scriptamanent

"verba volant, scripta manent"

Larik yang tak terungkap oleh hamba kepada kamu yang tak sesiapa

Apa yang kamu ingat dari pembicaraan-pembicaraan kita?

Aku ingat ada yang merasuk masuk, mengamuk di tepi memori

Bayangan mengenai hidup yang barangkali selamanya atau mati yang tak lagi dimaknai

Katakan tentangmu, padamu bilamana kita mengunjungi kembali bayang-bayang saat kita renta

Apakah aku yang disana? Atau hanya tujuh dan duanya kita?

Lalu menguar keluar, tak hingar bingar. Sunyi lalu bernyanyi.

Bisikan padaku apa yang kamu rasa ketika aku hanya mendaras maaf saat kita bercinta

Bencikah yang kian nyata atau sesalkah yang terbaca?

Maafku, maaf belaka. Tak berguna

Sesalku, sesal percuma. Suatu ketika nyata, lain hanya tai kucing semata.

 

Sewon, 29 Juli 2018

scriptammanent

Advertisements

Moral Code

Barangkali ini akan menjadi salah sedikit tulisan singkat yang didalamnya akan ada sedikit warna merah kemarahan, ketidaksukaan, dan emosi; sesuatu yang sedapat mungkin selalu saya tekan atau enyahkan. Namun demikian, di tengah siang bolong yang terik di tengah kebosanan dan rasa sebal terhadap mati lampu yang tak berkesudahan, saya memutuskan untuk menuliskan secarik emosi. Jelas saja ia tak berhubungan atau bahkan menjadi rangkuman segala hal dan pengalaman yang terjadi belakangan. Ia cukup terangkat sejenak lalu lenyap tak berjejak.

Saya mau menuliskan sedikit dari salah satu film terbaik yang pernah saya saksikan: The Dark Knight besutan Christopher Nolan, this man is genuinely genius, no doubt. Salah satu hal di film ini yang luput saya perhatikan dan menyeruak kembali ketika saya tengah browsing internet adalah apa yang disebut moral code. Saya masih memikirkan padanannya dalam Bahasa Indonesia namun belum mendapatkan yang enak. Secara harafiah, kode moral, ah tidak bagus. Baik kita lanjut saja dengan istilah itu yah.

Istilah itu merujuk kepada seperangkat penilaian moral: baik dan buruknya sesuatu namun dan dia dibangun diatas pengalaman serta pemahaman lalu mempengaruhi perilakunya. Moral code bersifat personal. Berbeda dengan norma (norm) atau adat istiadat (customs) yang dikerjakan oleh masyarakat, moral code adalah semacam panduan pribadi dalam menjustifikasi dan pada akhirnya memilih tindakan dan membawanya ke ruang publik atau irisan sosial.

Batman, atau Bruce Wayne sebagai superhero memiliki moral code yang rigid dan itu yang menurut saya membedakannya dengan superhero lain: ia tidak mau membunuh siapapun. Superhero lain, bisa jadi punya moral code nya tersendiri. Peter Parker mendapatkan moral codenya dari nasehat terakhirnya Paman Ben Parker: “with great power comes great responsibility”, Hulk memiliki moral code seperti lunatic, he doesn’t even bother to care. Clark Kent, hampir seperti Spiderman mendapatkan moral codenya dari keluarganya, Anda bisa mentracenya dari Smallville.

Moral code batman menjadi menarik karena, di film The Dark Knight, ia dibenturkan dan dijadikan konflik utama. Seorang superhero dengan moral code yang rigid berhadapan dengan Joker: man who just wants to see the world burns. Ini menghasilkan konflik baru ketika sesuatu serigid moral code berhadapan dengan aspek nihilitas, yang dalam kasus Joker, anarko-khaostik. Moral codenya adalah kekacauan yang tidak terstruktur. Dan secara teknis perfilman, Joker digambarkan nyaris sempurna, tidak diceritakan latar belakangnya, tidak ditampilkan masa lalunya ataupun proses berpikirnya. Segalanya terjadi seakan-akan terencana dan diperkuat dengan adagium: “Do I look like a guy with a plan?”.

Di akhir cerita, Batman kita katakan menang bukan karena ia tidak mati dan berhasil meringkus Joker. Bagi saya, ia menang karena berhasil mempertahankan moral codenya dengan setengah mati tidak membunuh Joker meskipun ia punya banyak sekali kesempatan untuk melakukannya. Kemenangan itu juga tidak layak disebut kemenangan karena ia kehilangan begitu banyak. Dalam film itu, begitu banyak korban yang berjatuhan di luar sana karena Batman dengan sangat disiplinnya mematuhi moral codenya untuk tidak mematikan Joker. Namun tidak mematikan Joker membuat korban yang jatuh semakin banyak dan pada akhirnya, Bruce Wayne harus hancur terpuruk secara mental. Kita bisa menyaksikannya di pembukaan The Dark Knight Rises.

Kita adalah Batman. Setiap hari kita bermanja-manja dalam pelukan hangat moral code yang kita anggap benar namun sembari kita bersantai didalamnya, jutaan orang lain dibantai oleh Joker. Joker sendiri adalah sistem dominan. Joker sebagai sistem tidak punya moral code dan bergerak tanpa perasaan, tanpa rencana, tanpa tujuan. Kita sebagai Batman tengah berkonflik dengannya namun terbelenggu dengan moral code yang kita buat sendiri.

Bagaimana demikian?

Kita menyaksikan perampok, pemerkosa, penindas yang terus menerus memakan korban. Namun pada akhirnya kita tidak melakukan sesuatu yang secara efektif tidak menghentikannya. Kita tidak menghentikannya karena terhalang moral code sendiri. Dalam kasus Batman ia percaya bahwa Joker dapat dihentikan dengan melakukan dialog, welas asih, dan mempercayakannya pada sistem yang berlaku: hukum, suara hati, namun semuanya hanya sia-sia belaka.

Apakah ini berarti bahwa untuk menghentikan perampok maka kita harus merampoknya? Untuk menghentikan pemerkosa kita harus memperkosanya? Dan untuk menghentikan pembunuh kita harus membunuhnya? Mari pikirkan bersama. Sebab dalam oposisi biner, segalanya harus dihadapi secara antagonis, tak ada dialog, tak ada kompromi. Sistem yang kita hadapi yang tengah kita perangi tidak akan mengajak berdialog. Apa yang kemudian membentengi moral code kita adalah sifat narsistik memuja diri sendiri dan, mungkin, kehormatan? Lalu darinya muncul lah apologi-apologi heroik: “yang penting kita sudah berusaha”, “hasil tidak akan mengkhianati proses” sementara yang kita hadapi adalah sistem yang, menurut Machiavelli “tujuan menghalalkan cara”.

“In game of thrones, either you win or die” – Cersei Lannister.

Dan yang duduk di takhta yang akan dapat menentukan benar dan salahnya suatu perkara. Tugas saya hanya menuliskannya, bukan memutuskannya.

Duh, tulisan sambungan kemarin malah ga kepegang dah, gawats

scriptammanent    

Heroisme (i)

Selamat hari pahlawan besok tanggal 10 November. Berhubung hari ini tanggal 5 Juni dan masih ada lima bulan lagi sebelum hari pahlawan maka saya memutuskan untuk menuliskan hal tersebut di postingan ini. Tidak ada alasan khusus seperti bahwa segala yang terjadi di dunia ini semata-mata adalah insiden yang diglorifikasi dan diapresiasi oleh insting estetis kita sebagai manusia lalu mengapa menangisi yang terjadi atau yang tidak terjadi?

