scriptamanent

"verba volant, scripta manent"

Otentik (selipan)

Baik! ada yang tengah perlu saya curahkan di blog ini di tengah ambisi saya membongkar rezim otentitas yang mencengkeram generasi milenial ini. Tak jauh-jauh sebenarnya dari topik ini, tapi untuk posting ini, saya mau keluar dari disiplin bahasa dan teks yang ternyata mengungkung saya. Kalau tidak nyaman, maafkan saya terlebih dahulu.

Oke, satu hal yang perlu saya ceritakan adalah bahwa saya ternyata punya masalah dalam memandang mata orang lain. Ada beberapa indikasi dan komplen mengenai ini sebenarnya, bahkan salah seorang teman saya secara terang-terangan men-skak mat saya karena dalam setiap percakapan saya tidak pernah memandang matanya. Hal tersebut saya anggap angin lalu hingga kemarin kejadian serupa terulang kembali. Kejadian tersebut membuat saya perlu mengambil sikap dan salah satu sikap yang saya ambil adalah mencurahkannya di blog ini agar semua pembaca saya tahu: saya sungkan memandang mata orang lain.

Penjelasannya adalah: tidak ada. I simply feel awkward when staring to other’s eyes. Mungkin ini adalah gejala bawah sadar saya yang sebenarnya tidak percaya diri dan penuh ketakutan ketika menghadapi orang lain. Mungkin hanya isyarat bahwa memang pada dasarnya saya tidak suka berada di sekitar orang lain. Mungkin juga sebagai indikasi saya punya perasaan tertentu terhadap orang tersebut. Semuanya menggejala dalam alam bawah sadar dan termaifestasi lewat keresahan saya dalam memandang mata seseorang.

Sementara saya masih mencari penjelasannya, saya mohon maaf jika ada kesalahpahaman semisal ketika kita bertemu langsung saya sungkan memandang mata Anda. Sungguh bukan bermaksud tidak sopan, namun saya hanya merasa rikuh saja berada dalam pandangan yang langsung menusuk mata. Sementara, lupakan segala interpretasi psikolog mengenai motivasi menghindari pandangan. Sejauh yang saya sadari, motivasi saya dalam menghindari pandangan tidak sama dengan apa yang diinterpretasi oleh para psikolog tersebut.

Baik, itu kondisi yang perlu saya curahkan. Mari masuk ke topiknya.

Narasi yang akan saya ceritakan saya mulai dari kondisi manusia pada masa modern-postmodern ini. Menurut saya, apa yang menjadi karakter utama dari manusia modern yang hidup di zaman ini adalah kesepiannya. Manusia masa kini adalah makhluk yang sangat kesepian. Kesepian tersebut yang menjadi salah satu motivasi dalam perilaku-perilaku sosial yang manusia lakukan. Tidak bohong, untuk menangkap genealogi kesepian tersebut, Anda boleh menengok konsep utama dalam analisis Marx mengenai alienasi. Alienasi melahirkan keterasingan yang mencerabut manusia dari sekitarnya dan mereproduksinya dalam jagat kesepian yang sangat merana.

Selain kesepian, manusia pascamodern adalah manusia yang selalu dirudung keputusasaan (desperate). Manusia modern dicekik oleh keputusasaan dan selalu berdiri di atas kekecewaan. Penjelasannya adalah karena manusia terjebak dalam jagat simulacra. Manusia terhimpit oleh kegamangan dan kebingungan antara fenomena dan idea. Teknologi virtual membuat manusia dapat memproduksi dan mereproduksi realitas hingga memanipulasi dan mendistorsinya. Namun karena itu, manusia menjadi delusif. Hidup manusia ‘hanya dalam mimpi siang bolong’ saja. Dininabobokkan oleh ilusi dan bayangan yang diapropriasi dari berbagai gawai virtual dan arus informasi yang tidak kenal ampun.

Bagi saya, itulah kondisi paling menyedihkan yang harus manusia masa kini tanggung. Tapi bergembiralah.

Maka kemudian, salah satu objek yang menjadi pendamping manusia dalam menghadapi kesepiannya adalah tubuhnya. Tubuh menjadi media kegembiraan manusia dalam menyikapi kesepiannya. Untuk menawar perih dan dinginnya kesepian manusia, manusia tidak menghilangkannya; mereka merayakannya. Dan tubuh menjadi media dan teman manusia dalam selebrasi kesepian yang ia derita.

Tubuh, karenanya menjadi objek kesepian yang paling indah. Dalam kesepian manusia, manusia akan lari kepada tubuhnya. Tubuh sebagai media kesepian akan mengantarkan manusia dalam keberAdaannya. Sebab manusia (sebagai dassein) harus selalu berada-di-dunia dan ia berada-di-dunia menggunakan tubuhnya, maka tubuh menjadi moda eksistensial manusia sebagai dassein yang paling utama.

Maka jangan heran semisal tubuh Anda akan mengantarkan Anda ke dalam momen-momen eksistensial Anda. Dalam konteks eksistensialisme Sartre tubuh yang berinteraksi dapat menyebabkan kontingensi kesadaran yang berakhir pada momen eksistensial (saya pernah menulis ini sebelumnya). Momen eksistensial ini yang menjadi sasaran Anda dalam menghadapi tantangan modernisme atau bahkan pertanyaan paling filosofis yang semua orang bisa tanyakan: mengapa saya diciptakan? mengapa saya disini?

Dalam beberapa kesempatan, Anda akan menggunakan tubuh Anda untuk masuk ke fase ini. Contoh yang paling bisa diterima adalah ketika Anda berkaca atau berselfie. Melihat tubuh Anda sendiri memberikan sensasi eksistensial yang semakin menguatkan hasrat eksistensial Anda. Khusus ketika Anda menggunakan media langsung seperti ketika Anda berkaca, Anda akan merasakan dinginnya pertanyaan eksistensial yang mencengkram Anda sebagai dassein yang terlempar begitu saja. Terlebih dalam kondisi telanjang ketika Anda melihat Anda sebagai tubuh Anda dalam gambaran yang seutuhnya. Pada saat itu Anda akan terdorong dalam kecemasan akan eksistensi Anda. Kontingensi kesadaran Sartre dapat dicapai dengan mencumbu tubuh Anda sendiri. Tak heran, semakin resah seseorang dengan eksistensinya, semakin kesepian dia, dan semakin lama waktu mandinya. Bagi manusia modern, waktu mandi adalah saat yang sangat tepat untuk bercumbu dengan tubuhnya sendiri karena ia bebas bertelanjang.

Sekarang kita geser fokusnya ke tempat lain.

Menurut Baudrillard, juga dalam kasusmenghadapi kesepiannya, manusia modern akan mengkonsumsi. Konsumsi dalam konteks ini adalah memindahkan seluruh value atau nilai yang ia manusia miliki kepada objek-objek yang ia beli. Dalam proses transaksi, terjadi transfer nilai yang membuat manusia akan menemui maknanya. Manusia menyerahkan semua nilainya dalm nilai simbolik yang ia dapatkan dalam proses transaksi tersebut.

Semakin manusia kesepian, semakin manusia konsumtif. Para produsen tahu itu, maka mereka menciptakan kondisi dunia ini sesuai dengan keinginan konsumen. Tugas mereka kemudian hanyalah memastikan manusia tetap kesepian. Caranya adalah lewat komoditas yang mereka produksi secara gila-gilaan. Lewat komoditas tersebut mereka menyasar manusia untuk semakin merasa kesepian dan terasing dengan sekelilingnya. Komoditas bersifat memecahbelah, divide et impera.

Bagaimana contohnya? Komoditas seperti iPhone memisahkan manusia dengan manusia lainnya, manusia dengan alamnya, dan manusia dengan dirinya sendiri. Tak cuma iPhone, makan di McD, mobil mewah memiliki nilai simbolik yang membarikade seorang manusia dengan sekelilingnya. Barikade tersebut sangat delusif, di satu sisi ia memuaskan nafsu fetisis manusia, namun di sisi lain menggiring manusia dalam kesepian yang semakin pekat.

Dan di sela-sela hiruk pikuk nilai simbolik ini, tubuh masuk dan meramaikan suasana.

Dalam motivasi hedonisme, yang pertama kali harus dipuaskan adalah tubuh; kebutuhan fisiologis manusia. Termasuk didalamnya adalah rasa lapar, haus, dan libido mereka. Disinilah kesepian manusia bertemu dengan nafsu konsumsi mereka dan dijembatani oleh tubuh. Tubuh berperan aktif untuk mengakomodir keinginan konsumsi manusia sebagai objek yang harus dipuaskan pertama kalinya.

Sebagai penutup tulisan singkat ini, saran saya nongkrong lah banyak-banyak. Temui orang baru dan bicaralah dalam berbagai media. Sementara kesepian memang kutukan dan bawaan, mari kita rayakan bersama dalam ketelanjangan.

scriptammanent 

 

 

 

Otentik (i)

Saya senang sekali bisa kembali ke topic ini. Narasi mengenai kejujuran adalah narasi awal yang saya ambil ketika mengawali blog ini hun 2012 lalu. Apa yang melatarbelakanginya saya agak lupa, haha. Kalau tidak salah waktu itu saya membuka bab-bab awal Sartre dan menemukan quotesnya yang ‘other is hell’. Perkara yang sampai sekarang masih belum sanggup saya pahami walau sudah bolak-balik saya pamer pustaka yang baca, posting dengan istilah-istilah njlimet, hingga name dropping berkali-kali. Tentu saja intinya adalah supaya dianggap keren, hoho.

Lantas mengapa dengan dianggap keren memangnya? Saya memperhatikan bahwa menjadi berbeda adalah kebutuhan mendasar bagi sebagian besar generasi-generasi milenial. Mereka dibekali teknologi dan kondisi masyarakat yang sangat ekspresif. Internet saya pikir menjadi salah satu kunci bagaimana relasi antar manusia melompat jauh dari sekedar pemenuhan mode of subsistence. Relasi kini adalah soal identitas, bukan lagi eksploitasi atau relasi produksi yang sangat old school itu. Generasi ini dihadapkan pada kondisi dimana eksistensi mereka menjdi kebutuhan primer. Wajar saja, di tengah perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, ‘bertahan hidup’ buka lagi perkara sulit. Mau makan tinggal beli dan tersedia begitu saja dengan varian yang tak terbatas.

Maka, dalam trajektori piramida kebutuhan Maslow, generasi ini melakukan lompatan jauh ke puncak piramida tersebut untuk mengambil self-actualization. Syukurlah, karena generasi manusia ini menjadi sangat menarik untuk dikaji. Untuk itu saya mau menuliskan mengenai topic ini dan reuni kembali dengan dua orang yang pemikirannya begitu menantang untuk dipahami: Martin Heidegger dan Jean-Paul Sartre. Saya akan mencoba untuk melihat kejujuran (dalam konteks ini, istilah bahasa inggrisnya adalah authenticity, bukan yang honesty) melalui kacamata eksistensialisme. Ini juga merupakan latihan bagi saya untuk memahami lagi pemikiran dua raksasa filsafat tersebut. Singkat saja karena saya tidak sanggup melahap konsepnya secara utuh dan keseluruhan.

