scriptamanent

"verba volant, scripta manent"

Death|Cheat

Syahdan, tiga penyihir bersaudara hendak menyebrang sebuah sungai. Sungai itu merupakan sungai yang berbahaya dan telah menelan banyak nyawa mereka yang mencoba menyebranginya. Karena itu, sungai itu dianggap berhantu. Akan tetapi, dengan kekuatan yang tiga penyihir itu miliki, mereka membangun sebuah jembatan untuk dapat menyebrang ke sebelahnya.

Tiba-tiba di tengah jembatan yang mereka bangun, muncul sosok besar dan mengenakan tudung serta jubbah berwarna hitam. Tak lain tak bukan, sosok tersebut adalah kematian. Ia merasa marah karena tiga enyihir itu, dengan kekuatan mereka, sanggup membuat jembatan dan dapat menyebrang ke sisi sungai tanpa perlu menyerahkan nyawa mereka.

Kematian licik. Dalam kelicikan yang ia miliki, ia mengubah amarahnya menjadi rasa takjub dan kagum kepada tiga penyihir itu. Sebagai rasa kagumnya, ia berjanji akan memberikan benda apapun yang mereka minta.

Penyihir pertama, sang kakak pertama, meminta tongkat sihir terkuat yang pernah ada. Kematian membuatkannya dan memberikannya kepadanya. Kemudian berjalanlah penyihir pertama tersebut dengan pongah dengan membawa tongkat sihir mahakuat tersebut. Penyihir kedua meminta sebuah benda yang dapat memberikannya kehidupan abadi. Kematian kemudian membuatkannya batu bertuah yang menghasilkan cairan yang mampu membuat seseorang muda kembali. Dengan menenteng pemberian kematian itu, penyihir kedua melangkah menuju ke seberang sungai.

Tiba lah akhirnya penyihir ketiga, saudara paling kecil untuk meminta benda apa yang paling dia inginkan. Konon, saudara paling muda ini adalah orang yang rendah hati. Dia meminta sebuah benda yang dapat menyembunyikannya dari apapun di dunia ini, termasuk kematian. Maka kemudian, kematian menyobek bagian jubahnya dan memberikannya kepada penyihir ketiga.

Potongan narasi tersebut merupakan potongan cerita dari saga Harry Potter yang sangat termahsyur itu. Narasi tersebut muncul di bagian 7, Harry Potter and the Deadly Hallows, yang sekaligus merupakan bagian penutup. Saya lupa kelanjutan narasi tersebut, namun biar lah sedikit saya bocorkan bahwa kemudian kedua penyihir pertama akhirnya kembali didatangi kembali oleh kematian yang marah karena gagal mengambil mereka di sungai tersebut. Hanya saudara penyihir yang paling kecil, penyihir ketiga yang memiliki kemampuan untuk bersembunyi dari kematian sehingga kematian tidak dapat menemukannya untuk mengambilnya.

Itu lah inti dari postingan ini: menipu kematian.

Untuk kesekian kalinya saya tuliskan bahwa salah satu komponen utama, jika ia bukan yang utama dan satu-satunya dalam kehidupan manusia adalah kematian. Apapun yang Anda lakukan di dalam hidup ini, entah itu latar belakangnya, cara Anda menikmatinya, atau tujuannya, semata-mata, disadari atau tidak, berhubungan dengan kematian. Kematian hadir dengan kekuatan penggerak (driving forces) yang menyamai bahkan melebihi insting seksualitas meskipun keduanya pada dasarnya memiliki basis yang sama. Kematian berurusan dengan keberadaan individu sedang seksualitas berurusan dengan keberadaan kelompok atau komunitasnya. Manusia pasti, dan ini merupakan salah satu sedikit dari preposisi yang mengadung unsur kepastian didalamnya, menemui ajalnya, cepat atau lambat. Premis tersebut yang harusnya menjadi salah satu batang tubuh realitas yang ajeg (steady) dan tidak berubah.

Dalam menghadapi kematian, manusia menghadapi ketakutan. Bahkan Yesus Kristus sebelum disalib untuk memperoleh kemuliaan yang melebihi dari apa yang bisa manusia bayangkan dan melengkapi karya penebusan harus terjatuh dan terpuruk di Taman Getsemani karena begitu ketakutan menghadapi kematian. Metafora tersebut diangkat sebagai upaya dalam menyadari manusia bahwa kematian merupakan sesuatu yang menakutkan namun dibaliknya, terdapat kemuliaan dan keagunagn yang hanya bisa dicapai melalui perbuatan-perbuatan yang manusia lakukan selama hidupnya. Metafora kehidupan setelah kematian merupakan gambaran sastra terindah dimana digambarkan surga dan neraka sebagai suatu lokasi geografis yang berisi berbagai ketakutan dan kebahagiaan material manusia. Dan hanya melaui kematian, manusia dapat memasukinya. Kekuatan kematian adalah bahwa ia menyadarkan kita akan kesementaraan, bahwa tidak ada yang abadi.

Di dalam periode kesementaraan itu, selama manusia hidup dan kembang kempis menarik nafas, manusia diberi kesempatan sebesar-besarnya untuk melakukan apa yang harus ia lakukan: mencari makna terhadap keberadaannya. Ada yang melakukannya dengan berbuat baik dan membahagiakan sesamanya, ada yang melakukannya dengan melibas dan menyembelih manusia lainnya, ada yang menolak dunia ini dan memilih berpaling kepada Sang Haqq, ada yang tidak peduli. Apapun cara mereka menjalani kehidupan ini mereka dalam petualangan untuk mencari makna. Bahkan para absurdis dan nihilis yang konon menolak adanya makna, mereka pun pernah terlibat dalam kegiatan pencarian makna yang begitu mengasyikan itu hingga dalam proses pencarian mereka, mereka menolaknya.

Pendapat tersebut dijabarkan oleh seorang eksistensialis nan melankolis cum antropologis Ernst Becker dalam The Birth and Death of Meaning (1971). Becker mengatakan bahwa ketakutan manusia terhadap kematian adalah ketakutan yang maknawi, bukan ketakutan yang badaniah. Berpijak dari pendapat tersebut, maka kematian yang menakutkan, dalam kacamata Becker adalah kematian simbolis. Dalam memanifestasikan kematian simbolis tersebut, manusia menyusun bebagai perangkat yang juga simbolis untuk merayakan kematian (Palgi & Abramovitch, 1984). Selebrasi kematian tersebut termanifestasi dalam berbagai ritual dan perayaan serta pernak-pernik badaniah kebudayaan.

Dalam berurusan dengan kematian yang simbolis tersebut, manusia mengembangkan seperangkat alat untuk menghadapi atau bahkan melawannya. Manusia ingin hidup abadi sebab mereka tidak dapat menerima konsep bahwa mereka, pada akhirnya akan kehilangan makna dan simbol terhadap seluruh kehidupan ini. Salah satu upaya menghadapinya adalah dengan mengembangkan dunia kesehatan yang kemudian dikritik dengan begitu elegan oleh Ivan Ilich lewat ‘Medical Nemesis’nya (1975) yang menunjukan bagaimana dunia kesehatan tidak menunjukan hasil yang setara dengan modal dan upaya yang telah dilakukan. Dunia medis tidak dapat memberikan manusia keabadian karena ia memiliki keterbatasan inheren, begitu kira-kira premisnya.

Baik, secara badaniah kita tidak dapat mempertahankan jasad kita katakanlah melebihi 150 tahun. Dalam 150 tahun kita akan menghilang tak berbekas, masuk liang lahat dan berubah menjadi pupuk lezat. Namun dunia terus ada dan berkembang tanpa perlu ada kesadaran dan apparatus yang memaknainya. Tidak terdengar buruk juga bagi saya pribadi, namun bagi sebagian (besar) orang, hal tersebut tentu saja menimbulkan persoalan tersendiri. Kalau tidak, kita tidak akan mendengar harapan ‘panjang umur’ setiap kali seseorang berulang tahun.

Maka demikian, perlu ada cara lain untuk mengalahkan kematian. Sheldon Solomon dan kawan-kawannya yang baik hati mengkompilasinya dan dituangkan dalam buku mereka: ‘The Worm at The Core’ (2015) dan mengelompokannya menjadi keabadian literal (literal immortality) dan keabadian simbolis (symbolic immortality) entah karena mereka seorang psikolog atau mereka memang tidak menemukan ada solusi untuk menuju keabadian badaniah (physical immortality) sehingga mereka tidak mengkategorikannya.