Begitulah terkadang ada sempalan bahasan tidak penting yang datang entah dari mana, namun kalau boleh menyalahgunakan beberapa paragraf awal ini untuk curhat saya mau menyampaikan beberapa hal. Pertama-tama tentu saja terkadang semesta tidak memberikan akses terhadap sesuatu yang begitu kuat kita inginkan. Begitulah cara semesta mendukung. Dalam cinta misalkan. Katakan lah Anda begitu menyukai profil seseorang, dibutakan dan merasa bahwa dia adalah yang pertama dan satu-satunya. Kemanapun Anda pergi atau melarikan diri, berganti pasangan, berhubungan badan, Anda tetap tidak dapat mengenyahkannya dan untungnya, sosok itu juga mencintai Anda seperti Anda mencintainya. Lalu realitas empirik ini terbahak dan malah menggesernya untuk bersama dengan orang lain yang menurut Anda tidak pantas bersamanya karena ia di luar kualifikasinya. Anda tahu persis hal itu.

Tidak ada alasan khusus, it happens simply because it happens. Tidak puas? Tidak masalah. Semesta tercipta bukan untuk memuaskan semua insan, ia bukan indomie kari ayam rebus yang dimakan saat hujan setelah mandi air hangat.

Begitu lah sesuatu terjadi karena ia terjadi.

Oh ya, kembali ke topik utama kita.

Perkara heroisme adalah satu topik yang sebenarnya sudah lama betul hendak saya tuliskan semenjak saya menggali kembali konsep-konsep otentitas dalam diri manusia. Pembacaan saya terhadap insan-insan media sosial adalah mereka begitu bernafsu menjadi otentik dan mengekspresikannya dengan berbagai cara yang bisa mereka lakukan. Bukan sesuatu yang salah, naluri frontier atau kepeloporan sudah tertanam semenjak nenek moyang kita berkelana dan bertanya-tanya. Saya ingat membahasnya melalui pendekatan ‘kejatuhan’ Heideggerian yang kemudian dibangkitkan melalui Angst. Tidak buruk buat seorang medioker kapiran seperti saya. Saya puas terhadapnya meski saya hutang membahasnya melalui pendekatan Eksistensialisme Sartreian. Tak apa-apa, saya boleh memaafkan diri sendiri untuk itu.

Pada beberapa bab ketika saya membaca rujukan mengenai otentitas, saya membaca selentingan-selentingan mengenai heroisme. Soal epos kepahlawanan yang entah bagaimana tersangkut begitu saja di rimbunnya keanehan eksistensialisme (Moran, 2010). Tentu ada kelindan yang nyata antara Dassein dengan heroisme, bagaimana kelindannya, begini penjelasannya singkatnya.

Permasalahan utama manusia sebagai Dassein adalah apa yang disebut sebagai kejatuhan (Verfallen). Terma tersebut merujuk kepada terserapnya dassein ke dalam banalitas keseharian. Yaps, setiap hari Anda terpenjara di dalam rutinitas, rasanya begitu kelam seperti di bait awal lagu Burnin & Lootinnya Bob Marley. Setiap manusia mengalaminya tanpa terkecuali. Setiap hari Anda dijejali rutinitas yang sama, mulai dari bangun pagi, mandi, berpakaian, sarapan, berangkat ke kantor, lalu pulang, tidur dan mengulangi rutinitas tersebut seumur hidup Anda. Bagi Anda para generasi emo yang merasa jenuh dengan hidup Anda, saya minta maaf harus memotong kebanggaan otentik Anda bilamana Anda merasa bahwa hidup Anda salah karena setiap harinya Anda harus melakukan hal yang sama dan terjebak dalam kejenuhan. Anda tidak sekeren dan sekritis itu, maaf.

Dari situ lah Heidegger kemudian mengudar. Filsafatnya tidak perlu berangkat dari pertanyaan njelimet macam ‘kenapa sesuatu itu ada bila bisa saja ia tidak ada?’ atau ‘mengapa saya diciptakan di dunia ini?’. ia mulai dari pertanyaan mengenai kejenuhan kita terhadap keseharian (everydayness) kita. Dekat dan banal tapi justru itu asyiknya. Keseharian itu lah yang kemudian dimaknai sebagi ekspresi inotentik kita. Dalam hal ini, Heidegger mengatakan Dasein menuju kepada “the groundlessness and nullity of inauthentic everydayness” (Heidegger, 1944: 178).

Lantas darimana ekspresi inotentik tersebut? Salah satu sumbernya adalah bahwa kejatuhan dialami oleh semua Dassein. Bukan hanya satu atau dua Dassein yang terjebak di dalam keseharian. Anda yang setiap harinya bergerak dalam arus komuter ibukota saja harus berjuang diantara lautan 5 juta Dassein yang lain setiap pagi untuk berangkat kerja dan 5 juta lagi ketika pulang. Secara singkat, aspek kebersamaan (togetherness) merupakan terma esensial dalam memahami hal ini. Being is being with others. Inotentitas Anda bersal dari pergerakan orang lain. Dalam istilah kerennya dikenal sebagai repetisi. Inilah sumber kejatuhan Anda.

Untuk menyikapi hal tersebut, Anda perlu keluar dari jebakan keseharian. Dalam sekuens eksistensial, Anda keluar dari kejatuhan lewat apa yang disebut sebagai Angst, suatu momen ketika Anda menyangsikan segalanya. Namun menurut Moran (2010), ada modus lain yang digunakan oleh Dassein selain dari Angst tersebut. Modus tersebut adalah pemilihan pahlawan. Bahwa untuk dapat keluar dari keseharian dan reptisi, Dassein perlu meniru suatu profil yang menurut mereka memiliki pola hidup ideal sehingga bisa diikuti. Dalam menganalisis hal tersebut, Heidegger meminjam konsep Kierkegaard dan mengambil contoh pola pikir kristiani yang gandrung sekali dengan cara hidup Yesus. Yah, bukan hanya kristiani tentu saja, agama lain juga menyerukan hal serupa terhadap nabi masing-masing bukan?

Demikian, karena saya lapar saya memutuskan membagi tulisan ini menjadi dua babak. Saya perlu cari makan dulu.

scriptamannent

War of Infinite

“Anyone who believes in indefinite growth in anything physical, on a physically finite planet, is either mad – or an economist businessman (or capitalist)” -Ken Boulding (modified)

After a long time without post! Hoho. Been busy for last month and desperately need a place to puke all the dirty, garbage, and unpopular opinions which have nothing to do with producing money. Pragmatism is, currently, the best thing that could possibly happen this far, hehe. To write and pull those thinking out is solemnly done to prove me, at some level, still have impression. So what’s going on so far? I watched infinity war last week and what I can say is, despite of all the incredible technical crossover and still lame plot (IMHO), I was quite surprised with the main theme of conflict. It was about the infinity.

When I heard the title of ‘infinity war’, what crossed in my mind was an endless, eternal war between a bunch of superheroes against a super-purple-villain (which is cute) yet after I watched it I realized that a more appropriate title is ‘the war about infinity”. I think it won’t be considered as spoiler but I need to tell you that Thanos’s main motivation and the background to become supervillain was simply because the limitation of the universe.