Baik, kita mulai dari Heidegger

Kunci untuk memahami ontology Heidegger adalah mengenai Ada. Ada (being) merupakan konsep mahanjlimet dari Heidegger. Intinya Ada merupakan barang transcendental. Kita memang menggunakan istilah ini dengan sangat luwes dalam kehidupan sehari-hari dengan mengatakan ‘aku udah ada pacar kok’, ‘itu uangnya ga ada, maaa’, ‘eh, nonton Ada band yuk’ (okeh yang terakhir bukan termasuk kategori). Dalam pengetahuan kita yang dibatasi oleh bahasa, penggunaan kata ‘ada’ itu begitu sering muncul dan sering sekali dilupakan.

Itulah yang menjadi kritik utama Heidegger pada sistem filsafat yang ada dibelakangnya. Sistem pemikiran manusia meributkan tentang esensi dan kenapa manusia, entitas, dan objek-objek ada di dunia ini namun tidak pernah mempertanyakan apa itu Ada sebenarnya? Ada, menurut Heidegger sendiri tidak dapat didefinisikan secara pasti –“. Ada, menjadi dasar bagi entitas-entitas seperti pohon mangga, buku-buku, tai kuku, dan segalanya (barangkali hanya jodohmu yang tidak termasuk didalamnya, haha (getir)) yang bisa disebut sebagai pengada.

Sebagai pengada, manusia menempati posisi yang sangat penting dalam sistem Heidegger. Bagi Heidegger, manusia merupakan pengada khusus yang diberinya istilah dassein (dan supaya tulisannya lebih ngeksistensial, saya permisi menggunakan istilah dassein untuk merujuk pada manusia). Dassein tergeletak begitu saja ‘di sana’ dan itulah artinya secara harafiah. Heidegger menolak menggunakan istilah ‘manusia’ karena menolak mengurungnya dalam suatu rujukan objektif tertentu. Jadilah dia menyebut benda yang biasa kita kenal bernama manusia itu sebagai ‘di sana’, dassein.

Cukup pengantarnya, mari masuk ke ide soal kejujuran dalam perspektif Heidegger.

Dassein diberi karunia untuk mengakses Ada. Berbeda dengan benda-benda yang hanya tergeletak begitu saja, Dassein akan beringsut maju menguak (disclosing) Ada. Dassein perlu melakukan itu untuk menyingkap Ada dan perlu menyingkap Ada untuk menjadi Dassein yang otentik. Ini merupakan tamparan keras, kawan-kawan. Dassein harus menyingkap ada untuk menjadi otentik.

Proses Dassein beringsut menuju Ada tidak bisa kita bayangkan sebagai ulat bulu yang beringsut ke pucuk daun the sambil berteriak ‘pucuk, pucuk!’. Sebaliknya, Dassein harus membuka diri mereka terhadap Ada yang menyingkap dalam Dassein itu sendiri. Bagaimana bisa terjadi? mari kita lihat bagaimana struktur ontologis Dassein.

Dassein dikatakan sebagai berada-dalam-dunia (being-in-the-world). Tanpa dunianya, Dassein tidak akan ada. Namun, bukan dunia alami seperti yang kita bayangkan. Dunia dassein adalah dunia yang ada ketika Dassein ada, ketika Dassein memaknai dunianya. Terjadilah hubungan resiprokal antara Dassein dengan dunianya. Dalam dunia ini, Dassein bersama-sama dengan tiga macam pengada yakni benda yang digunakan sebagai alat (zuhandenes), benda yang tidak digunakan sebagai alat (vorhandenes), dan Dassein lain (mitDassein). Bedanya benda yang digunakan sebagai alat adalah benda yang memiliki peruntukan tertentu. Struktur ontologis Dassein yang kemudian menentukan otentitas dari Dassein.

Dassein, sebagai entitas khusus, berbentuk suatu ‘bentangan’. Bentangan tersebut terdiri dari tiga peristiwa yakni, keterlemparan, kejatuhan, dan sifat eksistensial. Dari tiga peristiwa tersebut, perisitwa kejatuhan (verfallen, yang lebih dekat dengan istilah deterioration) yang menentukan otentitas dari Dassein. Kejatuhan, merupakan manifestasi inotentitas dari Dassein. Sudah paham? Mari masuk ke contohnya.

Perkenalkan teman saya, namanya Diana, ini gambaran wajahnya: J, cantik bukan? Dia teman saya sedari kecil dulu. Diana kecil dibesarkan di keluarga yang sangat, ehem, religious. Orang tuanya mendidiknya dengan disiplin ibadah yang baik, tak pernah terlambat atau luput menjalankan kewajibannya. Terlebih, Diana menjalankannya dengan kesadaran tinggi dan rasa sukacita yang luar biasa. Tak henya begitu, Diana juga sangat rajin membantu teman dan sesamanya. Cantik, suka bergaul dan suka membantu, Diana adalah gambaran manusia Indonesia ideal sesuai standard buku paket PPKn pada masa kita sekolah dasar. Orang tua dan keluarga besarnya tak kalah terhormatnya. Dermawan dan getol sekali beribadah. Singkat kata, keluarga mereka adalah keluarga sempurna yang hanya muncul, yah, di buku paket PPKn tadi.

Lalu pada suatu hari ketika selesai ibadah paginya, Diana tersentak: ini bukan hidup yang saya inginkan. Gila! Edan! Ga masuk akal! Wedus! Seperti itu kira-kira ketika Diana menceritakan kepada saya kondisinya waktu itu. Diana merasa ada sesuatu yang salah, sangat salah. Tidak semestinya dia seperti itu, tidak seharusnya ia melakukan hal itu, tidak semestinya ia menjadi seperti yang ada di buku paket-buku paket itu. Ia merasa tidak layak berada dalam lingkaran yang menjadi kondisinya sekarang ini. segalanya menjadi salah baginya hanya karena satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul ketika tengah menjalankan ibadat paginya: “mengapa saya Diana? Mengapa saya bukan Rosa?”

Kalau Anda pernah mendapatkan pertanyaan serupa, ketahuilah bahwa Anda dan 7 milyar orang lainnya tidak sendirian.

Dan jawaban atas pertanyaan Diana tadi adalah karena dia Diana dan bukan Rosa. Aw! come on, dude! Berikan jawaban yang lebih sensasional!

Baik, begini

Proses Diana menjadi Diana, dalam konteks Heidegger disebut sebagai keterlemparan. Diana dilemparkan di dunia ini untuk menjadi Diana dan no one can give a shit about that. Diana tidak bisa memilih untuk menjadi Rosa, Vina, atau Panduwinata. Proses keterlemparan adalah proses yang paling mengecewakan bagi pribadi-pribadi yang haus akan jawaban karena percayalah, tidak ada yang sanggup menjelaskannya. Well, hingga pemuka-pemuka agamamu membuka konsep soal takdir dengan mengadakan tuhan dalam kehidupan kita. Anda bisa saja belok kanan mengikuti trajektori tersebut, namun dalam lubuk hati saya berani bertaruh (sedikit memaksa biar saya kelihatan benar) bahwa kita pada dasarnya menuntut penjelasan lebih dari sekedar tuhan. Well, disinilah batas manusia, tidak ada yang bisa menjelaskannya, haha. Selamat kembali kepada tuhan Anda kalau begitu.

Dalam keterlemparannya, manusia diberikan bekal-bekal untuk hidup dalam kondisi sosialnya. Dalam konteks Heidegger, Dassein tidak bisa disebut belajar, ia dipaksa mengikuti tuntunannya. Dassein dipaksa mengikuti semua hal yang telah dibentuk oleh manusia, etika, tata karma, nilai, dan segala perangkat dan pranata sosial itu. Sorry to say, proses tumbuh kembang kita dipenuhi dengan kekerasan agar id kita patuh pada super ego. Kita tahu, Dassein tidak belajar, kita dipaksa mengikuti aturan yang berlaku.

Diana berada dalam trajektori tersebut. Pada awalnya, represi yang begitu besar dialamatkan padanya sehingga ia menjadi pribadi yang begitu lurus. Lewat ajaran agama dan perangkat orang tuanya ia diberikan pemahaman mengenai tujuan-tujuan hidupnya. Buat saya, tujuan hidup ini menjadi hal yang menakutkan. Dassein yang telah terpatri tujuannya dengan kredo seperti “aku hidup untuk…” menjadi tak ubahnya zuhanendes, benda yang terpakai karena memiliki tujuan. Tujuan hidup mematikan eksistensinya sehingga Dassein akan melupakan Adanya. Dassein terlempar dalam keseharian.

Namun, Dassein pada beberapa kesempatan akan berada pada suatu momen eksistensial, kita kegelisahan (angst) menyeruak dan memotong keterlemparan kita menjadi kejatuhan. Bagaimana proses tersebut terjadi? proses tersebut ada ketika Dassein dihadapkan pada suatu kondisi eksistensial yang disebut dengan kematian.

Kematian, secara eksistensial adalah hal yang paling menakutkan bagi Dassein. Kematian menakutkan karena dia pasti datang, namun secara eksistensial tidak diketahui kapan dan bagaimana datangnya. Dalam proses keterlemparan Dassein, kematian adalah hal yang pasti bisa mencerabutnya dari keterlemparan tersebut. Begitu dahsyatnya pengaruh kematian bagi Dassein sehingga untuk memikirkannya saja, Dassein bisa mencapai kegelisahan (angst). Kondisi ketika Dassein tidak sanggup menghadapi kepastian kematian itu yang menuntunnya masuk ke dalam kejatuhan. Peran kematian adalah sebagai pemenuhan sekaligus kehilangan Adanya. Memikirkan kematian menjadi salah satu metode yang cukup ampuh sebenarnya dalam mengakses Ada.

Proses kejatuhan ini yang menuntun Dassein pada otentitasnya. Dassein memberi kesempatan lebih untuk Ada menyingkap dalam dirinya. Kejatuhan akhirnya menuntunnya kepada aslinya ketika menyadari bahwa Dassein sebagai berada-dalam-dunia adalah bersifat sementara saja.

Dan kini, Diana bekerja sebagai tukang catat jenazah. Oh iya, dia melepas jilbabnya juga. Salam dari dia untuk pembaca semua.

Edisi Sartre menyusul, saya pusing banget membaca dan mengiterpretasi Heidegger, minta ampun dah.

Scriptammanent

 

 

Lisan Tulisan (selipan)

Menarik melihat tanggapan dari kawan saya terhadap tulisan saya di lembahcode.com mengenai tulisan dan lisan. Adalah Nuzuli, kawan saya yang menanggapi tulisan tersebut. Walaupun hanya secara singkat dan sederhana, tanggapan tersebut cukup bernas untuk mewakili apa yang ada dalam semesta ide kawan saya itu. Tanggapan aslinya bisa dicek di blog pribadinya disini.

Sedikit saya ceritakan, taggapan Nuzuli berangkat dari komparasi saya terhadap sistem bahasa yang terwujud dalam bentuk lisan dan tulisan. Saya agaknya sedikit keblinger dan menyeret dua wujud tersebut dalam konflik dengan melempar bahasan: “mana yang lebih merepresentasikan ‘kebenaran’?”. Nuzuli, seperti semua kawan saya yang baik dan terdidik mengeluarkan tanggapan yang nge-posmo abis (kalau tidak mau disebut normatif) bahwa tidak ada yang lebih baik dari yang lain. Saya mafhum bahwa dalam komunitas saya, konflik dihindari sedemikian rupa dengan jawaban-jawaban yang update semacam itu. Perbedaan dan konflik seharusnya tidak dibuat meruncing dan terstratifikasi. Wujud tersebut, harus diletakkan dalam suatu konteks tertentu.