Keabadian literal adalah kepercayaan bahwa pada dasarnya ada bagian dri seseorang yang tidak akan mati. Kita begitu akrab dengan konsep ini bahwa setelah kematian, jiwa kita akan melayang entah dan keudian memasuki sebuah alam lain yang tidak pernah dapat dibuktikan secara rasional namun memiliki kekuatan keyakinan yang sangat besar: alam baka. Jiwa kita diyakini tidak akan menghilang setelah kematian dan akan menemukan ganjaran atau balasan sesuai dengan apa yang kita lakukan semasa hidup, meskipun dengan gambaran yang sangat badaniah. Beberapa orang menganggapnya serius. Para firaun harus mengerahkan ribuan orang untuk membuatkan makam dan mempersiapkan kematiannya agar di kehidupan setelah kematian nanti ia tidak kerepotan. Cerita lain berasal dari Kaisar Shi Huang Ti yang harus membuat pasukan terracotta supaya dia merasa aman setelah kematian. Semua itu merupakan manifestasi keabadian literal yang meyakini bahwa setelah kematian badaniah, jiwa kita masih ada di suatu tempat sana.

Keabadian simbolis berkaitan dengan kuasa dan pengaruh kita di dunia. Barangkali ungkapan Pram bahwa ‘menulis adalah bekerja untuk keabadian’ adalah manifestasi dari keabadian simbolis. Dengan meninggalkan pengaruh (legacy) ita dapat memastikan bahwa kita tetap ‘ada’ dan hadir di dunia yang harus dimaknai ini.

Pada akhirnya, kita hanya bisa menipu kematian lewat upaya-upaya simbolis. Meskipun demikian, bagi Anda yang pernah menonton film Jhonny Depp yang berjudul ‘Transendence’ Anda dapat memiliki gambaran bagaimana manusia di masa depan akan sanggup mengalahkan kematian dengan hanya mengupload nyawa kita. Bukankah nyawa kita hanya sebatas impuls-impuls listrik dalam jaringan korteks saraf-saraf kita? Sama seperti konsep data di ilmu computer.

Ah, saya jadi bodoh begini.

scriptamanent

 

 

Advertisements

Multiverse

Sore ini, ketika tengah bersantai di rumah setelah seharian tidak berbuat apa-apa yang tergolong produktif, saya dipertemukan dengan (lagi-lagi) dua documenter secara berurutan di National Geographic. Documenter pertama berjudul ‘The Known Universe’, sebuah suguhan yang luar biasa briliannya karena menjelaskan dan memaparkan mengenai batasan terluar (final frontier) dari semesta (universe) kita. Hal yang membuat saya ternganga kagum adalah bagaimana pengarah acara tersebut sanggup melesakan konsep seaneh dan semutakhir itu ke dalam tayagan documenter selama satu jam saja. selama pengalaman menyaksikan tayangan itu saya dibawa dalam perjalanan melintasi Sabuk Kuiper hingga Awan Oort, batasan terluar tata surya kita juga dibawa menyelam 4 kilometer dalamnya ke dasar laut untuk menemukan berbagai keanehan di batasan ilmu pengetahuan kita. ‘The Known Universe’ juga menyuguhkan pertanyaan paling fundamental yang masih tidak mampu terjawab mengenai ‘dari mana semua ini berasal’ dan saya diperkenalkan dengan konsep super aneh mengenai “Brane” dan konklusi sementara bahwa yang selama ini dikenal sebagai universe tak pelak adalah multiverse. Ada banyak jagat-jagat lain di luar sana dengan dinamika dan tunduk di bawah hukum alam dan regulasi yang belum mampu dicapai.

Tayangan tersebut jelas menimbulkan ketakutan bagi mereka yang menontonnya. Ada kesadaran bahwa pemahaman yang kita punya kalah telak dalam berpacu dengan pengembangan aam semesta. Pengetahuan yang kita dapatkan dan batasan yang kita lebarkan tidak sanggup menandingi alam semesta yang terus berkembang. Acara tersebut bisa saja memvonis bahwa batasan dalam diri manusia adalah nyata adanya, ada hal-hal yang tampaknya tidak akan pernah diketahui oleh manusia bagaimanapun manusia itu berusaha. Namun demikian, yang menjadi inti permasalahan bukan lah apa yang dapat manusia ketahui secara an sich melainkan naluri manusia untuk teru mengembangkan batas-batas pengetahuan yang ia miliki. Kita, dalam upaya melakukan petualangan intelektual, got nothing to lose. Dunia ini, lebih aneh dan menakjubkan bahkan dari apa yang sanggup dipikirkan oleh manusia. Menyaksikan documenter tersebut membuat saya sedikit lega bahwa dalam membangun pemahaman terhadap dunia ini, imajinasi dan fiksi justru menjadi hal yang akhirnya menjadi jalur utamanya. Para penegak kebenaran perlu mulai mempertimbangkan hal tersebut jika mereka tidak mau bangkrut dalam upayanya membangun peradaban.

Kesan tersebut mengantarkan saya pada documenter yang kedua: ‘Year Million’. Seakan tidak puas menjungkirbalik segala tatanan kemapanan pemikiran yang saya punya dengan ‘The Known Universe’, NatGeo menghadirkan fenomena tingkat lanjut yang disebut metaverse. Metaverse adalah jagat buatan yang dibangun di atas fondasi digital. Sebuah virtual reality, jagat buatan. Dalam documenter tersebut, digambarkan bagaimana manusia telah mencapai sebuah tingkatan baru dalam menghadapi dunianya. Well, Baudrillard mungkin punya ide soal ‘simulacra’ untuk menjelaskan ini dan bila ia menonton documenter tersebut, saya yakin ia akan terbahak puas karena ia dengan tepat menggambarkannya. Sementara saya dan mungkin beberapa dari Anda masih dengan gelegapan memahami realitas baik secara ontologis maupun aksiologis, beberapa sudah mereproduksi dan merubahnya sedemikian rupa. Tidak kah mereka, para programmer itu bisa kita katakan sebagai marxis tulen karena mengamalkan seruan Marx dalam Tesis Feuerbachnya yang paling termahsyur: ‘yang diperlukan adalah mengubahnya! (dunia ini –penulis).

Menonton dua documenter tersebut dan menuliskannya kembali membuat saya bisa merefleksikan berbagai hal yang tengah terjadi dan menemukan kembali posisi manusia dalam jagat ini. boleh saya katakan, efek dua tayangan dan proses menulis postingan ini sungguh dahsyat bagi saya pribadi. Saya tidak hendak merekomendasikan untuk melakukan hal serupa karena pasti kita akan mengalami perbedaan yang berbeda.

Salah satu bagian favorit saya adalah narasi pembuka pada ‘Year Million’ bahwa kita sebagai manusia adalah Homo Narrans (Foerst, 2002). Semenjak ditemukannya api sebagai sarana berkumpul untuk menghangatkan diri hingga adanya televisi di ruang keluarga kita masing-masing, manusia akan selalu lari ke dalam narasi-narasi dan kisah-kisah imajinasi. Kita, manusia yang dulu dan yang saat ini, melakukannya setelah bekerja untuk mendapatkan pengalaman eskapis dalam virtualitas yang dibangun dan disajikan baik oleh cerita dari mulut ke mulut maupun sinema elektronik dan layar kaca. Eskapisme tersebut merupakan naluri yang tidak dapat kita tahan karena, mungkin, human just doesn’t belong out there and we’re just not supposed to be anywhere else but here.

Maka kemudian, manusia membangun berbagai fasilitas untuk menciptakan dunia sebagai apa yang dia inginkan. Ini lah perbedaan mendasar manusia dengan makhluk lainnya bahwa menurut Marx (Ramly, 2002) ketika melakukan sesuatu, manusia akan mendesainnya terlebih dahulu. Manusia tidak bergerak semata-mata karena insting belaka melainkan ia menyadari posisinya, memahami lingkungan sekitarnya, mencerna, mengamati, mengukur, dan setelah proses panjang tersebut diakuisis hanya dalam hitungan milidetik oleh otak kita yang amat luar biasa ini, manusia baru mengeksekusinya, mengintervensi dunia dan merekayasanya sesuai dengan apa yang dia inginkan. Demi Neptunus, kenapa saya belajar di fakultas teknik namun baru menyadarinya sekarang?!