Some of the last movie I watched also put this matter upfront. Inferno, Kingsman, The Brother Grimsby, and this ‘War on Infinity’ are connected with the problem of the finite resources this universe has. Then, to overcome this problem we need to get rid some of the population.

It is an interesting matter, yet contextual.

We live in the very limited realm. Many, too many boundaries, physical or not we have to encounter day by day. The consequence of it is that we only have very little. On the other side, we keep wanting and put possession as the main consideration of goodness. It will, at the end, lead to the destruction and deterioration.

And I don’t know why, at this point I feel so tired to realize this…

Anyway, I want to setback the idea to get rid half of the population one step backward. Just because those who have this idea always be framed as the bad people in the film doesn’t mean it is completely wrong. In my opinion, the failure of the villain in launching the mission of wiping half of population to establish a more sustainable world lays on their inability to formulate the appropriate ethical framework and groundstanding. They failed, too big, in answering the question of that. And I find it is arguable because in all those movies, no good people can offer the solution on the fundamental problems of the overpopulation and the limited resource. What they did is just failing the bad people whom believe the ultimate solution of the problem is wiped the hell out some population.

For me, I also believe that in one side we need to control the population but to wipe it away is the very desperate solution. I prefer the contraception over the termination of population. If I were Thanos back then I will treat people who wants to have children more than they can endure with the infinity stones. Yes, especially to Tony who planned to have children with  Potts in the beginning of movie.

After all, Infinity War is a movie about breeding and controlling the population. Worth to watch.

Dan sekian postingan singkat saya, yang penting dashboard saya ga berdebu-debu banget, hehe.

scriptammanent

meanwhile

dear all,

please allow me, for once, to misuse my own blog to be the media of my expression and emotion since those c*nts leaked facebook user’s data and still under investigation currently.

let me start by telling you I’m overwhelmed with happiness and joy for today.

so happy that I realize everything is neatly patterned and to see it will somehow, sometime, someplace will explode to certain level of chaos and will be manifested in despair, disappointment, hopeless, loneliness, and darkness.

so happy I will gladly tell you that the biggest achievement of mine that I ever imagine until now is the certainty of whenever, wherever I die later, I regret nothing in my life I have lived. a little advice for you, live until you got nothing to lose and ultimately, regret absolutely nothing.

so happy to inform you for next few months I will have myself losing grip.

so happy that I am tired and need to take some sleep now.

so thank you, nothing I can offer from mine. sleep tight, let’s fall in love again and again in simplicity through the dullest way ever be.

with you, it’s possible.

Kronoskopik: Kapital

Setelah tahu kemampuan manusia untuk memanipulasi dan mempermainkannya sedemikian rupa untuk berbagai hal dan kepentingan, kita bisa mengajukan pertanyaan sederhana ini: apakah permainan waktu itu ada by meaning ataukah ia hanya konsekuensi perkembangan manusia? Pertanyaan tersebut saya pikir punya relevansi untuk menegaskan kedaulatan manusia sebagai kreator dimana logika tanya yang sama dapat dikaitkan dengan statuta penciptaan manusia oleh Tuhan. Sedikit modifikasi, pertanyaan tersebut memiiki tempat dalam teologi sebagai: apakah manusia diciptakan by meaning atau mereka hadir sebagai konsekuensi sifat Tuhan?

Namun demikian pertanyaan terakhir bisa kita simpan terlebih dahulu, hehe. Mari mengeksaminasi berbagai kemungkinan jawaban muncul dari pilihan yang saya sediakan.

Manusia, kita tahu, adalah makhluk yang memiliki akal budi. Lewat akal budinya, mereka mendapatkan kemampuan yang tidak makhluk lain miliki: kemampuan perencanaan dan logika perekayasaan. manusia merupakan makhluk yang mampu menggunakan pemikirannya untuk menggunakan berbagai objek fisik di sekitarnya menjadi perpanjangan tubuhnya. Dalam konteks eksistensialisme Heidegger, manusia sebagai Dassein berhubungan dengan objek fisik sebagai Zuhanendes (Hardiman, 2016). Hubungan Dassein dengan zuhanendes tersebut adalah hubungan yang menangani (Besorgen) dimana zuhanendes tersebut digunakan Dassein untuk melakukan sesuatu.

Pemahaman mengenai relasi manusia dengan perkakasnya menjadi penting karena lewat relasi tersebut manusia membentuk horizon kesadarannya mulai dari horizon masa lampau juga horizon pengharapan. Selain membentuk horizon kesadaran, manusia juga, lewat penggunaan perkakas tersebut mengintervensi realitas dan menjadikannya sesuai keinginan. Keinginan atau hasrat manusia merupakan elemen yang tidak bisa dilepaskan dalam kasus ini. lewat keinginan tersebut, manusia menciptakan sebuah idealitas, proyeksi, juga harapan. Bahan-bahan tersebut dikomposisi sedemikian rupa hingga membentuk utopia atau bahkan mengkreasi Tuhannya.

Penguasaan manusia dan hasratnya itu yang menuntun manusia pada kemampuannya yang paling termahsyur ini: rekayasa dimensi.

Dari seluruh cabang perekayasaan yang pernah saya temui selama berkuliah di Fakultas Teknik, saya pikir perekayasaan dimensi adalah cabang perekayasaan yang paling menakjubkan. Dari perekaysaan tersebut manusia mampu menekuk ruang dan memotong waktu. Dimensi, ruang-waktu kini berada dalam genggaman manusia.

Rekayasa ruang sebagai dunia, rex extensa telah begitu sering dilakukan. Dunia fisik ditempa, diubah, dilumerkan sesuai yang dikehendaki manusia. Gunung-gemunung diratakan, perairan dikeringkan, hutan belantara ditelanjangi dan lain sebagainya. Perekayasaan ruang merupakan masterpiece juga milestone penaklukan dan logika dominasi manusia yang paling kentara. Namun kita tentu lah tidak pernah puas sebab setelah puas mengintervensi dimensi ruang kita dihadapkan pada realitas ruang yang paling menakutkan: ruang hidup kita, semesta dan alam ini boleh jadi tidak terbatas.

Infinitas adalah salah satu ketakutan manusia. Ruang infinit bagaimanapun menimbulkan kegentaran dan sensasi yang menggetarkan acapkali kita membayangkannya. Dan segala yang bisa dibayangkan manusia berarti bisa dan sebaiknya ditaklukan sekalian. Dalam kasus ruang ini, syarat untuk bisa menaklukannya adalah dengan manipulasi waktu. Manipulasi waktu memiliki skala dan modus yang beraneka rupa mulai dari modus real time lewat piranti elektronik hingga imajinasi perjalanan lintas dimensi menggunakan worm hole. Segalanya ditujukan untuk satu tujuan semata: downsizing.

Mari menjejak kembali ke sekitar kita untuk mendapatkan kesadaran setelah gambaran abstrak mengenai realitas dan yang tak terbatas sebab segala ini hanya ditujukan untuk satu proyek semata: globalisasi.