Dalam konteks tertentu, maka suatu entitas akan bersifat partikelir pada kontekstualisasi tertentu pula. Dalam bahasa yang lebih sederhana, suatu objek akan menjadi baik pada kondisi tertentu dan menjadi buruk di kondisi lainnya. Tidak perlu konflik dan dialektik, tempatkan segalanya dalam konteks tertentu. Tulisan baik adanya ketika kita butuh media yang lestari. Lisan baik sekali digunakan untuk menyampaikan emosi dan intensi. Tidak perlu diperdebatkan.

Persoalannya adalah, yang saya tekankan bukanlah masalah mana yang lebih baik antara dua wujud tersebut. Permasalahannya adalah kehadiran subjek dalam dua wujud tersebut. Bahwa kemudian Nuzuli mengemukakan konsep mengenai “konfrontasi”, “taktik”, dan “makna”, keduanya mengandung seluruh unsur-unsur tersebut. Memang saya kurang menyinggung hal berikutnya yang mestinya mengemuka lebih kontras: “mengapa kehadiran subjek penting?”

Ini bukan perkara mudah untuk dijelaskan. Sederhananya begini, dalam strukturalisme klasik ala Saussure, kebenaran dianggap sebagai suatu “gagasan yang disampaikan secara sadar”. Kesadaran itu, merunut kepada konsepsi filsafat klasik Yunani adalah kesatuan yang sempurna antara mind, body, and soul, antara yang transenden dan yang imanen dalam suatu kesatuan absolut. Kehadiran lewat phone merepresentasikan keutuhan penutur atau subjek. Inilah yang menjadi dasar bagaimana kehadiran menjadi penting dalam konteks komunikasi.

Oke, dalam perspektif yang sedikit berbeda, saya perlu mengatakan bahwa kehadiran-diri bukanlah menjadi penting, kehadiran-diri adalah tujuan utama. Komunikasi kita adalah upaya untuk menghadirkan diri ke dalam dunia riil. Dalam konteks fenomenologi Husserl, diri (self) hadir dalam gaya tarik-menarik antara dunia konsep atau idea dengan dunia fenomena yang empirik dan riil. Diri kita merupakan bentukan antara kedua konsep tersebut. Pada perbatasan antara dunia itulah, kehadiran diri kita berada. Apa sebab? Dalam konteks metafisika, sebagai subjek kita terpisah dari sfera-sfera tersebut. Kita bukanlah bagian dari ide kita pun bukan bagian dari dunia fenomenal.

Upaya menghadirkan diri ini merupakan salah satu akses kita untuk merasakan keAdaan kita. Danuntuk itu, kita perlu berada dalam suatu momen absolut dan seketika ketika dunia idea dengan dunia fenomena bertemu. Momen absolut itu berada ketika kita menuturkan dan membuat citra akustik untuk mematrelialkan konsep atau idea kita. Dan untuk itu, saya perlu mengamini konsep soal kontradiksi yang ditelurkan oleh Nuzuli. Ya, lisan memang mengandung konfrontasi antara dunia idea yang universal-transendental dengan dunia fenomenal.

Hal tersebut tidak ditemui di tulisan. Kehadiran subjek ditahan atau bahkan dihilangkan sama sekali. Kita tidak akan mendapatkan kehadiran dalam tulisan karena tidak adanya momen absolut. Karenanya, kebenaran dalam tulisan bersifat parsial karena tidak dibentuk dari gagasan yang sadar. Dalam tulisan tidak ditemukan adanya impuls-impuls seperti gesture, raut muka, hingga tatapan mata yang menjadikan gagasan yang disampaikan lewat lisan menjadi kebenaran. Penutur yang menulis lewat tulisan menyembunyikan kehadirannya lewat tulisannya.

Apa yang menjadi kekurangan dari tulisan adalah spontanitasnya. Sekali lagi, dalam konteks Husserl, kita mengenal apa yang disebut kekinian (temporality). Konesp ini secara eksistensial penting bagi kehadiran-diri. Kekinian menghasilkan kehadiran yang nyata. Kehadiran hanya akan terjadi disini-saat ini. apa sebab? Hal-hal yang terjadi di luar kini adalah hal-hal yang tidak bermakna dan lewat begitu saja. Ia adalah residu yang memberatkan dimensai kekinian. Seperti sejarah yang harus dilihat konteksnya dengan masa kini.

Husserl menjelaskan dalam menjembatani antara dunia idea dengan fenomena, diperlukan bahasa. Kesadaran, karenanya terbentuk melalui tiga unsur, yakni ungkapan, makna, dan objek. Fenomena yang didekati oleh kesadaran selalu bersifat intensional. Tanpa intensi, yang terjadi adalah suatu ungkapan hanya memiliki “dimensi fisik” saja.

Selain itu, dalam komunikasi langsung melalui suara, subjek-subjek dapat merasakan satu sama lain. Sensasi tersebut menjadi penting karena dengan menginternalisasi subjek satu dengan yang lainnya, kehadiran menjadi berada dalam dunia fenomena. Oleh sebab itu, menurut Derrida, tercipta subjektivitas yang menghasilkan kehadiran absolut. Kehadiran absolut itu yang termasuk dalam dimensi interioritas manusia. Selain antar subjek, ketika bicara terjadi kesadaran inter-subjek. Ketika bicara kita dapat mendengar suara kita dan mengetahui bahwa kita ada disana kini, saat ini. lewat suara kita yang kita dengar, kita bisa merasa bahwa kita adalah kita yang sebenarnya.

Dan sebagai catatan, kebohongan atau penyembuyian makna secara sengaja tidak saya masukkan sebagai parameter disini. Kebohongan bisa dilakukan di kedua wujud tersebut. Yang menjadi perhatian saya adalah ketika kedua wujud tersebut digunakan untuk menyampaikan gagasan yang tidak diintervensi oleh maksud berbohong.

Lantas jika pada akhirnya penjelasan saya tidak dapat diterima karena “ah, aku juga dapat kok kehadiran-diri lewat tulisan-tulisan kok!” ga masalah juga, kita semua bicara dalam nuansa yang sama disini.

scriptammanent

Perang

Sejenak, saya ingin melarikan diri dari dunia nyata ke dunia literasi. Entah bagaimana, menulis suatu hal lalu membacanya lagi menenangkan saya akhir-akhir ini. Saya pernah bilang kalau blog ini menjadi sarana berdialog dengan diri saya dan itu yang tengah saya manfaatkan kini. Satu topic yang ingin saya tuliskan adalah: perang.

Si vis pacem para bellum –if you want peace, prepare for war. Saya ingat betul pernah menuliskan itu di blog ini. Sembari mengangkat konsep masyarakat ‘bellum omnium contra omnes’nya Thomas Hobbes. Saya mendedah bagaimana perang, konflik menyertai kita sebagai manusia. Well, di postingan ini saya ingin mengelaborasinya lebih lanjut bahwa perang secara material benar-benar menyertai kita secara fisik. Menurut saya bahkan, peradaban manusia dan segala yang menyertainya, baik sinkronik maupun diakronik menyelipkan peperangan dibaliknya.

Secara garis besar, perang berevolusi seiring dengan kebudayaan dan peradaban manusia. Kita bisa melihat bagaimana bentuk-bentuk peperangan, tujuan, dan tekniknya berubah seiring perubahan yang dialami manusia baik dalam kerangka tempat dan waktu. Cara dan tujuan manusia berperang berbeda di era pemburu-pengumpul dengan era post-industrial. Begitu pun berbeda antara timur tengah dengan suku aborigin di Australia.

Perbedaan itu menarik. Selain menunjukan kepada kita perbedaan karakteristik manusia di suatu tempat, perang juga menjadi penyebab terjadinya berbagai macam peristiwa besar. Dari segi romantika, perang merupakan aspek yang bersinggungan sangat dekat dengan tragedy, kehancuran, dan kematian. Ia berdiri dia batas kegamangan antara dunia faktual yang berisi statistik, peristiwa, dan kenyataan yang hambar serta tidak berasa dan dunia tragedy yang penuh jerit pilu, rasa sakit, duka, dan trauma. Sifat dualitas ini menjadikan perang dan bencana memiliki sindrom bipolar. Oleh sebab itu, secara realitas, perang, bencana dan tragedi sesungguhnya topic yang hangat untuk dibedah. Namun, dibanding bencana, perang lebih menarik untuk dikaji. Perang merupakan bentuk aktif manusia. Ia adalah interaksi dan relasi yang berlangsung antara manusia. Oleh sebab itu, perang memiliki latar belakang dan dampak yang lebih besar dan mengubah peradaban lebih banyak dan lebih radikal dibanding peristiwa lainnya.

Perang menggeser peta politik, mengubah komposisi penduduk dunia, menyebabkan diaspora, dan melahirkan relasi kekuatan baru secara ekonomi politik. Sepanjang pengetahuan saya belum ada proses yang memiliki kapasitas sebesar itu dalam hal mengubah dunia. Perang juga menjadi sarana dan fondasi untuk beberapa penemuan besar yang ada di dunia.

Dalam dunia idealis, perang hadir dalam berbagai macam symbol di berbagai mitologi. Dua yang paling besar tentu saja Ragnarok dan Baratayudha. Ragnarok berasal dari mitologi Nordik yang menggambarkan akhir dari dunia, sedangkan baratayudha lahir dari mahabarata. Keduanya dijadikan oleh masyarakat di tempatnya tinggal sebagai mitos yang berperan penting dalam kehidupan mereka. Dalam dunia islam kita mengenal beberapa perang seperti perang badar, perang uhud, hingga perang salib. Peperangan juga memiliki peran yang sangat penting dalam dunia islam, katakanlah dengan dikenalnya konsep jihad atau mati syahid. Cina mempunyai legenda tiga kerajaan Sam Kok salah satu buku filsafat sangat dahsyat, ditulis Sun Tzu dengan judul “The Art of War”.

Dalam masyarakat dengan cakupan yang lebih tipis, berbagai macam unsur kebudayaan tercipta sebagai representasi peperangan. Masyarakat tempatan pra-modern memiliki berbagai macam symbol yang berhubungan dengan peperangan. Tarian, nyanyian, teater, hingga berbagai totem mempunyai kaitan dengan peperangan. Selain itu, perang juga menentukan struktur masyarakat dalam masyarakat tempatan pra-modern tersebut. Pemimpin, sang chief umum ditentukan dri sang pemimpin perang. Itu juga sebabnya, dalam beberapa kasus, perang menjadi alah satu proses inisiasi yang menentukan jabatan dan psosisi seseorang salam suatus truktur masyarakat.

Secara singkat, saya hendak menguraikan bagaimana perang berjalan dari masa ke masa dan berbagai latar belakang yang menyertainya. Marvin Harris, secara singkat menyederhanakan perang ke dalam 4 konteks. Konteks tersebut adalah: (tulisan saya kaku banget, kayak bikin tugas kuliah, ahaha, taek) perang sebagai solidaritas, perang sebagai permainan, perang sebagai sifat alamiah manusia (human nature, terjemahan bebasnya jelek banget –ed.), dan perang sebagai politik. Saya suka pembagian ini. dengan melihat konteks-konteks tersebut, dapat dilihat juga latar belakang politik ekonomi, ekonomi moral, dan historis yang ada di baliknya.