Perkembangan dunia virtual dan artificial itu bukan buatan menakjubkannya. Semenjak deep blue mengalahkan Garry Kasparov tahun 1997 lalu, kemudian libratus menekuk 4 pemain poke di Philadelpia dan yang terbaru, artificial intelligence OpenAInya Elon Musk mengungguli para pemain pro Dota 2, kekhawatiran adanya apokalipsme manusia semakin terasa nyata. Kemampuan manusia untuk berpikir semakin dipecundangi terlebih ketika mesin-mesin ini mulai mengembangkan kemampuan belajar, sesuatu yang diperkirakan tidak akan pernah terjadi. bagi saya ini merupakan ancaman sekaligus peringatan akan hilangnya kemanusiaan di bawah tirani peralatan.

Saat ini, mesin-mesin tersebut bekerja keras untuk mereproduksi realitas sesuai keinginan manusia. Jika ada yang pernah menyaksikan Wall-E dan melihat kehidupan manusia kala itu, barangkali era itu akan tiba lebih cepat dan tidak perlu berada di sebuah pesawat antariksa namun di ruang keluarga masing-masing. Perekayasaan realitas akan mencapai tahap dimana bukan lagi manusia yang mengintervensi mesin, melainkan mesin yang mengintervensi manusia dengan merekayasa berbagai rangsangan dan hormone yang meregulasi seluruh sensasi, emosi, apresiasi, dan imajinasi manusia. Akan ada saat dimana imajinasi akan mengalahkan imajinasi. Kita boleh, bahkan harus, skeptic mengenai hal tersebut. Saya sendiri tidak dapat membayangkan suatu saat nanti dunia teater, sastra, seni rupa, hingga panggung blues berisi bajingan-bajingan buatan atau suatu hari nanti, kekuatan pikiran bisa mereplikasi transendetalitas dan melampauinya hingga tuhan dapat dihadirkan atau manusia menjadi tuhan sekalian.

Barangkali kita pernah punya pengalaman dengan The Sims. Suatu platform game yang memungkinkan kita bermain selayaknya kehidupan sehari-hari kita (?). Bagi saya, fenomena the sims cukup menggelitik karena buat apa memainkan sebuah game yang temanya adalah kehidupan sehari-hari. Tampak konyol, tentu saja. Meskipun kemudian saya sempat kecanduan dan game ini meledak di pasaran. Agaknya, orang-orang menyukai ide untuk bermain dengan tema keseharian. Indikasi tersebut menunjukan bagaimana ketidakpuasan terhadap kehidupan sehari-hari mulai merasuk dan para manusia lari ke dunia virtual sebagai pengamalan eskapismenya.

Fenomena kedua yang dapat diamati adalah platform ‘Second Life’. Platform ini kurang begitu populer di Indonesia karena saya jarang atau bahkan tidak pernah menemukan ada penggunanya. Platform ‘Second Life’ dikembangkan oleh Philip Rosendale dan alih-alih menyuguhkan permainan, ‘Second Life’ menyajikan kehidupan nyata yang diletakan di dalam kehidupan virtual. Jika Anda menganggapnya sebagai fenomena virtual biasa Anda perlu membaca kajian etnografi Tom Boellstroff (2008) berjudul ‘Coming of Age in Second Life’ yang dilakukannya di jagat ‘Second Life’. Dunia tersebut bukan lagi menjadi sekedar dunia virtual karena, lewat pemaparan etnografis, komunitas manusia didalamnya telah membentuk suatu jaring-jaring kebudayaan and yes, it’s a big deal. Perkembangan teknologi kini memungkinkan Linden Lab, sebagai korporasi yang mengarsiteki ‘Second Life’ mengembangkan Sarsan, sebuah mesin yang akan memproduksi dunia ‘Second Life’ menjadi paripurna 3 dimensi dan kita tidak perlu khawatir kelilipan saat naik motor lagi.

Akan ada romantisme yang tak terhitung jumlahnya akan menghilang, hal tersebut merupakan keniscayaan dan hanya masalah waktu saja hingga terjadi. pertanyaannya adalah bagaimana kita perlu menyikapinya? Saya gentar, tentu saja. Bagi teman-teman yang rajin mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan pada batas-batasnya kita akan menemukan kekhawatiran dan ketakutan sangat besar. Beruntungnya saya masih bisa berada di bayang-bayang batas tersebut dan masih dapat mengintipnya dan tertarik untuk dapat mengikutinya.

Tidak ada pesan khusus yang ingin saya sampaikan. Saya bukan seorang visioner apalagi seorang futuris yang memiliki kehebata untuk memikirikan bagaimana dunia kita esok hari. Saya cukup puas untuk hanya dapat mengetahui dan menuliskannya kembali karena dengan mengetahui hal-hal tersebut, saya mampu menemukan beberapa pemahaman terhadap pertanyaan yang lama sekaligus mendapatkan pertanyaan baru yang lebih menantang. Bagi saya, bisa berada di sini dan menjalani apa yang saya miliki adalah kebahagiaan tersendiri. Perkara nanti biar lah menjadi sesuatu yang tidak perlu diresahkan, mari sama-sama terkejut dan terpukau dengan apa yang disajikan besok. Ah, karena hal itu lah saya mencintai kamu, lagi dan lagi.

scriptammanent

 

Sinkretis

Ada beberapa topik yang saya anggap sensitif untuk secara terang-terangan saya tuliskan di media sosial lain. Blog ini saya pikir menjadi tempat yang aman untuk saya menuliskannya dan menuangkannya untuk setidaknya dapat diakses oleh mereka yang benar-benar mengenali saya. Ah, sebelum akhirnya saya terlarut dan berlarut dalam pembahasan ini, baik saya langsung masuk ke topiknya.

Sepagian hari ini, saya kembali membuka bab-bab mengenai kosmologi tempatan, suatu terminology yang mendadak muncul begitu saja. kosmologi tempatan, saya mendefinisikannya, sebagai bagaimana suatu komunitas yang dibatasi oleh kondisi geografis dan mengalami pengalaman ruang tertentu mendeskripsikan alam di sekitar mereka. Saya meyakini, bahwa pemahaman mengenai alam semesta adalah pengalaman yang pasti ada dalam setiap pikiran manusia sesuai dengan apa yang dikatakan Descartes bahwa proses berpikir adalah ketegangan antara Res Cogitans melawan Res Extensa, antara pemikiran diri melawan dunia luar (extensa). Maka demikian, setiap kali manusia berpikir, mereka secara inheren memasukan unsur alam ke dalam pemikiran mereka.

Maka, tampaknya premis bahwa ‘setiap manusia, dalam proses berpikirnya akan selalu melibatkan alam sekitarnya’ dapat diterima sesuai dengan madzhab rasionalisme descartesian. Kesahihan premis tersebut akan menemani kita untuk masuk kepada konsep yang lebih besar. Setiap proses berpikir manusia akan menghasilkan sesuatu yang dengan mudah bisa kita sebut sebagai kebudayaan. Dengan meyakini bahwa proses berpikir tersebut dipengaruhi kondisi alamnya maka kita bisa mengetahui bahwa setiap kebudayaan akan dipengaruhi oleh kondisi alamnya. Ini merupakan haluan utama madzhab determinisme yang meyakini bahwa kondisi alam akan mempengaruhi budaya tempatan. Sepakat? Boleh, mari kita lanjutkan.

Sekarang tengoklah Indonesia. Negara ini, selain memiliki biodiversitas yang begitu besar (terbesar nomor dua setelah Brazil), juga memiliki geodiversitas yang luar biasa. kita berada di titik temu tiga lempeng: Eurasia, Pasifik, dan Australia. Pertemuan tiga lempeng itu mengakibatkan aktivitas tektonik dan vulkanik begitu hiperaktif. Ditambah dengan kondisi iklim yang berada di zona tropis menjadikan hujan dan panas sangat intens dan mendorong berbagai proses dan dinamika hidrosfer. Singkatnya: kita memiliki keunikan alam yang begitu kaya. Kekayaan tersebut kemudian bertemu dengan diaspora manusia yang datang ke Nusantara dan berhadapan dengan kondisi alam yang begitu berbeda-beda itu. Hasilnya, sesuai dengan pendapat para deterministic adalah kekayaan budaya yang juga begitu besarnya.