Rekayasa waktu dan ruang di planet kita ditujukan untuk mendukung proyek-proyek narasi besar seperti globalisasi dan kapitalisme. Mengapa demikian? logika abstrak yang saya paparkan pada bagian awal di atas merupakan logika dominasi dan opresi yang, menurut Weber, begitu kental aroma dan nuansanya dalam semangat pencerahan dan modernitas. Kita boleh terpukau dengan romantika infinitas alam semesta juga terpaku dalam misteri labirin waktu, namun pada akhirnya sikap kita dalam menghadapi kedua hal tersebut, jika dikupas tumpas hingga intinya akan terantuk pada paradigma kapitalistik.

Kecewa? Hehe, lanjut.

Dominasi ruang dan waktu diperlukan manusia, seperti tujuan dalam paradigman kapitalistik digunakan semata-mata untuk penguasaan faktor produksi dan akumulasi kapital. Perihal ruang sebagai faktor produksi dan moda penguasaan, Lefebvre membahasnya dan membaginya dalam representasi ruang dan ruang representasional (Lefebvre, 1984; Ritzer & Goodman, 2004). Dalam ruang-ruang inilah pihak yang mendominasi menggilas seluruh elemen untuk mendapatkan akumulasi kapital. Selain itu, ruang juga merupakan sarana pendisiplinan (lih. Harvey, 1990: 5 yang mengambil contoh perkotaan sebagai suatu ruang) yang tujuannya adalah berikbarnya panji-panji narasi-narasi besar tersebut.

Sementara bagaimana dengan waktu? Menurut Pialang (2017), dimensi waktu perlu di downsizing dan diringkas semakin kecil dan pendek sebab dunia ini perlu dijadikan suatu sistem yang homogen. Perbedaan, pluralitas, dan narasi-narasi kecil akan teramalgamasi dan terapropriasi pada struktur yang lebih ajeg. Apropriasi sendiri merupakan suatu proses dan yang namanya proses membutuhkan waktu. Tujuan utama kapitalisme adalah menyatukan seluruh dunia dalam satu mekanisme pasar yang sama dan mengakuinya sebagai sistem tunggal. Begitulah sifat utama narasi besar, dimana-mana mereka butuh diakui sebagai sistem yang paling benar (begitu pula dengan narasi besar agama-agama utama seperti kristianitas atau islam. Ingat?)

Upaya penyatuan dunia ini disebut sebagai globalisasi dan apa yang menghambat proses itu? Yeps, waktu. Untuk itu waktu perlu dihabisi bagaimanapun caranya. Teknologi informasi dibentangkan untuk kemudian menyeragamkan dunia ini semakin cepat dan cepat saja. dengan adanya paradigma yang sama dimana-mana maka sirkulasi komoditas dalam sirkuit kapital jelas saja semakin lancar. Sistem ini juga akan membesar seiring dengan ruang-ruang yang ia jelajahi. Semakin banyak ruang-ruang yang dicaplok, semakin besar pula sistem ini dan semakin pula ia kuat.

Semakin cepat? Ya. Kecepatan merupakan syarat utama dalam proyek besar globalisasi dan kapitalisme. Sebab kini rasa-rasanya tidak ada yang bisa menahannya dan hanya soal waktu yang menjadi penghalangnya, mengapa tidak menyasar waktu sekalian dan membumihanguskannya? Lalu bagaimana menghabisinya? Tentu dengan menggunakan piranti kecepatan. Maka jangan heran bahwa kini seluruh rasionalitas dan efisiensi kita ditujukan semata-mata untuk dan ditumpukan semata-mata pada tujuan menambah kecepatan hidup kita. Pada akhirnya, kawan lama kita, waktu yang kronologis akan tumpas tandas di tangan saudara kembarnya waktu yang kronoskopis.

Sedikit penghiburan bagi mereka yang masih punya semangat melawan. Jangan khawatir, kita masih bisa menundanya. Dan dalam konteks waktu, penundaan adalah kemenangan.

Mari melambat bersama.

scriptammanent

 

Kronoskopik

Saya sudah begitu sering menjabarkan dan memaparkan bagaimana kondisi dunia pada saat ini. Kemajuan teknologi dan kecepatan transmisi informasi, by instance, dapat kita katakan sebagai faktor yang paling berpengaruh untuk melihat lansekap dunia yang tengah kita persepsi. Berangkat dari situ, kita sebagai being dan ontologi waktu sebagai elemen didalamnya tengah terus dibentuk lewat berbagai modus dan cara.

Faktor kecepatan transmisi informasi mendorong banyak sekali terjadi perubahan. Beberapa yang pernah saya bahas adalah naiknya common sense, berubahnya ilmu pengetahuan, dan matinya metode-metode lama nan kolot. Khusus untuk hal terakhir, fenomena tersebut diberi nama yang lebih mentereng: disrupsi; suatu istilah yang digunakan dan merujuk kepada runtuhnya sistem lama secara cepat dan total untuk digantikan dengan sistem yang lebih baru. Tidak ada yang spesial dari istilah itu sebenarnya. Francis Fukuyama telah menerbitkan buku dengan nomenklatur judul ‘The Great Disruption’ pada dekade 1990-an. Sebelumnya, pasca (-post) modernisme naik untuk menggantikan modernisme yang menggantikan proyek pencerahan yang menggantikan abad kegelapan yang menggantikan era klasik dan seterusnya-dan seterusnya. Proses pembaruan tersebut telah ada dan menempel begitu kuatnya seiring gerak sejarah. Apa yang membedakannya adalah faktor pendorong dan durasi penggantiannya. Ah, durasi, disini lah ontologi waktu berperan.

Saya tidak suka menggunakan istilah era disrupsi. Disrupsi bagi saya analog dengan pembatas buku yang berada diantara bab-bab tertentu namun bukan bab itu sendiri; ia adalah fenomena yang bertugas menggantikan suatu paradigma bukan paradigma itu sendiri. Semisal kita membai’at disrupsi sebagai istilah untuk era ini maka bisa katakan bahwa gerak sejarah kemudian akan mati. Semisal ada paradigma yang sesuai pada era ini itu adalah paradigma dromologis. Paradigma tersebut hadir sebagai reaksi terhadap reaksi ontologi waktu. Kita tahu bahwa secara eksistensial, sang being tak bisa dilepaskan dari keberadaan waktu (juga ruang (world))). Ontologi ‘berada’ adalah ontologi waktu.

Dengan masuknya berbagai campur tangan teknologi, waktu kini berubah menjadi begitu anehnya. Kini waktu adalah benda asing dan tak ubahnya hibrida yang tidak dapat kita kenali lagi. Dulunya ia merupakan pribadi yang lurus, ajeg, dan begitu statis. Kini, sang waktu agaknya berubah menjadi galau persis seperti remaja puber yang menyadari keberadaan sesama jenisnya. Ia berubah begitu cepat dari sosok yang kadang pemurah, kadang egois, kadang lentur, kadang kaku. Lewat proses pembentukan dan perakitan kembali waktu, kita kini secara sederhananya memiliki waktu yang terkena penyakit bipolar: waktu yang kronologis dan waktu yang kronoskopis.

Waktu yang kronologis adalah sahabat lama kita. Ia adalah waktu yang diatur lewat mekanisme alam dan gerak semesta. Waktu siang adalah waktu bilamana ada matahari sedangkan waktu malam adalah bilamana terdapat bulan. Waktu menanam adalah musim semi sedang waktu bersembunyi adalah saat musim dingin. Waktu kronologis penurut dan tunduk pada berbagai aturan yang ada di dunia. Manusia kemudian menjadikannya sebagai acuan dan mengikutinya dengan patuh di belakang demi keteraturan.

