jatuh di tengah jalan.

Yang kemudian jatuh di tengah jalan ini tidak mampu mengejar ketertinggalannya. Bukannya tidak mampu, mereka malas. Solusinya adalah mereka melawan ilmu pengetahuan dan rasio dengan dimensi lainnya: dimensi iman. Kemalasan mereka untuk mengejar ilmu pengetahuan dan berjalan di jalur sains membuat mereka mengambil jalan pintas untuk mengambil syahadat secara membabi buta. Lebih celaka lagi karena digunakan sebagai jalan pintas, mereka melakukan penghayatan terhadap syahadat mereka. Jelas saja sebab tujuan mereka hanya satu, mencapai kebenaran lewat jalan pintas. Marx (please, not again!) berkata dalam pengantar Das Capital jilid 1 bahwa:

“There is no royal road to science, and only those who do not dread the fatiguing climb of its steep paths have a chance of gaining its luminous summits.”

Dan mereka yang menggunakan imannya tanpa penghayatan untuk mencapai kebenaran sesungguhnya adalah manusia yang sangat menjengkelkan. Indikasinya mudah, mereka ribut sekali di keramaian, malas mencari tahu namun selalu merasa paling tahu. Jujur saja, kemalasan mereka memuakkan.

Wew, tulisan saya jadi normatif begini. Gawat betul, saya harus mengubah topik.

Oke, topik kedua mengenai kebenaran.

Kebenaran adalah kesesuaian antara fenomena dunia nyata dengan dunia ide, saya harus meringkas ini. Membicarakan kebenaran hanya membuat pegal jari saya dalam mengetik tulisan ini. Singkat saja, carilah kebenaran sebaik-baiknya.

Menjadi berbeda ketika kita melihat kebenaran dari sisi yang lain. Albert Snijder dalam bukunya Manusia & Kebenaran mengatakan bahwa kebenaran bersifat relatif. Sifat relatif kebenaran berasal dari relasinya dengan manusia. Ini semacam logika yang menyebalkan bahwa tanpa ada manusia, maka tidak akan ada kebenaran. Mengapa? Sebab dari definisi diatas bahwa kebenaran menuntut adanya dunia ide yang datang dari manusia.

Disini lah kebenaran mengalami paradox. Di satu sisi ia dituntut untuk statis, ajeg, dan berlaku di seluruh tempat. Di sisi lain, ia hanya hadir dengan kaitannya terhadap manusia dengan dunia idenya. Dalam paradox ini saya harus memihak dimana saya mendukung pernyataan bahwa kebenaran hadir sejauh dunia ide manusia ide hadir.

Perlu juga dicatat pendapat Kant mengenai an sich dan fur sich nya. Bahwa adanya akal budi bukannya menyingkap fenomena melainkan semakin mengurungnya. Kant mengatakan bahwa terdapat jurang yang begitu dalam antara benda an sich dengan akal yang mengkajinya.

Perlu juga dicatat bahwa untuk mencapai kebenaran, Husserl mengatakan bahwa kita perlu melakukan bracketing atau epoche. Bahwa dalam memandang suatu fenomena, manusia memilika noema dan noesis dan selalu berada dalam intensionalitas. Kesadaran, adalah kesadaran terhadap sesuatu.

Maka kebenaran hanya akan hadir sejauh manusia hadir. Tanpa kehadiran manusia, kebenaran hanya akan menjadi rentetan peristiwa yang tak bermakna, hanya suatu noema yang kering. Makna tersebut yang manusia cari, suatu bentuk intensi yang kemudian membuat manusia dapat mengakses an sich. Makna tersebut yang juga membuat manusia lupa diri dan dimabuk kebenaran.

Apa yang paling memabukkan di dunia ini? kekuasaan. Dalam proses mencapai kebenarannya, manusia memisahkan dirinya dari objek yang diamatinya. Dimulai dari pertentangan res cogitans dan res extensa, manusia memisahkan antara dunia fenomena dengan dunia idenya. Pemisahan tersebut yang berakhir dengan celaka karena kemudian manusia malah mendominasi lewat kebenarannya. Inilah relasi antara kebenaran dengan dominasi dan kekuasaan.

Manusia akan menjadi manusia ketika ia terpisah dari sekelilingnya. Dan di dalam keterpisahan tersebut, manusia akan saling berlomba mencapai eksistensinya lewat moda-moda kuasa yang dimilikinya. Inilah dilemma eksistensial manusia modern bahwa manusia hanya akan menjadi (I am) ketika ia memiliki cukup kuasa. Dan kita tahu bahwa instrumen kuasa yang paling mendominasi adalah kebenaran.

Maka para golongan credo sangat senang dengan situasi seperti ini. Lewat kemalasan dan kepercayaan butanya, mereka mendapatkan cukup kuasa dan dominasi.

Demikian, semoga berkenan.

scriptamanent