Peran untuk (atau sebagai) solidaritas merupakan tipe perang yang berguna untuk membangun identitas. Sesuai kerangka kerja utama Durkheim, dari solidaritas kita dapat melihat struktur yang membentuk masyarakat dan dari struktur yang membentuk masyarakat kita dapat melihat apa yang membentuk identitas individu. Intinya, solidaritas membentuk identitas.

Perang untuk permainan. Permainan? Kalau Anda pembaca adalah pria maka Anda akan tahu bahwa separo isi otak Anda adalah soal bersenang-senang. Well, ketika tidak ada hiburan atau pekerjaan yang menghibur, mungkin Anda bisa iseng-iseng ke desa tetangga lalu mulai memanahnya dengan api hingga berhamburan lah orang-orang di desa tersebut dan mulai lah Anda beradu pedang. Nonsense? Pada awalnya iya. Namun ketahuilah bahwa banyak sekali perang yang berawal dari alasan yang sama tidak rasionalnya seperti mencari permainan. Manusia, untuk beberapa kasus bersifat fetis dan senang sekali mendapatkan unexplained pleasure. Biarpun, pada dasarnya pleasure adalah tidak terjelaskan. (konteks apa ini? ga ada penjelasannya sama sekali).

Perang sebagai sifat alamiah manusia. Manusia, seperti makhluk lainnya memiliki insting pembunuh. Separo berasal dari semangat seleksi alam separo lagi berasal dari fetisisme dan unexplained pleasure. Saya punya banyak teman yang punya bakat destruktif. Umumnya, secara psikologis, sifat destruktif manusia berasal dari kebosanan dan dorongan dari dalam diri yang tidak tersalurkan.

Sampai pada titik ini, kita mesti menyadari bahwa penjelasan konteks diatas sangat irasional. Bagaimana alasan yang kedengarannya sangat sepele seperti bosan atau ada emosi yang tidak tersalurkan memicu perang? Jawabannya adalah, realitas tidak semudah saat ini. Dengan berbagai instrumen, manusia modern bisa menciptakan berbagai macam realitas. Anda tidak perlu mengambil pistol sungguhan dan merampok mobil di lampu merah; cukuplah Anda bermain Grand Theft Auto. Anda tidak perlu bergabung dengan US Navy untuk merasakan latihannya, cukup lah menonton atau browsing di internet untuk mengetahuinya.

Kawan, saudara-saudara kita dulu tidak punya hidup semanis itu. Dorongan kecil insting membunuh masa kini yang bisa diselesaikan dengan bermain video game atau konseling dengan psikolog Anda tidak lah menjadi fasilitas yang bisa dinikmati leluhur kita. Semangat yang mereka anut ketika bosa atau mati gaya adalah benar-benar melakukan daya perusakan. Hal tersebut yang memicu begitu mudahnya skalasuatu kejadian terekskalasi.

Rasionalisasi kita menuntut kalkulasi untung-rugi, itu primordial. Maka, saya pikir konteks keempat menjadi penjelasan yang manusia modern rasa paling rasional karena sesuai dengan konteks ekonomi-politiknya: perang sebagai alat politik.

Semboyan pencerahan macam cogito ergo sum atau sapere aude jelas saja sudah using dan tenggelam oleh status-status manis Mario Teguh atau Tere Liye, tapi ketahuilah untuk mengkonstruksi semboyan tersebut, dibutuhkan kerangak filosofis yang bukan ain njelimetnya. Hal tersebut sebenarnya bisa dirangkum dalam satu terminology kecil saja: identitas. Identitas menjadi titik tolak dari seluruh praktis sosial yang kita lakukan. Dalam konteks perang sebagai politik, konflik yang terjadi selain untuk memperebutkan mode of subsistence adalah sebagai penegasan identitas.

Begitulah yang terjadi, perang dari masa ke masa berevolusi dari perang untuk memperebutkan mode of subsistence menjadi perang untuk menegakkan identitasnya. Mengapa? Saya pikir, sebagai ulasan sederhananya, mode of subsistence sudah bisa diatasi dengan kemajuan teknologi. Hal tersebut menjadi dasar utama ekologi promotean yang meyakini bahwa bencana demografi maltusian tidak akan terjadi karena manusia akan mengembangkan teknologi untuk melampaui batas subsisten. Perdebatan ini berlangsung selama 2 abad terakhir dan menghasilkan analisis paling tajam mengenai kondisi global mulai dari analisis Paul Ehlrich, Gareth Hardin, hingga Club of Rome.

Itu lah yang menjadi inti utamanya politik identitas dan identitas politik.

Tak salah kalau Abraham Maslow menyusun skema kebutuhan manusia 5 tingkat dan menjadikan self actualization sebagai kebutuhan yang paling tinggi. Identitas menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi sebagai mode of self-actualization. Itu sebabnya, Hitler dan Mussolini bernafsu sekali menegakan Third Reich dan kejayaan romawi kuno. Dua perang besar terakhir merupakan perang yang lebih didasarkan kepada identitas dan semangat chauvinistic. Berbeda dengan perang ketika abad 18 yang isinya adalah perebutan Negara jajahan. Berbeda dengan perang 18 abad sebelumnya yang isinya adalah perebutan mode of subsistence.

Melihat fenomena perang menjadi sangat menarik sebenarnya, tapi saya mendadak malas melanjutkannya, jadi saya singkat saja. Ada banyak sekali hal yang belum saya tuliskan, mengenai perang nuklir, perang sebagai kontrol demografi, perang sebagai konsep konflik dan lain sebagainya. Mungkin saya simpan dulu dan saya tuliskan, atau Anda tuliskan kalau selo.

scriptammanent

 

Independensi

Ini keputusan yang nekat sebenarnya, di tengah tekanan berbagai tugas yang deadlinenya adalah panggilan di media sosial sehingga tidak bisa diprediksi kapan datangnya, saya malah memasukan satu posting di blog ini. Tai biarlah, saya perlu menuliskan hal-hal ini dan saya mendapatkan forum diskusi yang begitu nyaman luar biasa. Mereka adalah jangkar-jangkar yang membuat saya tetap menjadi diri saya yang saya kenali dan saya cintai. Sebagai peghargaan untuk itu, walaupun sesingkat-singkatnya, saya mencoba meliterasikan apa yang kami diskusikan.

Apa yang kami diskusikan dipantik dari pertanyaan konyol mengenai: bagaimana tanggapanmu terhadap uang saku bulanan yang diberikan oleh orangtuamu? Sungguh remeh teman-teman. Namun, pertanyaan sepele itu berkembang mulai dari motif reproduksi, pola demografi, hutang, hegemoni, hingga mode pemantauan. Banyak betul! Untuk ringkasnya, saya akan emnuliskan hal-hal pokoknya saja.

(sebelumnya, maafkan ya kalau banyak typo, saya mengantuk dan malas sekali kalau harus mengedit walaupun esok hari.)

Baik lah, mengapa pertanyaan tersebut muncul adalah kami merasa akan adanya tekanan yang kami rasakan ketika masih menerima uang dari orang tua kami. Ada gangguan yang menerpa kami dengan konsep menerima uang dari orang tua. Dari mana datangnya gangguan itu, itu yang masih menjadi pertanyaan. Namun, dari diskusi tersebut saya mulai bisa memetakan bahwa gangguan tersebut, dan juga motif-motif yang mendorong bagaimana manusia melakukan suatu tindakan sosial berasal dari tiga domain. Kami merancang domain tersebut berdasarkan dialektika id, ego, dan superego freudian yang kami kontekstualisasikan dengan rasionalitas dan kehendak bebasnya Bagus Takwin. Hasilnya, motif tindakan manusia berasal dari tiga domain berikut:

  • kesadaran instingsif yang berkorelasi dengan id. Insting menjadi dorongan yang menyebabkan manusia melakukan sesuatu sebagaimana yang ada. Pedekatan yang paling memuaskan untuk memahami insting adalah psikoanalisis dan sosiobiologi.
  • Kalkulasi rasional yang berkorelasi dengan ego. Dibangun diatas kecerdasan dan aspek kognitif. Lewat kalkulasi rasional, manusia menjatuhkan pilihannya atas pertimbangan untung-rugi. Dipahami dengan psikologi dan segala turunannya.
  • Tekanan masyarakat yang berkorelasi dengan superego. Manusia disetir oleh masyarakat ditempatnya berada, ia menjatuhkan pilihan oleh karena pandangan dan justifikasi masyarakat. Dipahami lewat antropologi atau sosiologi.

Dari ketiga domain tersebut, kami justru menemukan paradoks. Kalkulasi rasional kami yang didasarkan pada ekonomi moral kapitalistik semestinya puas-puas saja menerima uang ulanan tersebut. Bagaimana tidak? Dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, kami mendapat hasil yang sebesar-besarnya. Kalkulasi rasional kami mengafirmasi uang buanan sebagai nilai yang patut dujunjung dan dipertahankan sebaik-baiknya.

Namun tidak demikian dengan kesadaran instingsif kami. Ada suara kecil yang mengatakan bahwa menerima sokongan orang tua adalah sesuatu yang salah. Mengapa salah? Proses independensi adalah mutlak diperlukan dalam suatu spesies dan hal tersebut merupakan insting. Edward Wilson menjelaskan dalam bukunya sociobiology, bahwa proses independensi merupakan keniscayaan dan dibangun oleh orang tua terhadap keturunannya. Tentu saja sang keturunan akan menolak untuk melepaskan diri orangtuanya, hal tersebut tidak mengherankan. Namun, sang orang tua akan memaksa keturunannya untuk pergi darinya.

Sebagai contoh, macaque akan mendorong keturunannya dari puting susunya ketika keturnannya menyusui dan mendorongnya untuk pergi ke tanah sendiri. Contoh lain yang lebih mudah dilihat, adalah epleng, kucing kami di sekretariat yang pada suatu masa akan menolak untuk menyusui anaknya bahkan mengusir mereka pergi. Contoh-contoh demikian juga banyak berlaku di berbagai hewan dan dibangun diatas insting. Fenomena tersebut juga menjadi tantangan bagi pepatah “cinta ibu sepanjang jalan”.

Well, perlu disadari bahwa insting tersebut dibangun diatas perhitungan untukng-rugi yang sayangnya tidak disadari. Pertimbangan yang dapat diberikan (karena insting tidak dapat dijelaskan secara rasional dan asyik di waktu bersamaan) adalah bahwa lebih menguntungkan bagi seorang ibu untuk mengusir anaknya dan mereproduksi keturunan baru lainnya. Keuntungan tersebut berlaku di tataran spesiesnya dan didasari atas semangat altruisme spesies yang menggebu-gebu. Baik sekali dan alasan tersebut menjadi alasan yang paling mudah dipahami, alasan lainnya mungkin akan saya elaborasi di postingan yang lain, mungkin saja. Oh, Edward Wilson menyebut fenomena tersebut sebagai konflik orang tua-keturunan (parent-offspring conflict). (lih. Wilson, 1980: 170). Yang terpenting, insting tersebut juga berlaku pada manusia.