Waktu kronoskopis adalah newborn. Ia anak kemarin sore namun memiliki kekuatan yang mengerikan. Waktu kronoskopis mengatur mekanisme alam. Darinya kita memotong jarak (teknologi transportasi), mempercepat proses (katalisator), dan mengakselerasi informasi (teknologi informasi). Ia sungguh nakal dan tidak mau tunduk di bawah pengaruh mekanisme alam semesta. Ia dilahkirkan dari pikiran manusia dan kemudian membantu manusia untuk membentuk kembali dunianya. Manusia juga yang kemudian pada akhirnya menggunakannya sebagai sarana untuk menaklukan dunianya.

Barangkali karena ontologi waktu telah berubah dan memicu munculnya waktu yang kronoskopis, manusia dan alamnya berada dalam kondisi yang tak seimbang. Kini segalanya tunduk dihadapan manusia dan berfungsi hanya sebagai pemuas birahi kerakusan kita manusia. Barangkali lewat dirusaknya tatanan waktu, kita juga berubah menjadi begitu pongah. Tak heran, sang Ada dan waktu adalah entitas dua dalam satu. Dualitas.

p.s. Saya ga mau nulis tentang ini sebenarnya

scriptammanent

 

Techne: Rasionalitas

Dan malam ini, saya kembali bergelut dengan salah satu pertanyaan paling menyebalkan yang acapkali saya temui: ‘apa dorongan utama manusia untuk melakukan segala sesuatunya?’. Barangkali, dalam Bahasa Inggris pertanyaan ini terdengar lebih elok: ‘what does make human does?’. Sedikit modifikasi dari pertanyaan menyebalkan what does make human as it is?. Pertanyaan tersebut menyebalkan karena saya menjumpai berbagai ringkasan jawaban yang berbeda-beda. Psikologi, ekonomi, antropologi, filsafat, hingga biologi tertarik terhadap pertanyaan tersebut kemudian merumuskan berbagai pendapat yang berbeda-beda. Lagi-lagi, seperti banyak postingan saya yang sudah-sudah, saya tidak mencoba mengelaborasi jawaban pertanyaan tersebut namun saya coba menjadikannya sebagai salah satu pijakan terhadap pembahasan pada postingan ini.

Salah. Saya akan membahas satu perspektif terhadap rasionalitas saja. Mohon maaf.

Perspektif yang saya gunakan dalam postingan ini adalah premis bahwa manusia menggunakan rasionya sebagai dasar dalam menuntun tindakannya. Premis tersebut secara langsung membawa kita langsung kepada rasio sebagai dasar dari segala sesuatunya. Manusia, dalam berbagai teks klasik disebut sebagai animal rationale. Salah satu hal mendasar yang membedakan manusia dengan binatang adalah bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir (thinking) dan memiliki alasan (reasoning). Dalam konsep ini, Marx menekankan bahwa dalam membedakan manusia dengan hewan, manusia dapat merancang, memperkirakan, dan mendesain sesuatu dengan berbagai macam pertimbangan sebelum mengeksukisnya. Manusia tidak bergerak hanya semata-mata dorongan insting dan reflex belaka. Konsep tersebut yang perlu didekonstruksi untuk menjawab permasalahan apa yang menjadi dasar pertimbangan/pemikiran manusia dalam mengeksekusi tindakannya?Pada rentetan logika premis ini, saya pikir meletakan rasio sebagai dasar segala sesuatu adalah sesuatu yang kontekstual. Maaf sekali saya perlu memotong rantai premis tersebut dan mendudukannya sebagai suatu perkara dogmatic karena jika harus terus dielaborasi, energi saya habis, bapak dan ibu.

Pada masa modern atau selama babakan pencerahan, rasionalitas manusia, menurut Weber, didasarkan pada satu terma kunci: efisiensi. Saya suka terma ini karena acapkali bergelut dengannya selama kuliah-kuliah termodinamika. Efisiensi, merupakan tujuan utama dalam ilmu perekayasaan dan telah menjadi sebuah common sense.

Terma tersebut muncul bukan dari ruang kosong. Efisiensi, dalam hemat saya muncul dari pemahaman bahwa apa yang dimiliki manusia pada dasarnya terbatas namun harus digunakan untuk melayani keinginan manusia yang pada dasarnya tidak terbatas. Efisiensi adalah konsep lanjutan dari Homo Oeconomicus yang menyatakan bahwa manusia sebagai makhluk berusaha memenuhi segala keinginannya dengan upaya yang terbatas. Untuk menjalankan tujuan tersebut, manusia perlu sekali mengkalkulasi, memperkirakan, dan mendesain bagaimana segala yang mereka miliki dapat memenuhi segala yang mereka inginkan.

Efisiensi tersebut menjadi dasar dari segal rasionalitas modern. Dalam praksisnya, efisiensi harus diperlebar untuk mencakup seluruh kegiatan manusia. Terma tersebut tidak hanya terbatas hanya kepada rasio daya input yang masuk pada suatu mesin dan daya keluarnya sesuai dengan batasan termodinamika. Efisiensi berarti birokrasi, efisiensi adalah rekayasa pengelolaan, efisiensi adalah politik.

Dalam postingan Techne sebelum ini, kita tahu bahwa upaya masyarakat ditujukan semata-mata untuk mempertahankan kelangsungan hidup individunya dengan mengekstrak energi dari sumber daya yang ada di sekitar mereka. Masyarakat yang memiliki berbagai macam individu yang unik kemudian harus dapat mengatur strategi sesuai dengan keunikan komponen individu mereka. Mereka yang berbadan besar, mereka yang pintar menghitung, mereka yang pintar menembak, mereka yang berbadan kecil masing-masing memiliki keuntungan dan posisi yang spesifik untuk mengekstrak energi tersebut dari sumber daya secara optimal. Maka dilakukan lah pembagian kerja agar setiap anggota masyarakat mampu mengekstrak sesuai dengan kemampuannya. Tujuannya akhirnya kembali kepada efisiensi.

Irasionalitas

Efisiensi kini begitu merasuk ke dalam segala sendi kehidupan manusia. Ia menjadi begitu penting seiring dengan semakin menipisnya daya dukung sumber daya yang terus dieksploitasi untuk melayani nafsu keinginan manusia. Perkara tersebut menjadi permasalahan mendasar dalam nyaris seluruh cabang konservasi masa kini. Apa yang harus dilakukan? Apakah terus mengekspansi sumber daya dengan meningkatkan efisiensi? Atau mengerem nafsu keinginan manusia untuk menahan laju eksploitasi?

Terlepas dari permasalahan tersebut, keduanya berujunga kepada satu hal yang pasti: irasionalitas. Kini kita bisa menjejak lebih tinggi dan lebih jauh dari semangat rasional yang didasarkan pada efisiensi seperti yang dikampanyekan oleh modernitas kepada semangat pasca modern yang bertumpu pada irasionalitas. Herbert Marcuse menyatakan bahwa dalam memenuhi rasionalitas yang berbasis efisiensi tersebut, manusia pada akhirnya berubah menjadi makhluk irasional. Seluruh upaya rasional manusia akhirnya justru berujung pada hasil-hasil irasional.