Maka, hari ini saya meneropong secara singkat beberapa pandangan kosmos yang dimiliki berbagai komunitas di Indonesia. Dua yang menarik saya adalah kosmologi parmalim dan kosmologi marind anim. Saya tidak mau banyak membahas kosmologi keduanya, Anda bisa mencari sumber-sumbernya sendiri. Parmalim sering saya buka tutup selama beberapa bulan ini. saya tertarik membacanya setelah membaca Supernova: ‘partikel’. Marind anim sudah pernah saya tulis secara singkat untuk tugas hukum dan kelembagaan. Salah seorang sahabat saya, Nuzuli, juga tengah berada disana. Sesuatu yang diam-diam saya irikan seberat-beratnya karena begitu menariknya kosmologi Marind ini dan bagaimana mereka bergelut dengannya untuk menghadapi konflik-konflik tenurial di sekitar mereka. Saya terpaksa gigit jari setiap mengetahui ceritanya bersinggungan dengan orang-orang Marind.

Kekayaan kosmologi tidak terbatas pada kedua kepercayaan tersebut. Teman-teman Jawa, Kaharingan, Wiwitan, dan berbagai komunitas tempatan lain, akan memiliki persepsi dan keyakinan yang berbeda dan akan berbuah tradisi dan ritual-ritual yang berbeda pula. Tak hanya komunitas tempatan. Agama-agama besar Indonesia juga memiliki kosmologi yang juga akan berbeda-beda. Kosmologi Islam dengan Katolik berbeda, Buddha dengan Hindu juga berbeda.

Namun demikian, segalanya akan berujung kepada hal yang sama: upaya manusia dalam menemukan serta mengerti alam sekitarnya. Ini adalah insting primodial yang melekat semenjak nenek moyang kita menjadi bipedal. Apabila kita, saat ini dengan senjata sains dan semangat pencerahan yang didasari oleh kekecawaan kita pada alam semesta mencoba memahaminya sebagai pemenuhan rasa ingin tahu dan mencoba menaklukannya, nenek moyang kita melakukannya untuk hal yang berbeda. Nenek moyang kita memahami alam untuk meredakan rasa takut mereka terhadap segala fenomena alam yang ada. Mereka yang melakukan itu adalah para ilmuwan-ilmuwan pertama. Metode mereka adalah melalui disonansi kognitif yang dilanjutkan dengan mitologi ketika dengan segala cara mereka mencoba memahami fenomena alam tersebut dengan apa yang mereka lihat di sekitar mereka: pohon, matahari, gunung, dan sesama mereka sendiri. Hasilnya adalah kepercayaan (belief) dan kepercayaan itu diturunkan dari generasi ke genersi begitu kuatnya hingga tertanam dalam gen kita. Maka bisa lah kita mendaku sebagai orang beragama.

Dan masa kini, ada yang keberatan dikatakan bahwa agama mereka adalah warisan. Boleh saja sih, atas nama postmodernitas, pernyataan mereka adalah kebenaran yang hakiki.

Itu juga menjadi salah satu perbedaan generasi sebelum dan sesudah pencerahan. Jaman sebelum pencerahan, setiap disonansi kognitif atau penyelidikan berbuah kepercayaan (terutama pada masa dark ages) sedangkan setelah pencerahan, setiap hasil penyelidikan menjadi sebuah –meminjam istilah Eco, subject of inquiry. Kelahiran sebuah pemahaman justru menjadi keterbukaan baru terhadap penyangkalan sesuai dengan asas falsifikasi popperian. (hal tersebut mungkin menjelaskan kenapa seluruh agama besar muncul sebelum zaman pencerahan)

Kepercayaan tersebut, maka, sebagai hasil dari proses mitologi dan rasionalisasi kognitif dalam kasus Indonesia sangat banyak adanya. Tidak bisa tidak, setiap set of belief saling bersinggungan dan berkaitan, memperkaya yang satu atau menggerus yang lain. Apapun yang terjadi, intinya, mereka semua tercampur dan berbaur. Maaf saya mengatakannya, namun saya sudah menyinggung hal ini sebagai disclaimer, bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar murni di dunia ini dan saya tidak pernah menyukai klaim-klaim kemurnian atau sesuatu yang dari sononya meskipun saya sangat menghargai dan mendukung segala upaya menjadikan suatu ajaran tetap dalam kemurniannya.

Dan persinggungan-persinggungan itu akan membawa kita pada suatu narasi baru: sinkretisme.

Hal itu yang menyeruak di pikiran saya pagi tadi. Saya pernah mendapatkan pemahaman bahwa sinkretisme adalah sesuatu yang berbahaya. Mencampuradukkan dua kepercayaan adalah sesuatu yang terlarang, sangat terlarang bahkan. Namun kemudian saya mundur sedikit dan bertanya: mengapa? Mengapa sikretisme dianggap berbahaya semisal kemudian dengan mencampuradukkan berbagai ajaran kita mendapatkan suatu formula untuk mendekati Sang Maha Kuasa itu lebih lengkap; kita memperkaya diri kita dan ibadah kita dengannya. Apa yang begitu menakutkan dari menerima dua hal bertentangan sebagai kebenaran dalam konteksnya masing-masing dan dengannya kita justru bisa mendapatkan gambaran yang lebih kontekstual?

Pertanyaan saya, ketika saya tanyakan ke diri saya sendiri terdengar bodoh dan saya pun sempat takut karena saya tidak mendapatkan jawaban yang memadai. Apakah itu berarti pemahaman beragama saya sebegitu rendahnya atau saya kehilangan daya kreasi pemikiran saya sedemikian rupa sehingga saya menggugat akal sehat, sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan kembali. Bila saya kembangkan pertanyaan saya pada level ekstrem, ah, sudah lah, saya bisa menyulut hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, saya pribadi merasa tidak masalah menerima segala yang termaktub dalam kredo katholik maupun syahadat di agama islam. Bahwa, saya beri contoh dua agama ini karena begitu seringnya mereka bertikai karena masalah teologis, menerima syahadat katolik dan islam tidak mengurangi pengalaman spiritualitas saya terhadap Tuhan hanya mengganggu identitas saya.

Ah ya benar, identitas. Kita begitu menyukai mengkotak-kotakkan dan menyekat-nyekat diri sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Saya bisa mafhum tentu saja, di tengah zaman dengan kegilaan ini kita sangat membutuhkan sesuatu yang bisa menjawab pertanyaan ‘siapa saya?’ setidaknya agar kita tidak gila.

Ini masuk ranah pribadi, jadi mungkin saya berhenti disini dulu. Saya pribadi berpendapat bahwa agama dan identitas harus mulai dikurangi intensitasnya. Ini sekuler dan jelas liberal, sesuatu yang sangat peyoratif saat ini.

Mengapa ini penting? Karena berkaitan dengan kerusakan alam, ada satu kosmologi arus utama yang mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk menguasai alamnya dan ada beberapa brengsek yang menanamkannya secara serampangan dan membabi buta menghancurkan alam.

scriptammanent  

 

 

 

conundrum

Manusia dilahirkan dengan kebingungan di paru-paru sebelah kanannya dan paradoks di sebelah kirinya. Setiap kali mereka bernafas, kebingungan dan paradoks itu akan menyebar ke seluruh tubuhnya, pikirannya, jiwanya, dan menuntun mereka ke dalam labirin pertanyaan tak berujung. Di dalam labirin, yang memang tak memiliki pintu keluar itu manusia terjebak selamanya disana lantas mati dan membusuk.

Metafora demikian tiba-tiba menyeruak sembari saya mengerjakan sebuah tulisan kajian Undang-undang Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospasial dan kaitannya terhadap peta gua. Ini menjadi salah satu tulisan dengan kesulitan yang tinggi dan progres yang saya buat termasuk lambat sehingga acapkali saya merasa jengkel karenanya. Tiga hari tanpa henti saya terus membongkar pasal demi pasal, menghubungkan temuan dan pernyataan ilmiah dengan peraturan dan kebijakan untuk membuat suatu analisis yang kokoh. Membosankan, tentu saja, namun krusial untuk dilakukan.

Di tengah proses tersebut itu lah saya kemudian menyadari soal keterbatasan yang saya, para pembaca, dan 7 milyar kepala lainnya. Rasa ingin tahu dan wawasan manusia tidak terbatas, namun kapasitasnya jelas terbatas. Jika manusia dihuku karena memakan buah terlarang di firdaus, saya pikir ini adalah salah satu hukuman yang paling menyiksa. Anda terus-menerus bertanya, menggugat, tidak puas, namun tubuh dan pikiran Anda sengaja didesain untuk hanya dapat menyimpan sedikit sekali informasi. Pada suatu titik di dalam petualangan Anda dalam bertanya Anda akan terbentur batasan yang begitu tegas dan nyata dan di luar batas itu, kegelapan dan kehampaan yang hanya ada. Putus asa, itu sudah yang akan Anda rasakan.