Satu domain lagi: tekanan masyarakat. Dari hasil perbincangan kami, kami menyimpulkan, sampai saat ini ada dua jenis idealisasi jenis kami. Dengan yang kami maksud jenis kami adalah manusia berusia 25 tahun yang telah lulus kuliah dan memasuki gerbang kedewasaan. Dua pointnya idealisasinya adalah menikah muda dan berpenghasilan sendiri. Jangan khawatir, list ini akan bertambah dan tunggulah hingga Anda termasuk dalam idealisasi tersebut.

Penghasilan sendiri tersebut yang perlu kami garisbawahi. Mengacu pada parent-offspring conflict milik Edward Wilson, manusia memiliki perbedaan karena yang memutus ikatannya adalah sang offspring. Keturunnannya yang kemudian menolak menerima bantuan hidup untuk memperpanjang usianya dan melestarikan spesiesnya. Ada apa gerangan?

Hal itu yang menurut kami dibentuk oleh masyarakat. Kini kita tahu bahwa kita berada dimana kasih sayang orang tua mulai agak kebablasan. berapa kali terdengar kasus orang tua yang memperkarakan pihak ketiga karena melakukan tindakan tidak menyenangkan terhadap anaknya.Diluar konteks “tidak mendidik”, saya melihat fenomena tersebut sebagai indikasi bahwa kini orang tua yang justru takut kehilangan keturunannya, bukan sebaliknya seperti yang insting primordial tertanam. Penyebabnya? Tentu saja faktor hitung-hitungan kebudayaan dan simbol. Apalagi yang membedakan kita dari binatang?

Anak, merupakan investasi jangka panjang. Samuel Poptkin menjelaskan bahwa di masyarakat agraris, prinsip banyak anak banyak rezeki menjadi masuk akal karena para orang tua  membutuhkan anak-anak mereka untuk merawat mereka ketika hri tua. Selain itu, anak-anak merupakan faktor produksi yang mudah, murah, dan enak dibuatnya. Pada masyarakat agraris yang lebih menitikberatkan pada kuanitaitas tenaga kerja, semakin banyak tenaga kerja yang dimiliki, maka semakin optimal hasilnya.

Namun demikian, datang lah negara dengan program panti jomponya. Berubah lah paradigma tersebut dan kini, orang tua-orang tua itu lebih baik dimasukan ke panti jompo. Alasannya? Orang tua mengganggu produktivitas. Ini pendapat yang sangat kejam, namun perlu saya tuliskan jua. Negara-negara yang memiliki jumlah orang tua tinggi karena tingkat natalitas rendah (katakanlah, Jepang) kini menanggung beban pembangunan yang tidak kecil karena harus menggelontorkan dana dalam pelayanan kesehatan, dana pensiun, dan bantuan sosial lain bagi para orang tua itu. Kita, tentu saja masih harus terikat dalam relasi bakti kepada orang tua kita. Konsep timur yang adiluhung dan sangat saya dukung.

Dari penjabaran diatas, dapat dilihat bahwa pada akhirnya, orang tua spesies manusia yang lebih membutuhkan keturunannya. Secara simbolik, anak juga menjadi prestis bagi orang tua. Nyaris di seluruh daerah, orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya. Sebagai contoh, di tanah Mandar, dikenal istilah Maumi na reppo arriang sapo, mua massikola bhandi ana’u (biarlah tiang rumah kami patah, yang penting anak kami bersekolah). Apa tujuannya? Prestis salah satunya. Pendidikan dan gelarnya termasuk dalam cultural capital menurut Bourdieu, sehingga tak heran kepemilikan dan akses terhadap kapital jenis ini bergitu krusial.

Bagi Anda yang tengah khawatir mengenai kewajiban menanggung hidup sendiri, semoga tulisan ini bisa membantu. Kalau tidak, enjoy aja.

scriptammanent

Matrimoni: Tuntutan (ii)

Jika pada postingan sebelumnya saya melihat ikatan pernikahan dari dalam, kini saya mau mencoba melihat pernikahan sebagai suatu institusi yang terbuka. Relasi yang menjadi inti dan benang merah saya coba geser kepada bagaimana pernikahan sebagai suatu institusi berelasi dengan institusi-institusi lain yang berada di dalam masyarakat.

Sebagai awalannya, katakan lah bahwa pernikahan adalah suatu tuntutan.

Apa yang menarik terhadap saya sebenarnya adalah tuntutan-tuntutan dari masyarakat kepada suatu individu. Pertanyaan yang paling mendasar dalam mendaras relasi antara individu dengan masyarakat adalah, mana yang lebih mendominasi? Masyarakat terhadap individu atau individu terhadap masyarakat? Jawabannya dogmatis. Anda berhak memilih jawaban apapun dan yang menjadi konsekuensinya adalah dentitas yang kemudian Anda emban. Untuk sementara, lahirnya tuntutan tersebut dapat saya katakan sebagai suatu insting (lagi-lagi) pada suatu masyarakat agar masyarakat tersebut tetap bertahan. Insting bertahan tersebut yang kemudian berbuah berbagai macam perangkat dalam suatu masyarakat. Perangkat tersebut dapat dibedakan menjadi mode of production dan mode of reproduction. Dan ini merupakan salah satu titik berangkat dari pemikiran matrealisme kultural. Pernikahan, sebagai mode of reproduction terang saja menjadi suatu tuntutan. Bila Anda tidak puas hanya karena alasan insting, bersabar lah dan baca lah perlahan lebih jauh lagi.

Sebagai suatu tuntutan, beban yang diberikan kepada setiap individu berbeda-beda. Dalam hal ini, saya mencoba membedakan tuntutan tersebut berdasarkan perbedaan jenis kelamin meski masih banyak faktor yang menyebabkan perbedaan tuntutan tersebut. Agama menjadi salah satu contoh dan sebagai gambaran. Suatu agama akan memiliki makna yang berbeda dengan agama yang lain. Suatu agama memandang pernikahan dengan nilai rekreasi dan prokreasi sedang yang ain melihatnya sebagai upaya penyempurnaan agama. Begitulah suatu faktor dapat menyebabkan perbedaan tuntutan terhadap pernikahan.

Pierre Bourdieu menganalogikan dengan cukup baik bahwa pernikahan mirip dengan permainan kartu. Hasil dan keluaran dari suatu pernikahan akan tergantung dari peraturan dan kesepakatan yang dibuat antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya. Sebagai suatu praktik sosial, pernikahan disesuaikan dengan kepentingan dan keinginan dari pihak-pihak yang melakukannya. Itu lah sebabnya, keluaran dan hasil dari suatu pernikahan akan berbeda dari satu pernikahan dan pernikahan yang lainnya. Suatu pernikahan dapat saja diarahkan untuk memiliki keturunan sebanyak-banyaknya sedang pernikahan yang lain diarahkan untuk tidak memiliki keturunan.

Selain daripada fantasi, keinginan, dan imaji dari suatu keluarga tertentu, kemampuan seorang pemain (dalam hal ini pelaku pernikahan) juga menjadi faktor yang menentukan. Dalam konteks Bordieu, kemampuan pemain tersebut terejawantah dalam modal matrealistik dan modal simbolik serta kekuatan produksi dan reproduksi yang dimiliki dari pemain-pemain tersebut. Pernikahan kemudian, menjadi urusan bagi seluruh kawanan, seluruh kerabat keluarga dan tak ada ubahnya seperti negosiasi bisnis. Kemampuan seorang pemain menjadi, bila kita matrealisasi, menjadi suatu komoditas yang dipertukarkan dengan pasangan atau mempelai dari keluarga yang lainnya. Itu lah sebabnya, bibit, bebet, bobot, menjadi penting. Bibit, bebet, bobot apa yang penting bergantung kepada kondisi dan nilai serta fantasi yang dipegang oleh suatu keluarga tertentu.

Bila kemudian kita menggeser fokusnya kepada pelakunya; para mempelai yang melakukan pernikahan, kita bisa mendapatkan gambaran yang berbeda. Tuntutan akan pernikahan berbeda antara kepada yang ditujukan kepada pria dan kepada wanita. Ini lucu, sebab di luar konteks feminisme, kontrak pernikahan diangap sebagai ideal. Proses pertukaran yang terjadi dalam suatu pernikahan dianggap resiprokal. Hingga kemudian, Simmeone de Beauvoir memberikan perspektif yang berbeda mengenai tuntutan yang diberikan kepada pria dan wanita. Untuk memahami bagaimana perbedaan tuntutan tersebut, kita lihat terlebih dahulu secara singkat bagaimana perbedaan posisi pria dan wanita di masyarakat.

Dalam konteks sejarah, Frederick Engels dalam bukunya, The Origin of the Family, Private Property and the State menjelaskan bahwa pergeseran wanita yang paling awal –dan menjadi awal proses teropresinya, adalah ketika terjadi pergeseran property komunal menjadi asset privat laki-laki sebagai moda produksi. Pergeseran itu terjadi dan dipicu oleh proses domestifikasi berbagai hewan dan munculnya agrikultur sebagai dasar dari masyarakat modern. Implikasinya, selain kemudian muncul barang-barang pribadi adalah tereksklusinya wanita dari proses produksi. Semenjak itu, wanita terjepit dalam proses reproduksi semata.

Sebagai penghuni dan pemegang kendali atas moda produksi, de Beauvior meletakan dasar bagaimana menilai seorang pria. Pria, dalam konteks masyarakat mendapatkan justifikasi eksistesinya dari kerja yang ia lakukan dan berikan untuk kelompoknya. Pada masa tradisional dan artefaknya yang mengkerak pada kondisi postmodern ini, hal tersebut berarti pria diukur dari satu hal kecil ini: penghasilan. Itulah mudahnya bicara dalam konteks moda produksi, segalanya dapat terukur dan dilihat degan mudah. Sedangkan wanita yang tereksklusi dari produksi sosial bergerak di lini reproduksi yang memberikan klaim justifikasi yang sama: jumlah anak. Dalam penjelasan yang lebih sederhana begini lah kira-kira: semakin banyak penghasilan pria, semakin ia diakui; semakin banyak anak yang dihasilkan wanita, ia semakin diakui.

Sayangnya, dalam pembagian moda tersebut, wanita dicurangi. Secara diam-diam, pria ikut memasukan wanita ke dalam moda produksi. Dalam masyarakat pertanian atau masyarakat tradisional, wanita memiliki peran yang luar biasa. Lihat lah contohnya di desa-desa bagimana wanita dengan begitu tangguhnya, memasak, ngarit, dan mengurus anak di waktu yang bersamaan. Bukan kah mereka dicurangi dengan berada di moda reproduksi? Terjebak dalam moda reproduksi, wanita tidak akan mencapai kebebasan individual dalam suatu masyarakat. Mereka, untuk tetap terintegrasi dalam masyarakat, harus menempel kepada pria yang menjadi ‘penjaga’ (guardian)nya. Menyandang marga suami atau ayah cukup menunjukan bahwa untuk diterima dalam sistem atau struktur masyarakat, wanita harus mendapatkan legitimasi dari laki-laki.

Oleh sebab itu, pernikahan kemudian harus dilakukan oleh seorang wanita apalagi setelah ia dewasa atau ayahnya meninggal. Dalam rangka mempertahankan eksistensinya, ia harus berada dalam vassal seorang laki-laki. Karena itu pernikahan menjadi suatu tuntutan. Setidaknya ada dua alasan mengapa tuntutan itu ada.