Fenomena tersebut umum sekali terjadi seperti bilamana kita mendedah suatu fenomena, yang kita temui bukan lah penjelasan melainkan kebingungan yang semakin menjadi-jadi. Mulailah dari pertanyaan soal mengapa benda yang dilepas jatuh ke bawah dan kita akan berakhir pada teori-teori mahaaneh. Mulailah dengan upaya rasional dengan mengikuti rasa keingintahuan kita dan kita akan berakhir dalam kegelapan dan kebutaarahan.

Perjalanan mendekonstruksi ulang konsep ‘rasionalitas akan berakhir pada irasionalitas’ membutuhkan energi yang tidak sedikit. Semisal kita mengganti konsep rasional itu dengan efisiensi maka bisa katakan bahwa upaya mendorong efisiensi akan berujung kepada irasionalitas. Konsep tersebut belum dapat saya temukan contohnya di dunia nyata. Sebab itu, saya mencoba memahami rasionalitas sebagai upaya-upaya mendasar dan pertimbangan mendasar manusia adalah subsistensi. Dalam bentuk simplistiknya, rasionalitas manusia untuk memenuhi kebutuhan subsisten dan fisiologinya akan menuntunnya kepada hal-hal abstrak. Persis seperti Piramida Maslow, persis seperti kaitan antara infrastruktur dengan suprastruktur. Untuk yang kedua, infrastruktur merupakan domain material yang sifatnya rasional karena ia mampu direkayasa untuk mendapatkan efisiensi. Sementara itu, suprastruktur merupakan domain irasional karena terlepas dari hal-hal diluar efisiensi.

Sampai pada titik ini, saya masih mencoba menemukan data-data untuk memfalsifikasi analogi yang saya bangun. Saya masih mencoba membangun konsep bagaimana mitos dan agama dapat membantu efisiensi atau bagaimana menonton film dan bioskop berkait dengan efisiensi. Selama hal-hal suprastruktur tersebut dapat ditarik menjadi domain efisiensi maka selama itu pula manusia akan menjadi animal rationale. Secara pribadi saya menolak konsep tersebut karena menjadikan manusia menjadi entitas kering yang terorientasi hanya kepada rasionalitas dan efisiensi belaka. Permasalahan yang sama dapat dikaitkan juga dengan bagaimana, katakan lah, aksi 212 yang seringkali dikatakan irasional itu sebenarnya rasional juga karena berhubungan dengan efisiensi? Mungkin saja konsep efisiensi bergeser seiring dengan perkembangan teknologi dan meliarnya wacana seiring dengan semakin gencarnya informasi dan semakin murahnya pengetahuan. Bila memang demikian, maka efisiensi apa yang tengah kita jalankan?

Gila. Irasional. Saya sebal.

scriptammanent

 

Techne

Munculnya Siklon Cempaka membuat cuaca di Jogja dan rata-rata Pulau Jawa hujan terus-terusan hari-hari belakangan ini. Entah mengapa, ada semacam excitement terhadap Siklon Cempaka ini, mungkin karena siklon ini menjadi siklon yang tercatat paling dekat dengan Indonesia. Apapun yang akan terjadi kemudian, saya berharap sungguh bahwa segalanya aman dan diberikan keselamatan serta kesejahteraan.

Cuaca seperti ini yang merundung suasana Rapat Umum SATU BUMI sepanjang hari Jumat-Sabtu kemarin. Saya merasa pelu menulis ini karena Rapat Umum SATU BUMI merupakan salah satu forum paling mengasyikan yang pernah saya ikuti. Bersifat rutin setiap tahun, forum tertinggi SATUBUMI ini mengumpulkan seluruh anggota untuk bersama menyabung ide, wacana, dan pemikiran dalam arena musyawarah. Tujuannya adalah mendekonstruksi dan merekonstruksi struktur organisasi mikro di alam semesta bernama SATU BUMI tersebut.

Salah satu hasil yang saya pikir cukup perlu untuk disebarluaskan adalah bahwa SATU BUMI telah memilih dan menetapkan pimpinan barunya selama satu tahun periode ke depan. Adalah Fauzia Wardani KFWS yang terpilih untuk menahkodainya. Selamat! tentu saja ucapan pertama yang perlu dihaturkan, tidak mudah mendapatkan kualitas kepemimimpinan untuk memimpin organisasi ini. dalam tolak ukur keberhasilan, seperti falsafah film ‘Dunkirk’ besutan Christoper Nolan, bertahan saya pikir adalah indikator keberhasilan utama. Selebihnya adalah bonus sebab dengan bertahan, segala kesuksesan lainnya berada dan terjadi.

Dan ketua saya yang dengan cerkasnya mengajukan kritik terhadap salah satu poin Garis Besar Haluan Kerja. Kritik yang saya pikir, dalam skala lebih besar perlu menjadi permenungan dan bahan diskusi oleh pada cendikiawan yang berada dalam jagat ilmu pengetahuan. Kritik yang muncul dari pertanyaan kecil: “memangnya anak teknik ga boleh ya ngelakuin penelitian sosial-budaya?”.

Keresahan yang sering muncul namun mungkin baru sekarang perlu ditanggapi. Awal munculnya keresahan tersebut adalah satu redaksi GBHK yang mengamanatkan ihwal tanggung jawab keilmuan dan penerapannya. Tentu saja hal tersebut memicu perdebatan yang sungguh nikmat. Namun karena keterbatasan waktu, perdebatan tersebut harus disudahi. Untuk tetap menjaga kritik tersebut, saya pikir kritik demikian harus dikembangkan menjadi polemik untuk semakin memantapkan posisi keilmuan kami. Bahwa sebagai calon sarjana dan sarjana teknik, kamitidak boleh berhenti hanya sebagai pengguna keteknikan namun juga berperan dalam dinamika dan dialektika ontologis dan epistemologis ilmu keteknikan. Sesuatu yang dilupakan secara sangat menyedihkan oleh sebagian besar mahasiswa dan purna mahasiswa.

Saya pernah menyinggung sedikit soal perkara ini dalam postingan saya yang berjudul ‘Ahli’. Bahwa kini, dalam menghadapi era keterbukaan informasi dan pengetahuan dan mencairnya segala macam sekat dan batasan, perlu sekali membangun paradigma baru yang bersifat komprehensif dan sistemik. Arus dan aras pemikiran semacam ini saya pikir menjadi salah satu arus utama pemikiran alternatif yang melawan arus pemikiran utama. Namun, saya belum menemukan atau dapat secara ilmiah membangun identifikasi pemikiran sistemik tersebut sebagai perlawanan. Teori kritis masih berkutat pada permasalahan what it is (das sein) dan what it should be (das sollen). Perenialisme masih terlalu jauh di pinggir. Harapan mungkin muncul dari metafisika new age namun mereka timbul tenggelam dan tak laku di kalangan perlawanan.

Penyekatan, dalam terminologi saya, mirip dengan mekanisme pemagaran (enclosure) dimana terjadi pembatasan akses. Sejarah terminologi ini muncul ketika revolusi agrikultur Inggris. Pemagaran adalah fenomena ketika suatu lahan pertanian ditutup untuk membentuk suatu sistem pertanian yang lebih besar dan sekali tertutup, lahan tersebut tidak lagi digunakan untuk melayani kepentingan umum dan berada hanya pada pemilikinya. Mekanisme eksklusifitas tersebut juga mengemuka pada ilmu pengetahuan. Analogikan saja ladang pertanian menjadi ladang pengetahuan dan pemilik menjadi ahli-ahlinya.