Dan pada titik ini lah, kualitas manusia akan dibedakan. Antara mereka yang kemudian berhenti untuk berjalan tertunduk kembali atau memaksa diri melewati batasan yang ada. Saya diajarkan dan dibesarkan di lingkungan yang melecehkan batasan dan terus menggoda diri sendiri untuk melaju walau tertatih walau terseok-seok. Namun jika Anda berpikir saya menjadi pribadi yang ngoyo dan keras kepala untuk melewati batasan dan terus-menerus mengalahkan diri sendiri dan pencapaian orang lain, Anda salah besar.

Saya sudah dan sedang belajar untuk mencukupi diri sendiri dengan segala yang saya punya. Tentu lah ini terdengar klise, namun menjalaninya tidak semudah itu. Saya harus terus mengipasi diri dengan pseudo-motivasi dan terus-menerus menutup mata dan telinga untuk tidak peduli dengan pencapaian-pencapaian yang orang lain lakukan di sekitar saya. Pada suatu waktu, saya tentu saja sedikit khawatir dengan cara ini karena sewaktu-waktu saya bisa kehilangan empati dan menjadi nihilis garis keras.

Hingga saya mencoba berkelit dan bersahabat dengan segala batasan yang ada. Bahwa batasan ada bukan lah untuk dilewati melainkan dilampaui. Pelampauan, ah, saya suka dengan kata itu karena ia nirmana. Ia tidak memiliki nuansa fisik yang ajeg melainkan gagasan abstrak dan setiap nodes darinya adalah gagasan dan berada dalam alam pikiran atau pemikiran. Dengan melampaui, maka batasan yang ada berubah dimensi dan makna sama sekali, ia tidak lagi hadir untuk berbenturan dengan kemampuan, melainkan menjadi pijakan. Ia tidak lagi mengatur dan mengarahkan pergerakan melainkan terlibat didalamnya. Dalam kondisi itu tentu saja tidak ada lagi saling mengalahkan dan tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya.

Sebab saya mulai merasa lelah dengan semua upaya untuk membangun pemikiran bahwa saya lebih baik dari yang lain. Entah, saya hingga kini belum mendapat logika dan apa yang mendasari pemikiran bahwa “saya lebih baik dari orang lain”. Beberapa, mendaku agama, yang lain ilmu, sementara ada yang mendasarkannya pada kemampuan praktis. Namun bagi mereka yang pergi melampauinya, segalanya hanyalah kefanaan belaka.

Ah, beruntungnya saya tumbuh dan dipupuki semangat ke-Gonzaga-an dan kekolesean, bahwa nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, dan kebebasan yang bertanggungjawab sangat kontekstual dengan segala keruwetan yang tengah saya hadapi ini. nilai-nilai tersebut membawa penghayatan akan kebersamaan, bukan keinginan kompetisi dan saling mengalahkan dan membawa kepada ketenangan, sesuatu yang dimiliki oleh setiap manusia di dalam dirinya namun tak henti manusia itu mencarinya hingga lupa kalo ia sebenarnya sudah memilikinya.

Manusia memang aneh.

scriptammanent

 

Proxy

Izinkan saya sedikit menyela untuk menceritakan emosi saya hari ini. Pagi ini saya sedih betul dan sebagiannya marah ketika mengakses beberapa kanal berita seperti siaran televisi dan berita di harian. Apa pasal?

Perkara pertama adalah kisah para Rohingya. Terjadi bentrokan bersenjata antara para Rohingya dengan militer dan disebutkan bahwa 100 orang tewas karenanya. Ketika membaca istilah ‘bentrok bersenjata’ dan terjadi antar sipil dan militer maka kesan pertama yang saya bayangkan adalah justru pembantaian. Senjata tentu lah hanya bisa digunakan secara mematikan oleh satu pihak yang notabenennya dibesarkan bersama senjata itu dan kita tahu pihak yang mana. Clash antar sipil melawan militer adalah salah satu hal yang paling saya benci. Alasannya sudah jelas betul dan tidak perlu saya tuliskan lebih jauh lagi disini. Tidak di Papua, Palestina, Venezuela, atau Myanmar, semua bentrokan sipil dengan militer tersebut sungguh menjijikan.

Khusus saat ini di Rohingya, terjadi arus besar-besaran warga Rohingya di kamp pengungsi Kutupalong mencoba untuk menyebrang ke Bangladesh melewati perbatasan Ghumdum. Beberapa ribu pengungsi mencoba melintas menuju Bangladesh karena pertikaian antara sipil dengan militer terjadi di Arakan. Ratusan Rohingya menyebrang melewati Sungai Naf untuk kemudian tertangkap oleh otoritas Bangladesh dan dipaksapulangkan kembali ke Myanmar.

Saya mencoba berpikir semisal saya berada di posisi mereka. Terusir, berada di daerah rawa-rawa selama berminggu-minggu, disiksa oleh krisis identitas, dan kini ditolak dimanapun adalah salah satu penderitaan eksistensial mendasar. Hidup di dataran rendah rawa-rawa menimbulkan siksaan fisik tersendiri. Sanitasi tidak terjaga, makanan sulit tersedia, kondisi kamp yang tidak memadai membuat secara fisiologis, kebutuhan mendasar para pengungsi tersebut tidak terjaga. Hal tersebut diperparah dengan krisis identitas. Saya pernah sedikit sekali mengalaminya dan bisa saya ceritakan hal tersebut memberikan penderitaan dan kegelisahan yang tidak sedikit. Tidak ada yang lebih menyusahkan pikiran kecuali menyadari bahwa segala nasib buruk yang menimpa Anda semata-mata disebabkan oleh faktisitas Anda, sesuatu yang tidak berada dalam zona kebebasan Anda sebagai manusia untuk memilih.

Rohingya memberi pelajaran bahwa kemanusiaan tampaknya semakin tergerus saja hari demi hari ini. semakin merepotkan bahwa kemudian solidaritas atau simpati yang kita tunjukkan justru semakin kental nuansa politisnya. Bagi saya persetan itu semua. Kemanusiaan berkaitan dengan manusia yang bertanggungjawab dan merupakan salah satu nilai tertinggi yang coba saya pegang dan konstruksi-dekonstruksi-rekonstruksi dari hari ke hari. Dalam praktiknya, segala hal yang berkaitan dengan apa yang kita lakukan berpangkal dan akan berujung pada motif-motif politis yang tidak tabu dan tidak perlu malu untuk kita akui. Semisal saya pernah terganggu dengan politisasi simpati seperti yang pernah saya post saat konflik Palestina 2014 kemarin, kini saya memilih tidak ambil pusing.

Perkara kedua yang cukup mengganggu adalah narasi kelompok Orang Rimba Ngilo yang diceritakan Kompas berhasil beternak kambing. Terlihat sepele namun bagi saya, keberhasilan Ngilo beternak kambing menjadi isyarat bagaimana suatu pola kehidupan masyarakat begeser secara besar-besaran. Ngilo merepresentasikan apa yang disebut George Aditjodro sebagai ‘korban-korban pembangunan’. Mereka yang menjadi korban dari pembangunan. Pembangunan jalan trans propinsi dan kini desakkan perkebunan karet dan kelapa sawit menjadikan pola hidup masyarakat berubah dari yang tadinya pemburu-pengumpul menjadi peramu. Sesuatu yang dalam konteks masyarakat merupakan pergeseran yang sangat besar karena sejarah peradaban menunjukan bagaiamna pergeseran tersebut menjadi salah satu dasar dari perubahan struktur dan budaya masyarakat sebagai turunannya.

Perubahan adalah keniscayaan yang tidak terelakkan. Tidak ada yang sanggup menghentikan lajunya. Saya sendiri masih menyimpan kekaguman yang sengat besar bagi mereka yang berdiri di dalam kepercayaan bahwa mereka masih sanggup menjaga apa yang telah mereka warisi sebelumnya di hadapan mesin besar peradaban seperti globalisasi dan ekspansi ekonomi. Kekaguman saya muncul karena saya sadar saya tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk melawan arus utama zaman. Saya tidak dapat berbuat banyak saat ini di tengah ketidakmampuan saya sebagai seorang insan. Akan tetapi biarlah tulisan saya mengenai kejengkelan saya pagi ini bisa menjadi perwakilan (proxy) yang membawa pesan kepada sesiapapun yang membaca ini bahwa saya masih peduli. Saya masih memiiki empati dan tidak segan menunjukannya lewat cara-cara yang saya sukai.