Alasan pertama sudah dikemukakan diatas, yakni untuk menyediakan masyarakat keturunan. Keturunan tersebut yang akan menegakan social order dan melegitimasi kehadiran suatu kelompok masyarakat. Alasan kedua adalah untuk (maaf saja) memenuhi kebutuhan seksual suaminya dan mengurus rumahtangganya. De Beuvoir menjelaskan bahwa hal tersebut menjadi obligasi wanita sebagai pelayanan (service) bagi pasangannya. Sebagai balasan, sang suami menyediakan jaminan pernikahan yang mantap serta bahan mentah untuk menyokong wanita sebagai istrinya.

Pola tersebut, disadari atau tidak menjadi pola yang acapkali terjadi di masyarakat. Saya yakin, bahwa sebagai wanita masa postmodern, penjelasan saya adalah sisi tergelap yang harus diperangi. Sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni tersebut, kini semakin banyak wanita yang berani mengekspresikan dirinya di moda-moda produksi. Wanita berpenghasilan tinggi sudah biasa. Wanita yang memiliki kekuasaan dalam menjalankan dinamika sosial juga banyak. Wanita yang menolak reproduksi dan membatasi jumlah anak juga tak terkira jumlahnya. Upaya dan reaksi tersebut yang kemudian mengubah makna pernikahan. Kemana makna tersebut berubah? Hanya Anda para wanita yang mengetahuinya. Mungkin untuk memenuhi hasrat bermain dengan anak sendiri yang lucu. Mungkin fantasi mengenggam tangan pria Anda setiap senja sambil meminum kopi, siapa yang tahu? Intinya, pernikahan tetap menjadi tuntutan, kemana Anda pergi.

scriptammanent

Matrimoni: Transaksi (i)

Topik ini, cukup lama saya pikirkan dan beberapa kali menyeruak karena katakan lah, ini menarik. Bagaimana tidak? Seara sepesifik, topik pernikahan menjadi salah satu isu yang sangat sexy terutama dalam kondisi saya dan teman-teman seangkatan saya. Usia dua puluh lima dan dihadapkan kepada berbagai kondisi kehidupan yang jelas sangat berbeda. Transisi ini, masa ini, saya pikir menjadi sangat krusial. Lebih krusial dari pubertas bahkan, karena pada masa ini kita dihadapkan kepada kesadaran.

Sementara pubertas adalah mitos yang harus diterima bocah berusia tanggung di angka 12-13 tahun dan dicekoki oleh guru BK, krisis identitas kedewasaan (maturity) jelas lebih menegangkan. Masa remaja bisa kita lalui dengan perubahan-perubahan fisik dan mental dengan pendampingan ketat dari berbagai institusi seperti orag tua dan sekolah. Kini, di tengah kedewasaan, nilai-nilai tranisisonal yang pernah ada pada masa pubertas berubah. Tanggung jawab, kemandirian, dan kedewasaan menjadi idealisasi dan fantasi utama bagi orang-orang pada tahap ini.

Bagi saya, hal tersebut sangat lah menakutkan. Itu lah sebabnya, saya akan banyak bicara mengenai kegelisahan tersebut terutama di blog ini.

Baik lah, mari kita mulai dari topik pernikahan.

Bagaimana saya memandang pernikahan? Jawabnya simple saja: legalitas seks. Oleh sebab itu, dalam idealisme naïf sisa-sisa masa usia dua puluh tahun, saya dengan polos meyakini bahwa istri yang ideal adalah istri yag cantik sesuai dengan bentukan pasar. Judge me whatsoever, I don’t give a shit about this.

Bila saya boleh mengelaborasi lebih lanjut saya tidak banyak cengkune urusan jodoh. Asal cantik, sedap dipandang, dan kerasa nyambung, sikat sudah. Saya pernah menjelaskan pada suatu postingan bahwa saya masih dengan naifnya, lagi-lagi, meyakini bahwa habits are constructed, bodies are given. Therefore, it’s way easier to change behavior than appearance. Maka, parameter-parameter perilaku tidak menjadi kalkulasi saya. Apa saja parameter perilaku? Katakan lah struktur-struktur yang membangun dan mengkonstruksi a person’s behavior. You name it, ras, klan, tingkat pendidikan, hingga agama.

Ah, naïf. Begitu naïf. Sebelum saya melanjutkan, saya ingin memberitahu Anda bahwa senang rasanya mengeluarkan kejujuran saya di dua paragraph atas. Sembari saya berharap semoga, besok atau minggu depan, saya kembali ke jalan lurus untuk berpikir seperti yang dikampanyekan oleh para tokoh ahli hubungan cum pernikahan di lini-lini masa. Seperti apa? tanpa pacaran, akhlak yang baik, mementingkan isi dibanding body, dan berbagai kampanye-kampanye lainnya. Sungguh saya berharap saya berubah.

Namun sebelum itu, saya akan meninggalkan jejak lewat tulisan ini. biarlah postingan ini akan menjadi monument bahwa pemikiran saya adalah, atau pernah, seperti ini. lewat tulisan singkat ini, saya mencoba untuk menelanjangi berbagai romantisme, romantika, keagungan, dan sakralitas yang menyelubungi matrimoni untuk mencapai inti darinya: seks.

Sekali lagi, jika Anda terganggu, Anda boleh kembali browsing lini masa dan menentramkan diri lewat fantasi pernikahan yang sacral itu, sungguh, hal itu baik sekali adanya.

Reproduksi

Saya akan menggunakan pisau matrealisme untuk membedah pernikahan. Titik awal yang saya gunakan adalah pemikiran bahwa pernikahan adalah salah satu mode of reproduction. Pernikahan merupakan wahana reproduksi yang berfungsi untuk melahirkan keturunan, beranak pinak.

Menghasilkan keturunan adalah insting. Ia ada secara alamiah. Biologi evolusioner menjelaskan bahwa suatu spesies harus memiliki daya reproduksi yang besar bila mau bertahan dari kepunahan. Hal tersebut nyata terjadi. badak jawa punah karena pola reproduksinya yang jarang sekali. Mississippi paddlefish, ikan purba itu juga terancam karena menolak bereproduksi bila tidak terjadi arus bawah di Sungai Misisipi. Memiliki keturunan adalah kewajiban untuk mempertahankan keberlagsungan suatu spesies. Dan hal itu, menjadi motivasi fundamental dalam memahami perilaku makhluk hidup.

Begitu lah, apakah sudah cukup matrealistik? Manusia dalam konteks ekosistem, menurut Timothy O’Riordian merupakan binatang. Manusia dibatasi kemampuan reproduktif seperti kelahiran, pertumbuhan, dan kematian, sama seperti binatang. Itu lah sebabnya manusia disamakan dengan binatang. Bila hal tersebut membuat Anda tidak nyaman, tenanglah dulu. Dalam tahap berikutnya, manusia dengan kecerdasan dan akalbudinya kemudian mengembangkan sistem yang berbeda dengan binatang.

Sistem yang berbeda tersebut adalah sistem simbolik. Tak salah memang mengatakan bahwa manusia adalah symbolical animal. Kita adalah binatang yang ber”symbol”. Symbol-simbol reproduktif manusia kemudian merajalela dan menghujam jauh sampai ke alam bawah sadar. Manifestasi symbol-simbol tersebut termasuk ke dalam upacara dan ritus pernikahan, adat istiadat dan semua yang keluarga Anda paksa untuk Anda lakukan ketika melakukan pernikahan. Padahal gampang saja, secara matrealistik, intinya adalah menjaga supaya keturunan Anda tetap hidup, sehat, dan bisa menindas spesies lain dalam konteks survivalitas. Namun untuk tujuan itu, tidak lah cukup produk reproduksi Anda, anak-anak Anda diberikan susu dan makanan bergizi yang memadai. Perlu ada ritus-ritus dan upacara dalam membuat anak Anda tumbuh sehat dan kuat. Begitulah sistem simbolik kemudian berubah menjadi kebudayaan.

Kompetisi-relasi

Kita telah melihat secara singkat apa tujuan pernikahan itu. Seks, sebagai inti pernikahan diambil sebagai fasilitas untuk bereproduksi. Itu dulu, kita belum bicara soal nikmatnya seks yang akan menjadi dorongan berikutnya: birahi. Untuk masuk ke tahap itu. Baik kita bahas topik relasi ini terlebih dahulu.

Apa syarat pernikahan? Pasangan, kopel. Tidak akan ada pernikahan bila Anda seorang diri saja. Pernikahan membutuhkan dua pihak, bisa jadi pria wanita atau sesama jenisnya atau bahkan manusia dengan jenis lainnya (menikah dengan peri atau bahkan tokoh anime mulai dianggap sebagai kewajaran saat ini). Dengan apapun jenisnya, pernikahan melibatkan dua pihak. Oleh karena melibatkan dua pihak, kita akan melihat suatu fenomena yang sangat mengasyikan ini: relasi. Setelah aspek behavioral, relasi merupakan benang merah dalam memahami kehidupan manusia.

Levi-Strauss menjelaskan bahwa kehidupan manusia terbagi menjadi tiga ‘dunia’ (spheres). Yang pertama adalah bahasa (yang terdiri dari pertukaran kata-kata), kekerabatan (yang terdiri dari pertukaran wanita), dan ekonomi (yang terdiri dari pertukaran barang-barang).  Menurut Levi-Strauss, ketiganya diatur oleh satu hukum yang sama: resiprositas.

Resiprositas menjadi kata kunci untuk memahami relasi yang bermain kehidupan manusia. David Graeber mengambil kata tersebut untuk menjelaskan konsep hutang yang menjadi dasar dalam memahami kehidupan manusia. Dinamika yang terjadi di social sphere, seluruh perilaku manusia, terjadi karena adanya inhomeostat resiprositas. Ada ketidakseimbangan pertukanran dalam sfera Levi-Strauss tersebut. Karena itu muncul hutang piutang dan muncul relasi sosial. Hal tersebut ya, termasuk juga pernikahan.

Dalam suatu diskusi sore yang menyenangkan di bon bin, Putri, sahabat saya mengatakan bahwa melihat pernikahan sebagai semata-mata lembaga pengesahan seks adalah mustahil. Menurutnya, pernikahan terjadi, lebih untuk hanya sekedar legalitas seks, adalah untuk membangun sistem kekerabatan. Itu lah sebabnya, calon mertua Anda berhak menolak Anda. Karena Anda akan masuk ke dalam sistem kekerabatannya. Bukan hanya icip-icip nyam-nyam anaknya. Anda akan diinternalisasi kedalam klannya, ke dalam sistemnya sehingga Anda harus diseleksi lewat fantasinya soal menantu idaman.

Fantasi tersebut yang membuat prinsip resiprositas bekerja. Untuk masuk ke dalam sistemnya, Anda harus punya nilai yang sesuai dengan yang diharapkan. Hal tersebut conditio sine qua non. Resiprositas terjadi ketika ada prasyarat yang diajukan oleh calon mertua Anda. Bila tidak memenuhi resiprositas tersebut, maka silahkan mundur dan dinamika sosial Anda dengan pasangan Anda akan berhenti sampai disitu atau lewat cara lain: berhutang.