Mekanisme penyekatan tersebut menjadi salah satu penyakit yang kini menjangkiti para pembuat solusi (selain masalah impotensi mereka dalam merumuskan masalah yang menurut saya lebih akut dan kronis lagi urusannya). Penyakit tersebut kadang ditambah bumbu yang lebih menjijikan lagi: kesombongan dan arogansi serta ego sektoral. Menjadi penyakit dan permasalahn, sebab kini kondisi dunia, semesta, dan teks merupakan kondisi yang penuh kompleksitas (complexity) dan ketidakpastian (uncertainty). Seiring semakin meningkat pesatnya pemahaman manusia terhadap dunianya, semakin membingungkan pula dunia ini pada akhirnya. Pemahaman yang didapat manusia tersebut juga merupakan pemahaman parsial yang hanya berkutat pada satu node atau simpul tertentu. Simpul dan node-node pengetahuan tersebut terputus (disrupted) oleh arus modal dan kuasa. Pengetahuan (knowledge), modal (capital), dan kuasa (power) adalah trinitas yang kini harus dipandang satu tanpa terpisah dari yang lainnya. Bahasan trinitas ini bisa kita kesampingkan sejenak untuk bisa masuk ke dalam jalinan simpul pengetahuan terlebih dahulu.

Dalam jagat pengetahuan, kemampuan manusia untuk memproduksi dan mereproduksinya divonis secara mutlak oleh keterbatasan-keterbatasan tertentu. Seperti yang sering saya katakan, salah satu vonis paling mutlak adalah prinsip ketidakpastian Heisenberg yang enyasar masalah pengamatan. Selain keterbatasan dalam upaya pengamatan, keterbatasan juga lahir dari intrinsik fenomena di alam. Bahwa, mengikuti kaedah chaos, terdapat bifurkasi atau simpangan-simpangan gangguan yang dapat mengacaukan hasil akhir dari presumsi atau asumsi awal. Hal tersebut berlaku juga pada proses berpikir. Terdapat simpangan-simpangan yang dapat mengganggu hasil akhir proses berpikir. Sistem tersebut bekerja dalam suatu sistem tertutup dan karenanya setiap hasil akhir dipengaruhi oleh kondisi inisial (initial condition). Initial condition tersebut, menurut saya bahkan mencakup sampai kepada latar belakang peneliti dan nilai-nilai yang dianutnya.

Dalam menanggulanginya, saya pikir langkah utama yang bisa dilakukan adalah semakin meninggikan perspektif kita. Bahwa untuk semakin memastikan hasil akhir, maka berbagai komponen dan simpul yang berada di sekitar fenomena tersebut harus direngkuh dan dimasukan. Selain tentu saja, setiap pengamat kemudian menentukan batasan dan galatnya sesuai dengan kemampuan atau sesuka-suka yang dikehendakinya. Pemikiran sistemik dan organik, mengutip Fritjof Capra, adalah syarat mendasar untuk dapat mervolusi pemahaman dan pemikiran.

Sampai pada titik ini saya dapat menjabarkan secara singkat pentingnya pemahaman yang sistemik dan organik untuk lebih lengkapnya, saya merekomendasikan buku Web of Life nya Fritjof Capra sebagai bahan pengantar. Kini kita bisa masuk ke substansi detilnya untuk membongkar rumusan masalah: “anak teknik meneliti ihwal sosial budaya”. Satu persimpangan besar yang dapat memecah pertanyaa itu adalah kata awalan dari kalimat tersebut apakah ‘bisakah’ ataukah ‘bolehkah’? keduanya akan membawa rumusan permasalahan tersebut ke dalam dua dimensi yang berbeda sebab yang satu merupakan bahasan praktis sedangkan yang satu adalah bahasan etis. Dalam uraian berikut, saya tidak mencoba menyekatnya.

Techne

Saya akan coba kembali ke dasar untuk mendudukan esensi dan hakekat ilmu teknik. Untuk memulainya, saya akan coba mengkomparasi langsung struktur-struktur ‘teknik’ dan ‘budaya’ sebagai dua entitas yang dipertentangkan dan didiskusikan dalam perumusan masalah. Saya pikir satu pertanyaan kecil menarik yang bisa memicu perdebatan adalah mengapa diberi nama ‘Fakultas Teknik’ alih-alih ‘Fakultas Ilmu Teknik’? sedangkan di sisi timur sana terdapat ‘Fakultas Ilmu Budaya’ alih-alih ‘Fakultas Budaya’. Konsekuensinya sangat besar sebab dalam proses perkuliahan, teman-teman fakultas teknik tidak dipaksa berpikir secara ontologi. Sementara definisi budaya dibahas secara mati-matian hingga perlu diterbitkan kompilasi yang memuat definisi-definisi budaya, di Fakultas Teknik, ontologi ‘teknik’ tidak dibedah sebagaimana mestinya. Saya ingat betul bahwa teknik hanya dihentikan pada definisi operasional sebagai metode atau cara. Padahal yang kemudian saya temukan definisinya lebih dalam dan luas dibandingkan itu.

Risiko dari hal tersebut adalah mahasiswa teknik kehilangan pijakan ontologis. Mereka tenggelam ke dalam jagat keteknikan tanpa pernah berpikir apa sebenarnya teknik itu. Beberapa bisa mengeluarkan kata kuncinya: perekayasaan: intervensi manusia terhadap suatu fenomena alam yang ditujukan untuk mengubah fenomena tersebut sesuai dengan kebutuhan dan keinginan manusia. Yang lain memilih tak ambil pusing dan melihat jadi anak teknik itu cari kerjanya gampang soalnya ada terus di lowongan kerja. Dan kemudian lahir lah sekrup-sekrup industri yang kerjanya hanya eksploitasi kanan kiri dan merampok masyarakatnya sendiri. Sarjana-sarjana pemalas yang keblinger kepastian hidup dan akhirat.

Hentikan nyinyirnya. Oke.

Dalam menghadapi perumusan masalah tersebut. Salah satu premis utama yang bisa saya nyatakan adalah bahwa teknik dan budaya atau keteknikan dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak dapat saling dipisahkan. Setidaknya filsafat dan ekologi budaya mengamininya. Kita mulai dari filsafat dulu.

Filsafat mengenal apa yang disebut sebagai techne. Techne, menurut Ali Mudhofir dalam Kamus Istilah Filsafat dan Imu merujuk pada “seni”, “kecakapan”, “teknik”, “kejuruan”, “pekerjaan tangan”, atau metode atau sistem dalam membuat sesuatu. Sementara menurut Stanford Encyclopedia of Philosophy, techne diterjemahkan sebagai ‘craft’ dan ‘art’. Keduanya merujuk pada techne.