Saya berharap semua yang tergilas oleh kemajuan dan mereka yang dikorbankan untuk kebahagiaan segelintir manusia tetap dikuatkan dan ya, saya bersama mereka. Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.

scriptamanent

Common Sense

Apa yang tengah kini saya minati adalah adalah kajian bagaimana kondisi masyarakat atau orang-orang kini semakin menuju polah-polah ketidakilmiahan. Kebenaran semakin digandrungi dan ilmu pengetahuan menjadi selubung dari segala klaim-klaim kebenaran tersebut. Dalam masa ini, kebenaran semakin signifikan dan semakin berarti serta diminati karena darinya, para aktor, manusia-manusia akan mendapatkan kekuasaan untuk melakukan pengaturan terhadap orang lain. Sesuatu yang tentu saja sangat vital karena kita tengah dihadapkan pada kultur masa, kultur populis dimana mereka yang memiliki masa terbesar adalah mereka yang akan mendapatkan kebebasan untuk melakukan kepengaturan sesuai apa yang mereka inginkan. Demokrasi melindunginya dan kita melindungi demokrasi karenanya.

Sayagnya, kebenaran yang semakin digandrungi itu tidak diiringi oleh kibjaksanaan dan yang paling parah adalah tidak dicapai melalui keilimahan. Keilmiahan dan kebenaran adalah sesuatu yang terkait dengan sangat erat. Lewat metode ilmiah kita akan mencapai kebenaran terhadap sesuatu. Begitu lah kira-kira adagium warisan pencerahan yang hingga kini masih teguh dipegang oleh manusia dimanapun jua. Meskipun demikian, adagium tersebut pernah pada kesempatan-kesempatan tertentu dicurigai. Keilmiahan ternyata terkadang tidak membawa kita kepada kebenaran. Alih-alih membawa kita kepada kebenaran, ia membawa kita kepada keterasingan, keterputusan, dan kekecewaan terhadap alam kita.

Maka kemudian, disepakati lah bahwa ada sumber-sumber pengetahuan non ilmiah yang tetap mampu membawa kita kepada kebenaran. Beberapa sumber-sumber tersebut antara lain, intuisi, pendapat ahli, dan yang akan menjadi bahasan tulisan kali ini adalah common sense. Intuisi dianggap Nietzsche sebagai sumber kebenaran primer, saya akan membahas ini nanti. Pendapat ahli sudah pernah saya singgung sedikit di postingan sebelum ini.

Common Sense

Menjelaskan common sense mudah-mudah sulit. Padanan katanya di Bahasa Indonesia, sejauh yang saya baca, adalah akal sehat. Untuk mudahnya, padanan kata tersebut bisa kita terima terlebih dahulu namun saya rasa perlu mengelaborasi sedikit lebih lanjut. Hemat saya, common sense, sebagai sumber pengetahuan ilmiah adalah suatu fakta yang mengandung kebenaran tanpa perlu diverifikasi atau dilakukan pengujian ilmiah terhadapnya. Dengan kata lain, kebenaran yang terkandung di dalam common sense dapat diterima dan dipergunakan tanpa metode ilmiah. Dari mana hal tersebut berasal? Hal tersebut berasal dari ke’umum’an (commonality) yang terkandung dalam suatu fakta common sense. Ia begitu umum sehingga semua orang sebagai pengamat tanpa mempertimbangkan madzhab, keyakinan, dan cara berpikir dapat menerimanya atau merasakannya (sense).

Common sense kini berada dalam posisi yang unik. Sebagai suatu sumber non-ilmiah ia seharusnya tidak diletakkan di dalam kajian ilmiah. Common sense, misalnya dapat lebih banyak bersumber dari bahan-bahan jurnalistik dibanding tulisan-tulisan ilmiah. Apa yang terjadi kemudian adalah banyak orang yang menyebrangkan common sense ini dari ranah non-ilmiah menjadi ranah ilmiah. Akibatnya adalah absurditas fenomena dan berdampak pada kekuatan common sense dan orang yang menyalahgunakannya. Kita tahu bahwa ketika suatu fakta disertifikasi sebagai kebenaran oleh metode ilmiah ia akan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa dalam melakukan rekayasa. Ini lah yang kini tengah terjadi: bagaimana pengetahuan yang didapat oleh metode ilmiah dijadikan sebagai common sense dan common sense yang tidak didapkan dari metode ilmiah dianggap sebagai kebenaran yang berasal dari metode ilmiah.

Pernahkah Anda berpikir bahwa kebenaran dalam premis ‘semua benda terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil’ diperoleh melalui perjalanan pemikiran ribuan tahun dan tak sedikit pengorbanan ada di dalam upaya untuk memperoleh kebenaran dalam pernyataan tersebut. Contoh yang lain, pernahkah Anda merenung bahwa kebenaran ‘bumi mengelilingi matahari’ membawa konsekuensi pemberangusan dan penyiksaan pada beberapa orang hanya untuk mempertahankan kebenarannya. Bagi Anda yang paham sejarah sudah tentu Anda akan mafhum namun bagi yang tidak tentu perlu diberitahu bahwa hal-hal sepele yang Anda ambil tanpa perlu Anda pikirkan karena sudah begitu jelas (taken for granted) pernah menjadi pergunjingan dan harus bolak balik dibongkar pasang dan dicurigai keabsahannya.

Contoh-contoh tersebut adalah fenomena bagaimana hal-hal yang dulunya merupakan pengetahuan yang masih bisa dihajar dan dibongkar pasang merembes masuk ke jagat awam dan berubah bentuk menjadi common sense. Fakta-fakta yang dulu diperoleh melalui metode ilmiah yang begitu ketat kini dapat dinikmati oleh semua orang tanpa perlu memusingkan epistemenya, bagaimana cara mendapatkan fakta dan kebenaran di dalam fakta tersebut. Bagi saya, tentu lah itu suatu kemewahan tersendiri untuk mendapatkan common sense.

Saya sudah cukup banyak menuliskannya, sehingga izinkan saya menegaskannya dalam satu kalimat ini: segala macam revolusi pemikiran disebabkan oleh revolusi transmisi informasi. Teknologi informasi dan perkembangan internet sekali lagi, mohon maaf, harus saya letakkan sebagai faktor utama dalam mengkontekstualisasikan common sense.

Informasi sebagai kemasan fakta dan fenomena kini menjangkau seluruh insan cendikia tanpa pandang bulu. Siapapu, benar-benar siapapun dan dimana pun kini terkoneksi dan perlahan terkalibrasi dalam suatu muatan fakta yang sama dimana-mana dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Saking mudahnya terakses, kini segala sesuatu dianggap sebagai suatu informasi. Orang-orang keblinger. Tak Cuma hoax, terkadang fakta ilmiah juga digeser hanya menjadi informasi yang tidak punya nilai keilmiahan. Ia hanya didapuk sebagai desas-desus dan tidak dianggap memiliki muatan penting. Hal tersebut membuat penghargaan terhadap fakta ilmiah menjadi menghilang.

Hingga masa kini, ketika informasi menjadi begitu murahnya seluruh fakta ilmiah yang didapatkan dengan perjuangan dan kerja yang tidak sedikit dengan entengnya dibuat menjadi common sense juga sebaliknya. Common sense yang bersifat umum ekstrem (extremely common) kentara betul memiliki elemen overgeneralisasi. Hal tersebut pada dasarnya akan memunculkan banyak sekali bias yang berujung kepada error atau kesalahan. Sesuatu yang tentu saja harus dan pasti ada dalam suatu kegiatan ilmiah apapun itu bentuknya. Mengerikan melihat bagaimana suatu pengetahuan ilmiah yang masih dalam tahap postulat, hukum, atau bahkan hipotesis diangkat dengan sangat mudahnya melewati tahapan ‘teori’ untuk meloncat masuk ke dimensi common sense. Kita bisa melihat hasilnya: stereotype, stigma yang berujung kepada kegilaan masal (mass hysteria).