Kita tinggalkan dulu konsep hutangnya. Dalam pernikahan, semua harus dilunasi di muka. Sebagai contoh, saya ceritakan kepada Anda tentang suku Tiv. Untuk memenuhi prinsip resiprositas tersebut, suku Tiv menyerahkan saudara perempuan dari mempelai pria yang akan menikah ke keluarga perempuan yang akan dinikahi oleh pria tersebut. Ini adalah contoh yang baik bagaimana suku tiv begitu menghayati prinsip resiprositas dalam pernikahan. Ketika salah satu keluarga kehilangan anak permpuannya, maka diganti dengan perempuan yang lain.

Apa konsekuensinya? Bila Anda aktivis feminis, mari berteriak bersama saya: wanita dikomodifikasi! Eh, tunggu dulu. Dikomodifikasi? Tidak, kawan. Wanita, perempuan menjadi alat tukar. Apa yang ditukarkan? Kekerabatan. Bukankah Levi-Strauss sudah menjelaskannya?

Bagaimana? Wanita bukan lah komoditas. Mereka adalah alat tukar. Ini semakin menyulitkan. Komoditas punya nilai dan bisa divaluasi untuk kemudian dirasionalisasi, namun ini alat tukar. Tapi tenag lah, siapa bilang alat tukar tidak bisa divaluasi? Alat tukar (uang lah sebagai contoh paling gampang) juga punya nilai intrinsik bukan? Begitu pula wanita. Irlandia kuno memiliki sistem mata uang (currency) berupa budak wanita atau disebut sebagai cumal. Alasan budak wanita dijadikan alat tukar adalah karena kegunaan dan nilai pentingnya.

Saya pikir cukup. Alarm moral saya mulai memberi peringatan.

Inti dari tulisan awal ini adalah menekankan bahwa pernikahan dengan segal tetek bengeknya adalah selebrasi simbolik terhadap kekerabatan. Anda tidak boleh memandang rendah kekerabatan. Tak terhitung banyaknya kejadian besar dalam sejarah yang dimulai dari kekerabatan. Pernikahan politik menjadi salah satu contoh bagaimana kekerabatan menjadi salah satu strategi ampuh dalam membangun jarring-jaring kekuasaan.

Sebagai penutup awalan ini, kita mendapat dua konsep kunci awal dalam mendedah perkawinan: reproduksi-survivalitas dan resiprositas-kekerabatan. Perlahan, kita masuk ke dalam intinya: seks. Semoga menjadi orgasme pemikiran, toh ini hanya onani intelektual bukan?

scriptamanent

 

 

Lagi Getol

Saya lagi getol menulis private thing, hoho, and by ‘getol’ I mean, only 1 or 2 posts that related with the private issue. So, I guess I am quite widely open about how I feel right now. UAS kemarin, harus saya akui membuat saya cukup terpukul dan mengubah frekuensi kehidupan saya selama beberapa waktu. Ini tidak lama, paling sampai seminggu ini saja sampai saya merasa harus mengisi blog ini lagi dengan post-post sok serius. Anyway, I try to fill this blog with ‘things-that-are-deserved-to-be-published-after-I-die’. Quite like Hok-Gie dengan catatan hariannya. Walaupun buat dipublish, catatan-catatan sengak di blog ini nyaris sama mustahilnya dengan mengetahui momentum dan posisi elektron di waktu yang bersamaan.

There it goes: I’d like to talk about city.

Ini topik lama, as a matter of fact. Beberapa minggu yang lalu, saya menemani teman saya, Finda untuk survei lokasi tesisnya. Lokasinya di Sungai Tapak, Semarang. Tempat yang menarik untuk dieksplorasi, and conceives beauty as it is. Saya menjadi tidak sabar menunggu hasil analisis Finda.

Well, cerita bermula ketika pulang dari Sungai Tapak untuk menuju Jatingaleh, saya kebablasan, as usual. Tapi kebablasan itu membawa saya kepada tempat yang sungguh menakjubkan: Pesisir Utara Semarang, dan sebagai bonus: sunset. Melihat kemegahan Tanjung Emas dari jalan layang dari Pesisir Utara Jawa saat sunset menjadi sensasi yang sangat luar biasa. Saya terharu.

Saat itu saya sadar bahwa kota, bukan sembarang fenomena. Mari kita lihat contoh kasus Semarang dalam hal ini.

Jonathan Raban, membagi kota menjadi dua dimensi: soft dan hard. Ketika seseorang masuk ke dalam kota untuk pertama kali, ia akan melihat kota dari hard aspectnya. Jalanan, petunjuk arah, rambu lalu litas, batas tembok, dinding, dan particular location, adalah hal-hal yang menjadi pusat perhatian seseorang ketika ia masuk ke dalam suatu kota yang baru. Seiring berjalannya waktu, orang itu akan masuk ke dalam soft aspect from a city. Sisi lembut suatu kota akan merasuknya, ia akan berubah identitasnya, perilakunya, nilai-nilai yang dianutnya, hingga cara bicara atau bahasanya. Bisa dikatakan, apabila seseorang berubah aksennya ketika ia masuk ke suatu kota baru dengan dialek yang berbeda dengan dialek ibunya, ia sudah totally blended in. Bahasa, bagaimanapun adalah struktur utama yang mengatasi struktur-struktur lainnya, gitu sih kata Durkheim.

Dalam kasus Semarang, saya berdiri dalam kegamangan antara hard aspect dengan soft aspect. Kota Semarang menjebak saya dalam struktur kotanya yang semrawut (lihat ajah daerah Genuk ke timur ke arah Demak) dan romantika lansekapnya. Semarang adalah kota yang unik karena sebelum kita masuk ke kotanya, kita diberikan birdview terhadap dirinya sendiri. Jarang ada kota yang demikian (Jogja bisa saja asal kita masuk dari Gunung Kidul lalu lewat bukit bintang). Sehingga, sebelum akhirnya kita terintegrasi dalam diri kota Semarang, kita diberi kesempatan untuk melihat dirinya -secara keseluruhan terlebih dahulu.

Bagaimana ini membuat berbeda? Saya pun bingung. Namun penjelasan yang bisa saya berikan adalah: ketika kita diberikan kesempatan untuk melihat kota Semarang terlebih dahulu kita diberikan fakta bahwa kita dengan kota itu adalah entitas yang terpisah. Dalam entitas yang terpisah, lebih dimungkinkan tercipta dialog. Dengan menyadari keterpisahan itu, saya masih bisa merasakan diri saya sendiri walau saya teah tercelup dan tenggelam masuk ke dalam kotanya. Saya tahu bahwa saya dan Semarang bersatu namun tidak menyatu. Hal tersebut tentu tidak terjadi ketika kita perlahan tenggelam dalam suatu jalan-jalan kota.

Cuma saya yang merasakannya ya? Ah, ya sudah.

By the way, tulisannya cukup sekia sih, tapi sebagai bonus saya mau membuat point terhadap beberapa kota yang pernah saya datangi. Here it goes.

Jakarta (Pamulang, particularly)

‘Fondasi’ menjelaskan segala sesuatu tentang Jakarta. Place where I was born, tempat saya tumbuh dan berkembang dan membangun struktur-struktur bawaan dan archtype saya. Jakarta menjelaskan nyaris segalanya tentang saya. Di tengah hiruk-pikuknya, polusinya, kemacetannya, Jakarta memberikan pesona dan persona yang tidak mungkin tergantikan.

Yogyakarta

Tempat saya membangun struktur-struktur lanjutan di atas fondasi saya. Apapun yang Anda lihat dari saya sekarang adalah hasil pemberian Yogyakarta sedangkan yang tidak Anda lihat namun saya lihat di diri saya adalah pemberian dari Jakarta, begitu. Still, I find almost everything in this city (or region).

Semarang

Sudah saya jelaskan diatas

Bandung

Saya jarang main ke Bandung, but when I do, saya tidak main. Bandung adalah kota yang paling intim buat saya, karena saya hampir nyaris merayapi kota ini dengan berjalan kaki. Mulai dari Geger Kalong hingga Stasiun Hall, Jalan Riau sampai Dago, hingga Soekarno Hatta sampai Ganesha. Saya cinta Bandung dan berharap kota ini tidak terJakartaisasi, karena cukup hanya ada satu Jakarta saja di dunia ini.

Surabaya

Saya rajin mandi di kota ini.

Dan dari seluruh kota diatas, tempat dengan romantika yang tinggi adalah: Jalan Pantura, Jalan-jalan Pegunungan Sewu, dan Jalan Jogjakarta-Semarang. Kok jalan? Ya, sebab cinta adalah selayaknya jalan, bukan menjadi suatu tujuan.

 

Kalibrasi

Berhubung lagi ada internet dan suasana yang asik, jadi saya memutuskan untuk melanjutkan postingan di blog ini. Kali ini saya malas bicara yang berat-berat. Maka, saya putuskan untuk mencurahkan uneg-uneg, curhat lagi lebih tepatnya. Dan kalau uneg-uneg maka hampir dapat dipastikan tulisan ini bakal kayak status facebook, cuma lebih panjang dan private aja karena saya tulis disini.

Oke, pertama saya sedang memulai “Tale of Resurrection of Smarvo and The Prince”. Saya berniat menghidupkan kembali dua kekasih lama saya yang telah mati. Yang satu adalah amplifier gitar bermerk smarvo dan yang satu lagi adalah gitar Prince STC-34 X saya. Keduanya pernah begitu saya cintai lantas secara egois saya tinggalkan. Kini, smarvo tengah berada di pusat servis amplifier dan saya sedang berdebar-debar menunggu tagihan servisnya. Prince aman berada di kamar saya.

Dan yang kedua yang tengah menjadi perhatian saya adalah isu ibu warteg di Serang yang tengah menjadi viral karena multiplier effect yang ditimbulkannya. Kini saya sadari, betapapun njijikinya bahasan yang ada di timeline saya, saya harus menyerah dan mengakui bahwa ada kenikmatan sendiri melihat bagaimana netizen beraksi di media sosial, hohoho. Melihat mereka berdebat menyenangkan walau tak jarang saya kemudian dibuat bertanya-tanya sendiri lalu baper, hehe. But thanks anyway, from them I learn not to underestimate the power of numerous lazy people.

Yes, they do make their point. Yet, in my humble opinion, the discussion and the discourse in the public sphere recently is diverted into one but a very peculiar concept: toleration. Then when I read all the arguments, I was like: “wait, what?!”. It’s not something I used to know about tolerance or something I had written in this blog, once.

Well the implication is, not so long from the Warteg incidents, my government decline almost 3000 federal laws and wasted trillions of rupiahs. Bisa dibayangkan kalo buat ngebeli lidi-lidian pedas terus dijejer, bisa berapa kali kita bolak-balik bumi ke merkurius. Dan lucunya, isu pembatalan perda tersebut dicap sebagai bentuk intoleransi. Sekali lagi: toleransi.

(wow, downloadan saya selesai! hahaha)

(berhubung downloadan saya selesai, saya jadi bingung mau ngomong apa soal toleransi)

Ada satu kata yang melintas di dalam pikiran saya ketika memikirkan hal tersebut. Prinsip dari Ignatius Loyola: Finding God in all things. And when I do, I literally mean ‘all things‘. Artinya, saya harus (sebagai produk Ignasian) menemukan Tuhan dalam berbagai hal, mulai dari salib besar, tembok besar cina, debu di sepatu, hingga foto satelit hubble. Artinya menemukan tuhan di rosario, tasbih, lafadz Allah, huruf aum, hingga kopiah Haji Maka’. Dan yang paling ekstrem, menemukan tuhan di rudal Israel, mata seorang pencuri, senyum seorang penipu, hingga tawa pelaku genosida. Tuhan hadir di sana semua.