Definisi Ali Mudhofir adalah definisi sederhananya. Definisi tersebut bertautan dengan definisi Stanford bahwa dalam operasionalnya, techne beroperasi pada dua dimensi: dimensi praktis dan dimensi teoritis. Techne, sebagai metode melahirkan artefak atau yang dapat definisikan sebagai (ke)budaya(an) yang membenda. Sementara dalam tataran abstraknya techne adalah metode, sistem, cara, yang digunakan untuk melakukan sesuatu. Keduanya, techne dan budaya merupakan suatu produk buatan manusia yang (kita tambahkan definisi Koentjoroningrat) merupakan cipta, karya, dan karsa. Dalam pandangan sempitnya, perbedaan antara techne dan budaya adalah pada lingkupnya. Budaya memiliki batasan yang sangat luas sedangkan techne dibatasi pada ‘craft’ (saya terjemahkan sebagai kerajinan) dan ‘art’ (kesenian).

Namun, penyempitan definisi techne juga dapat dinilai tidak relevan. Pendefinisian tersebut merupakan buah konsekuensi dari kaum skeptis yang meragukan korelasi dan kesahihan antara teori (sebagai domain pengetahuan) dan tataran praktis (sebagai domain ‘craft’ dan ‘art’). Sebagai akibatnya, domain pengetahuan dan teori kemudian dimasukan ke dalam episteme yang difungsikan sebagai ruang untuk menggodok tataran teoritik dan pengetahuan.

Jembatan antara pengetahuan dan artefak disambungkan lewat aktualisasi diri. Saya pikir Hegel dan Marx menjadi pemikir yang berkontribusi besar disini. Lewat pemikiran mereka kita melihat artefak sebagai hasil dari techne kemudian dikembangkan lewat produksi menjadi komoditas. Tapi itu cerita lain.

Singkatnya, artefak lahir sebagai pemikiran manusia. Sementara produk budaya lain atau yang UNESCO definisikan sebagai intangible dikelompokan tersendiri. Kelompok intangible tersebut antara lain adalah tarian, nilai, lagu, ritual, dan lain sebagainya. Artefak-artefak manusia tersebut yang kemudian diambil alih oleh ilmu teknik dan dikaji hingga membentuk suatu keilmuan tersendiri. Namun karena teknik bersifat pragmatis, maka artefak yang diambil hanyalah artefak yang memiliki nilai manfaat saja. manfaat yang dimaksud adalah seberapa jauh artefak tersebut dapat mengubah alam ini menjadi sesuai keinginan manusia. Perkara estetika, nilai simbolik, dan apresiasi ditanggalkan begitu saja. beberapa kemudian diambil oleh arkeologi dan sebagian lainnya dipungut oleh ilmu arsitektur.

Mengapa teknik menjadi begitu pragmatis? saya pikir ekologi budaya bisa menyediakan jawabannya.

Untuk mendukung perikehidupan dan keberlangsungan hidup, maka makhluk hidup harus menarik energi dari alam atau lingkungan sekitarnya. Adagium ini menjadi dasar pemikiran arus utama matrealisme budaya (lih. Moore, 2009). Dari pemikiran tersebut, Leslie White membagi kebudayaan menjadi tiga jenis: teknologis, sosiologis, dan ideologis. Menurutnya, dan jajaran pemikir determinisme lain, aspek teknologis sebagai upaya mendasar dalam memenuhi kehidupan adalah hal yang mempengaruhi kondisi lainnya. Hal itu yang menjadi dasar Marvin Harris ketika ia menelurkan pemikiran determinisme infratsruktur. Di tangan para pemikir itu, kebudayaan dibagi dan disekat-sekat sesuai dengan pengaruhnya terhadap perikehidupan manusia. Sesuatu yang kemudian menjadi bahan kritik yang ampuh.

Sebagai pemula, saya pikir pemahaman mereka dapat dijadikan salah satu pijakan dan landasan operasional. Bahwa artefak manusia merupakan sarana untuk mengekstraksi energi dari lingkungan atau ekosistem untuk mendukung kehidupan manusia di dalam suatu masyarakat. Hal lain terpengaruh dari pengorganisasian artefak-artefak tersebut. Dalam konteks tempatan, dapat kita katakan bahwa artefak di suatu tempat berbeda dengan artefak di tempat lain. Apa saja artefak tersebut? Segala macam benda. Alat pertanian, rumah, transportasi, alat makan, hingga alat tenun termasuk ke dalam artefak karena manusia menggunakan itu untuk memenuhi segala macam kebutuhannya.

Artefak-artefak tersebut tentu lah menjadi domain teknik karena mereka adalah saran-sarana perekayasaan. Seorang sarjana teknik harus dapat memahami bagaimana alat tersebut merekayasa fenomena sekitar dan bukan hanya merekayasa alamnya, namun juga bagaimana suatu artefak merekayas masyarakat yang tinggal disana dan mengakses serta menggunakannya. Sebagai bonus, mereka bisa juga bermain di ranah simbolik dari artefak tersebut.

Demikian, saya mendadak lelah membahas ihwal ini. saya masih meninggalkan lubang besar etis mengenai bolehkah anak teknik meneliti perkara di luar keteknikan? Semisal ada waktu tentu lah saya akan melanjutkan bahasan itu. Dan sembari menunggu waktu itu akan baik sekali bilamana Anda membantu saya mengelaborasinya. Tabik.

scriptammanent

Sela Bencana

Biar saya narasikan dulu kondisi yang tengah terjadi saat ini. tanggal 27 November 2017 muncul bibit siklon 95S di Laut Selatan (Kompas (27/11)) yang berpotensi menimbulkan berbagai gangguan meteorologis dan hidrologis. Hujan diperkirakan berada dalam kategori lebat dengan curah hujan mencapai >50 mm per hari. Kemudian pada tanggal 28 November, bibit siklon tersebut berubah menjadi Siklon Cempaka. Nama Siklon Cempaka diberikan oleh BMKG karena radar BMKG yang pertama kali mendeteksinya dan menurut BMKG seperti yang dilansir Kompas (28/11), belum pernah ada siklon sedekat ini ke Indonesia. Saya juga baru tahu istilah siklon merujuk kepada fenomena yang terjadi di Samudera Hindia atau Australia. Bilamana terjadi di Pasifik Barat, mereka menjadi topan atau typhoon dan menjadi hurricane bila terjadi di Samudra Atlantik. Tipologi badai demikian saya pikir cukup menarik.

Sementara itu, di Pulau Bali, Gunung Agung masih memuntahkan erupsi freatik. Pengungsi berjejal di berbagai titik-titik evakuasi dan ribuan wisatawan tertahan di bandara. Beberapa memilih menggunakan jalur darat akhirnya. Terdapat juga teman-teman saya yag terjebak disana setelah menghadiri Seminar ICERM tanggal 26-27 November lampau.

Saya berdoa dan berharap bahwa rentetan fenomena ini menumbuhkan kekaguman dan kegentaran kita terhadap alam semesta bahwa kita bukan apa-apa dibanding Sang Gaia. Turut juga harapan bahwa rentetannya memperkuat kita sebagai manusia, manusia Indonesia tepatnya.

Image result

Ini foto Gunung Agung yang diambil Emilio Kuzma-Floyd (eyes_of_a_Nomad) yang tampil di halaman depan Kompas tanggal 27 November 2017. Buat saya, foto ini bagus betul. Foto saya ambil dari laman https://www.japantimes.co.jp/news/2017/11/26/asia-pacific/erupting-volcano-bali-brings-air-travel-warnings/#.Why_dlWWbcc