Itu lah yang kini tengah terjadi di era penuh kegilaan ini. silang sengkarut kebenaran menjadi, bagi saya, begitu memuakannya hingga melahirkan kekonyolan-kekonyolan yang sudah tidak lagi lucu dan menghibur. Common sense yang sebenarnya bebas nilai dan baik-baik saja itu berbuah fitnah dan saling benci ketika fakta-fakta manusia dianggap sebagai common sense. Suatu fenomena dapat dikemas menjadi kebohongan masal ketika ia dianggap sebagai common sense. Pada beberapa kesempatan ia tidak lagi menjadi sekedar idea melainkan menjadi praksis yang digunakan untuk saling bunuh. Memuakkan, melelahkan.

scriptamanent

Ahli

Tanggal 21 Agustus kemarin, di kolom Opini, harian Kompas menurunkan tulisan Surjani Wonorahardjo, dosen FMIPA Universitas Negeri Malang. Tulisan tersebut bertajuk ‘Akhir dari Keahlian’, sebuah judul yang cukup provokatif bagi saya yang menyukai tema-tema milestone sehingga setiap judul dengan kata-kata ‘akhir’ atau ‘awal’ membuat mata saya mampir sebentar untuk mendalami tulisannya. Begitu lah yang kemudian saya lakukan.

Tulisan tersebut menarik, sangat menarik bahkan. Surjani membahas buku Tom Nichols (2017, masih baru dan kini tengah saya buru di internet) berjudul The Death of Expertise. Dalam buku tersebut, Nichols mengangkat fenomena yang kini tengah terjadi di dunia sosial: kematian para ahli. Kita mengetahui para ahli adalah mereka yang memiliki kemampuan yang diakui oleh awam dan diuji oleh sesame ahli lainnya. Para ahli memiliki kekuasaan (powers) dan wewenang (authorities)  untuk menjustifikasi, memutuskan, dan merekayasa segala sesuatu yang berkaitan datau dibatasi oleh bidang keahlian mereka. Para ahli bekerja di bidang yang sangat spesifik dan terspesialisasi.

Tom Nichols memvonis kematian mereka. Menurutnya dari apa yang dituliskan oleh Surjani, fenomena akhir dari keahlian terasa dalam beberapa gejala dan fenomena berikut. Fenomena pertama adalah mencairnya batas-batas keahlian. Fenomena mencairnya batas keahlian tersebut bisa kita curigai sebagai buah dari komunikasi supercepat dan (lagi-lagi! LAGI-LAGI!) perkembangan teknologi informasi. Informasi, konsep, abstraksi, dan ide kini bisa diakses kapan saja oleh siapa saja. akses tersebut memberikan previlise berupa fasilitas untuk memproduksi pengetahuan baru bagi individu yang mengaksesnya atau (yang lebih berbahaya) mereproduksinya secara tidak bertanggungjawab.

Kemudahan akses dan kecepatan informasi (itu sebabnya terkadang berbahaya memiliki akses internet cepat) yang diakses membuat semua orang kini dapat menjadi ‘ahli’. Suatu ide dapat diproduksi dan direproduksi, dikemas, dan dibuang sebegitu mudahnya dengan produk-produk produksi masal yang berada di etalase indomaret atau alfamart. Pengetahuan, secara ontologis, kini tak ubahnya common sense. (ada bagian saya ingin menulis soal pergeseran mengenai pengetahuan (knowledge) ke common sense ini, cuma nanti lah).

Sementara kita tahu bahwa untuk menjadi baku, setidaknya sebuah pengetahuan perlu melalui proses uji dan proses sertifikasi. Proses uji, baik verifikasi maupun falsifikasi sudah tidak bisa kita harapkan kembali di tengah zaman serba cepat dan instan ini. Apa yang Husserl sebut sebagai bracketing akan dianggap sebagai kelambanan dan merupakan musuh zaman. Sertifikasi, saya maksudkan untuk melihat dari siapa pengetahuan itu diproduksi. Perkara subjektif ini sudah bukan hal yang tabu. Untuk mengetahui bagaimana suatu bangunan ide atau pengetahuan dipahami, siapa yang mengeluarkannya jelas harus diperhitungkan. Terlebih kita bicara dalam konteks ahli yang jelas menyasar kepada seseorang.

Proses sertifikasi juga tidakbia diharapkan lagi. Ada anekdot yang pernah diceritakan ayah saya tentang bagaimana temannya tahu-tahu bergelar doktor tanpa pernah diketahui melalui proses perkuliahan S3. Tengok juga orang-orang yang sekenananya memasang gelar tanpa pernah diketahui asal-usul dan produknya. Awal tahun kemarin juga terdapat kasus bagaimana suatu universitas negeri di bilangan Rawamangun digugat karena jumlah mahasiswa doktornya jumlahnya tidak sama dengan yang dimiliki pangkalan data pemerintah. Segala carut marut tersebut bisa memberikan sedikit gambaran bagaimana sertifikasi kini dilakukan sebagai bancakan. Sedikit banyak, saya paham seluk-beluk soal payahnya proses sertifikasi ini.

Demikian, pendapat para ahli kini bisa menjadi tak ubahnya angin kosong yang tidak mengandung unsur kebenaran yang memadai. Ini pun belom dielaborasi dengan memasukan elemen-elemen kepentingan ekonomi yang didapat dengan menukar modal budaya yang dimiliki para ahli tersebut menjadi modal ekonomi. Dengan kekuasaan yang dimiliki para ahli tersebut, jelas tidak sulit melakukannya. Kita banyak melihatnya di media-media sosial saat ini.

Fasisme Epistemologi & Epistemologi Fasisme

Fenomena berikutnya yang patut disoroti adalah kini, kecenderungan para ahli untuk menjadi fasis-fasis metodologi. Para ahli yang terbuai dengan suatu metodologi atau madzhab atau secara ontologi dengan fenomena yang mereka kaji akan menjadi tertutup dan tidak mau menerima metodologi dan madzhab dari keilmuan lain. Ini menjadi salah satu turunan dari apa yang secara anecdotal diekspresikan dengan “the truth is what I believe”. Padahal, sejauh saya pahami, keahlian didasarkan pada disiplin metode ilmiah yang ketat dan seringkali mengesampingkan perasaan atau keyakinan. Dalam wisuda Universitas Atma Jaya kemari, salah satu pesan yang disampaikan kepada para wisudawan-wisudawati adalah untuk selalu berpihak kepada kebenaran. Saya menginterpretasikannya lebih lanjut sebagai keikhlasan untuk mengorbankan hal-hal yang bersifat sentimentil demi mempertahakan kebenaran yang sifatnya mewakili alam sedekat-dekatnya dan signifikan untuk orang kebanyakan.

Surjani menuliskan bahwa kini para ahli sering terjebak dalam batas-batas keahliannya sehingga tidak mau melihat faktor lain yang juga memberikan peran kepada fenomena yang tengah ia dalami. Dalam kondisi demikian, para ahli akan menutup pemikiran dan pikirannya dari hal-hal yang tidak mau mereka cari tahu karena menganggap apa yang telah ada di dalam batas-batas bidang keahlian mereka sudah cukup mencakupi seluruh proses atau fenomena yang mereka dalami. Kedalaman pemahaman mereka justru semakin jalan mereka semakin gelap dan semakin mereka menggali, mereka semakin terperosok ke dalam lubang sempit bidang keahlian mereka.

Lewat proses demikian lahir lah fasis-fasis epistemologis. Saya sudah menyakiskan cukup banyak fasis-fasis ini beraksi di perguruan tinggi dengan mematikan ide-ide mahasiswa yang dapat memberikan terobosan baru dalam suatu bidang keahlian dengan menggunakan paradigma dan metodologi yang berbeda. Para fasis ini mengunci dimensi ontologi dan epsitemologi dan tidak membiarkan ide-ide baru tumbuh untuk memperkaya khazanah suatu bidang ilmu pengetahuan. Akibatnya adalah ilmu pengetahuan tidak mampu berkembang dan terus kehilangan pamornya. Akhirnya, pengetahuan akan digantikan oleh desas-desus dan keahlian akan digantikan dengan ketrampilan. Horkheimer dan Adorno dalam magnum opusnya, Dialektika Pencerahan, meramalkan bahwa pencerahan yang notabenenya mengandalkan ilmu pengetahuan dan proses berpikir rasional kini telah berubah menjadi mitos. Saya mengiterpretasikannya sebagai bahwa pengetahuan yang dihasilkan dari disiplin metode ilmiah yang ketat sebagai salah satu elemen pencerahan kini tak ubahnya menjadi mitos.

Dari penjabaran sederhana diatas kita mendapat sedikit gambaran bagaimana fasisme epistemology merupakan epistemologi fasisme. Lewat fasiseme epistemologi, para fasis membakukan fasisme mereka. Suatu hal yang sebenarnya sangat berbahaya karena mereka dapat memproduksi kebenaran lewat cara-cara yang jauh dari disiplin serta metode ilmiah.