Kok aneh, selama ini kan Tuhan identik dengan kebaikan. Bukankah kata Albert Einstein (dalam anekdot viral yang pasti kita pernah semua baca) bahwa kejahatan adalah absennya kebaikan? Tuhan tidak berada disana ketika ada kejahatan. Aha, selamat jika begitu, pikirkan lagi soal paradoks Epicurus yang menyebalkan itu.

Saya tidak punya jawaban praktis untuk itu. Nanti mungkin akan saya coba tuliskan argumentasinya. Untuk sementara, ketahuilah bahwa tuhan is literally, everywhere, everytime. Anda yang beriman tahu istilah Gusti ora Sare kan? God watches, listens, and knows everything dari yang kemarin hingga yang akan terjadi. Tapi bukan urusan kita untuk itu, dalam katolik, saya diajarkan untuk menghargai misteri yang diberikan tuhan dan yeah, I enjoy it. Saya menikmati misteri yang Tuhan berikan dalam kehidupan ini.

Lalu kita, manusia pada dasarnya adalah makhluk yang bertuhan. Sayangnya tentu saja kita sering sekali lupa. Kita lupa bahwa kita bertuhan justru dengan beragama. Kita sibuk mengatur ibadah kita (bahkan ibadah orang lain!) tapi lupa mengenal tuhan. Well, I do believe bahwa hubungan dengan tuhan adalah urusan yang sangat personal. Karenanya, segala ibadah yang diperintahkan hanyalah awal menuju kepada tuhan kita. Sayangnya, kita malah tidak mengikutinya. Apa yang terjadi adalah petunjuk itu, papan-papan penunjuk arah itu tidak kita ikuti hanya kita lekati dan kita jaga selayaknya satpam yang sangat galak. Akibatnya? ya kita ga kemana-mana lah, hanya berkutat di urusan ibadah tanpa menuju ke tuhan kita.

And I do believe too, bahwa seluruh jalan itu akhirnya akan menuju puncak yang sama kok, everybody will be happy beside God. Dan tuhan cukup punya kuasa untuk memanifestasikan diriNya yang hanya satu itu dalam berbagai bentuk yang ciptaannya sukai. Saya pikir dia juga tidak akan keberatan untuk itu.

Masalahnya adalah ada ciptaanNya yang tidak menyukai bentuk satu dan yang lainnya lalu memaksakan bentuk kesukaan mereka. Well, it’s kind of weird tapi kalau ada yang begitu, sikapi dengan dingin saja, terima, lalu tersenyum dan bilang, “ya, pilihanmu memang yang terbaik”. Seperti ketika kita ditawari jenis musik tertentu, pura-pura sukai saja. Cara tersebut aneh, memang, tapi dalam menghadapi orang cupet yang belum bisa move on dari metode menuju tujuan sebenarnya, agaknya, cara ini bisa dipakai. Toh nanti juga akan ketemu juga ujung-ujungnya.

Begitu saja sudah, ini saya berikan ilustrasi tree of life, buat pembaca supernova pasti familier dengan simbol ini. Di Supernova, ini simbol akar. Bentuk lingkaran biru adalah sefirot: 10 tahap emanasi menurut ajaran Kabbalah. Dan tree of life, adalah wujud universalitas agama-agama dunia, karena simbol ini, mulai dari mitologi Nordik hingga buddhism muncul terus-menerus.

Tree-of-Life_Flower-of-Life_Stage

Dan semoga kita tetap bisa menjadi buddha walau tertulis katholik di KTP.

scriptammanent

Domestik (iii): Tubuhku Hasratku

Dalam dunia ini ada suatu kondisi yang disebut homeostatis. Kondisi tersebut adalah kondisi seimbang sempurna, suatu kondisi dimana segala proses niscaya berheti, ultimate ending. Sementara kita tahu pada faktanya bahwa dunia masih berputar, proses masih terjadi, dan Justin Beiber masih bernanyi. Mengapa proses tersebut masih berhenti? Artinya masih ada yang belum tuntas di dunia ini, masih ada kondisi dimana keseimbangan belum terwujud. Manusia masih berpikir karena res cogitans masih bertempur dengan res extensa, penelitian masih berjalan karena das sein belum sama dengan das sollen, aktivitas sosial-ekonomi masih berputar karena masih ada hutang dan lain sebagainya. Intinya adalah ada perbedaan antar dua entitas tersebut yang membuatnya menjadi proses. Perbedaan itu yang menjadi titik tolak dalam melihat bagaimana pria dan wanita terus saling mencinta (preambule yang ga nyambung dan maksa banget).

Apa yang mau saya tuliskan berangkat dari premis sederhana: ‘mencintai tak harus memiliki’ yang buat saya preketek. Tapi supaya kelihatan canggih, ‘preketek’ saya tersebut saya coba kembangkan lewat perangkat yang minta ampun susahnya buat dipahamin: eksistensialisme sartre. Kata kunci yang akan kita gunakan adalah hasrat.

Tidak mungkin mencintai tanpa mengingini. Biarpun apabila dibawa ke mahkamah diskusi atau perdebatan aspek tersebut kemudian bisa diperdebatkan dan akhirnya kembali ke premis maha ampuh: ‘semua kembali ke diri masing-masing’. Tapi premis barusan membuat konjengtur saya menjadi benar karena masih ada kemungkinan untuk difalsifikasi bukan?

Terlepas dari aspek positivism logis tadi, saya ulangi bahwa tidak mungkin mencintai tanpa mengingini atau dalam bahasa yang lebih ngeksistensialis, tak mungkin berhasrat tanpa mengingini. Sartre mengatakan bahwa: “tidak mungkin kita menghasratkan wanita (sesuatu apa pun itu, wanita dalam konteks Sartre sebagai penulis-ed.) tanpa berada dalam hasrat tersebut” (Sartre, 2015: 16). Secara otomatis, berhasrat berarti meletakan kesadaran kita dibawah hasrat tersebut. Manusia karena itu adalah kaki tangan dari hasratya sendiri.

Hasrat, sebagai komponen tubuh merupakan salah satu gerbang dalam berkomunikasi dengan tubuh, tubuh kita. Ketika kita berhasrat, kita menutup kesadaran kita dan sebagai por-soi, perhatian kita akhirnya kembali ke tubuh kita sendiri. Hal tersebut yang disebut sebagai kontingensi kesadaran. Pemahaman mengenai hasrat adalah analog dengan pemahaman terhadap rasa lapar, ia adalah insting dan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Dan karena hasrat adalah produk tubuh, maka kita akan bicara dalam konteks yang sangat badaniah. Anda yang menganggap bahwa cinta itu cinta maha suci putih alih-alih merah membara bisa merenung sejenak dan melepaskan diri dari jebakan metafora.

Dalam prosesnya, hasrat yang bersemayam dalam tubuh memberikan ketenangan yang mendalam, sensasi yang sekali lagi, sama seperti rasa lapar apabila dikenyangkan. Sebagai insting (yang terjebak dalam peyorasi nafsu kebinatangan), hasrat mecoba berdialog dengan tubuh untuk membuka kesadaran bagi por-soi, kesadaran untuk memahami keberAdaan kita, Dassein.

Semisal kita tahu bahwa metode dalam mengetahui Ada bagi Heidegger adalah dengan terus mempertanyakannya (Balontia, 2015), maka metode hasrat ini cukup radikal. Metode hasrat adalah menggunakan media tubuh untuk mencapai persetubuhan. Mengapa persetubuhan?

Persetubuhan merupakan pengungkapan tubuh. Hasrat adalah dorongan bagi por-soi untuk menyadari Ada. Tubuh bertindak sebagai wahan sekaligus penghalang utama dalam memahami Ada. Dan memahami Ada ini merupakan keinginan yang paling utama bagi dassein. Hasrat dalam konteks eksistensialisme bukanlah nafsu kebinatangan karena dassein bisa mengakses Ada lewat berbagai cara dan inilah yang justru membedakan kita dengan binatang. Maka hasrat kita janganlah direduksi menjadi nafsu, ia merupakan jalan bagi por-soi untuk mengenyahkan realitas sekelilingnya agar bisa focus kepada dirinya; kepada tubuhnya.

Hasrat yang menagalir lewat tubuh  itu yang kemudian berubah menjadi polah-polah ketika berdekatan dengan orang yang kita taksir. Tubuh kita perlu menyingkap dan mengungkap. Ia mengungkap dengan menggunakan tubuh yang lainnya. Itulah sebabnya, kita butuh bersentuhan dengan orang lain gara tubuh kita mengungkap. Ketika kita bergenggaman tangan, kita tahu bahwa tangan kita ada disana dengan persentuhannya dengan tangan lain. Hasrat yang mendorong tubuh kita sehingga ia mengungkapkan dirinya sendiri.

Lalu apa bedanya dengan mengenggam stang sepeda? Bukankah kita juga merasakan tangan kita juga? Ya, namun dalam tahapan yang berbeda. Tubuh yang tidak bersentuhan dengan tubuh lainnya tidak akan masuk ke dalam kontingensi kesadaran karena focus kita adalah stangnya, bukan tangan kita. Lagipula itu hanya tangan saja yang berlaku, dalam menyingkap tubuh yang kita perlukan adalah tubuh sepenuhnya, bukan hanya sepotong-sepotong. Contoh paling udah adalah berpelukan. Dengan berpelukan, tubuh kita menyingkap lewat tubuh orang lain yang kita dekap. Biokimia kedokteran bisa saja mereduksinya menjadi semata-mata pelepasan endorphin atau serotonin atau dopamin. Namun dalam konteks hasrat, tubuh kita menyingkap.

Selain itu, proses penyingkapan berjalan secara resiprokal. Bahwa dekapan dan pelukan membuat tubuh yang lain juga menyingkap bagi por-soi nya. Dengan demikian, perlu dua tubuh yang saling menyingkap untuk satu sama lain. Maka tidak dapat penyingkapan tubuh dihasratkan kepada benda-benda.

Sedikit penghiburan, makna menginginkan dalam budaya populer senada dengan penempatan yurisdiksi atau otoritas pada orang yang kita cinta. Sok ngatur-ngatur, begitu bahasa kasarnya. Bukan begitu bagi seorang eksistensialis. Pada akhirnya, otoritas tubuh akan kita korbankan untuk mengakses Ada. Therefore, it’s alright semisal kita mencoba mengkonfigurasi tubuh pasangan kita dengan komplen ‘kamu kok gendutan, yang? Kurusin dong’, ‘rambutmu pendek jelek yah’, dan jargon yang saya yakin anda lebih fasih. Itu adalah upaya penyingkapan tubuh dalam rangka mendukung kontingensi kesadaran. Tubuh yang kita beri hasrat dan sesuai dengan apa yang kita mau membuat proses penyingkapan berjalan lebih mudah. Maka jangan sembarangan bilang kalau fisik itu ga penting. Hasrat dan seks adalah jalan menuju Ada dan manusia yang tidak mencoba mengaksesnya tak ubahnya dengan kardus bekas yang kehujanan, melapuk, lalu larut begitu saja. Miris.