Bagaimana Menghadapinya?

Saya pribadi tidak menganggapnya mengganggu dan semata-mata membahasnya karena fenomena ini menarik dan cukup representatif untuk melihat kondisi para awam. Saya pribadi kini lebih suka menarik diri dari dimensi ontologi ilmu pengetahuan yang hingar bingar itu ke dalam dimensi epistemologi. Alih-alih bermain dengan fenomena, saya pribadi kini mulai menyepi ke tataran paradigma. Sesuatu yang lebih menyenangkan karena saya sadar saya sungguh tidak punya keterampilan praktis.

Pelarian ke dimensi epistemologi saya pikir juga yang sesuatu yang perlu dilakukan oleh sarjana-sarjana yang masih memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan kini mengaami darurat epsitemologi karena kekeringan metode yang ditemui dalam penelitian membuat pengetahuan secara ontologi tidak diproduksi melalui metode yang sebagaimana mestinya. Akibatnya muncul lah hoax, berita bohong, pseudo-science dan segala status dan share-share an media sosial yang menjijikan itu.

Perkembangan epistemologi juga mandek karena kajian ilmu pengetahuan terhadap dirinya sendiri secara elitis dikunci di dalam kamar-kamar para ahli filsafat. Jarang sekali saya menemui mahasiswa yang juga menyerang keilmuannya selain fenomena yang dikaji oleh bidang keilmuan atau keahliannya. Antropologi dan sosiologi adalah salah sedikit dari dua keilmuan yang masih mempertahankan tradisi dekonstruksi metode dan merayakannya sebagai sesuatu yang krusial dan juga mengasyikan. Saya pikir, cabang ilmu lain perlu belajar dari dua cabang ini mengenai cara menangani epistemology.

Akhirul kalam, Tom Nichols melakukan sesuatu yang harus saya apresiasi karena berani mengbrak-abrik tatanan yang ada. Setelah Kuhn dan Feyerabend, saya sepakat dengan Surjani bahwa The Death of Expertise adalah salah satu gugatan zaman yang sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Terutama di negeri yang darinya saya hidup dan begitu saya cintai.

Tulisan ini merupakan salah satu ruang dalam bangunan konsep mengenai keilmuan yang timbul tenggelam dalam pikiran saya, semoga saya bisa melanjutkannya. Semoga.

scriptamanent

Stasiun

Sepanjang hidup saya dan sepanjang perjalanan yang pernah saya lakukan dan tempuh –terutama sekali menggunakan moda kereta api, ada dua stasiun kereta yang begitu berkesan dan tertancap dalam dalam sanubari. Dua dari beberapa stasiun yang demikian adalah Stasiun Rancaekek dan Stasiun Wondabyne. Ada pesona, nuansa, rona, dan kenangan yang menggelayut dan terkait erat dengan kedua stasiun itu disamping tentu saja stasiun lain seperti Lempuyangan, Mt. Victoria, Kalisat, Pasar Senen, dan Semarang Tawang.

Rancaekek merupakan salah satu stasiun yang terletak di dataran tinggi. Stasiun ini merupakan stasiun kecil yang menyambungkan Bandung kota dengan daerah pinggirannya seperti Sumedang atau Jatinangor. Aksesnya buruk betul, jalan depan stasiun sering macet dengan tumpukan sampah yang menggunung di pinggir jalan setapak untuk memasukinnya. Tidak banyak papan keterangan mengenai stasiun tersebut sehingga mereka yang kurang awas atau tidak terbiasa akan kecele melihat lingkungan stasiunnya.

Sejauh ingatan saya disana, stasiun ini tidak selalu ramai, sedang saja. Rata-rata pengunjungnya merupakan mahasiswa atau muda-mudi komuter yang punya keperluan di Jatinangor dari Bandung atau sebaliknya. Jatinangor merupakan salah satu kawasan yang berkembang pesat dan diisi banyak sekali kampus-kamus top seperti IPDN, ITB, dan Unpad. Selain muda-mudi, banyak juga ibu-ibu yang membawa anaknya, mungkin mengajak mereka piknik di Bandung atau mengunjungi sanak saudara. Kehadiran kereta dari Rancaekek sangat membantu pergerakan orang-orang ini sebab bila tidak, mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar Damri melewati jalan tol atau memanjangkan kesabaran naik angkot dan tenggelam dalam kemacetan.

Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, jangan harapkan keindahan dari bagian luar stasiun ini. Tidak ada keindahan yang terpancar dari akses-aksesnya. Namun demikian, apabila pembaca kemudian membeli tiket dan masuk serta menunggu di peronnya, maka aura stasiun ini berubah drastis. Di balik tembok pembatas stasiun, Rancaekek menghadirkan pesona dan aura klasik. Peron yang lenggang dan terbuka serta lansekap dataran rendah sejauh mata memandang memberikan suguhan nuansa yang tidak dapat dijelaskan. Entah, saya juga belum paham bagaimana membahsakannya, namun saya begitu menikmati lenggangnya peron Stasiun Rancaekek dan lansekap dataran dan pegunungan di sekitarnya.

Stasiun berikutnya adalah Wondabyne. Stasiun ini termasuk ke dalam jaringan Central Coast Train di New South Wales. Semisal pembaca naik kereta dari Central Station di Sydney untuk menuju Newcastle, pembaca pasti melewati stasiun ini.Saran saya berhenti lah di Goshford untuk mengunjungi kota kecil itu, banyak situs dan pantai yang menarik seperti Terrygale salah satunya.

Wondabyne adalah stasiun terindah yang pernah saya kunjungi. Oh yah, saya bersungguh-sungguh. Stasiun ini terletak di delta sungai Hawkesbury yang besar buka kepalang itu. Apa yang menjadi keindahan stasiun ini adalah, sejauh yang saya amati, tidak ada akses darat untuk mencapai dan meninggalkannya. Stasiun Wondabyne terletak persis di pinggir badan air Hawkesbury dan jalan satu-satunya adalah melalui badan air tersebut. Lokasi stasiunnya terletak di kaki bukit dan dikelilingi beberapa bukit lainnya.

Di kaki-kaki bukit tersebut yang dibanjiri oleh badan air Hawkesbury, sebuah pemukiman berada. Tidak ada akses darat untuk mencapai rumah-rumah di pemukiman tersebut sehingga akses satu-satunya adalah menggunakan jalur air. Semisal Anda beruntung dan berada di daerah Wondabyne saat menjelang terbenamnya matahari Anda akan mendapatkan vibrasi aneh dari perpaduan bukit-bukit, pemukiman di tepian badan air, dan pemandangan yang bergerak di jendela kereta Anda. Magis dan sangat romantis.

(*)

Saya menyukai sekali tempat-tempat transit seperti stasiun, terminal, atau bandara. Sangat menyenangkan berada disana. Saya bisa menghabiskan banyak waktu sambil membaca dan memperhatikan orang-orang serta suasana disana. Begitulah, setiap saya diminta tolong untuk menjemput sesorang saya akan tiba lebih awal untuk sekedar memperhatikan manusia-manusia datang dan pergi. Tergesa mengejar moda atau duduk suntuk terpuruk karena penundaan atau pembatalan pemberangkatan. Siapa mereka? Kemana mereka? Dari mana mereka? Apa yang telah mereka lalui disana datau disini? Mengapa mereka tergesa? Pertanyaan yang terus saya munculkan untuk saya nikmati imajinasinya. Saya menikmati memperhatikan kesedihan mereka yang ditinggalkan atau kegembiraan mereka yang diikat pertemuan. Gerbang kedatangan atau keberangkatan sama-sama memberikan pesona manusia yang melenakkan.

Dari para penumpang tersebut, saya mendapati makna soal perpisahan dan pertemuan juga makna soal kepergian dan kedatangan, sesuatu yang tampaknya kini begitu sering terjadi pada saya dan teman-teman saya.

Saya mendapati dan memaksa diri untuk menerima ide bahwa kepergian dan kedatangan, pertemuan dan perpisahan adalah alamiah. Tak terhitung banyaknya saya mencoba untuk meromantisasi jarak dan ruang yang terjadi antar, katakan lah, saya dengan teman-teman saya atau dia yang saya cintai nun jauh disana, sekedar untuk menggeser nuansa kelabu rindu menjadi pesona yang merona. Pada dasarnya upaya tersebut hanya berbuah kegagalan sehingga seringkali saya lebih suka menerimanya sebagai suatu kejadian alamiah yang kering dan nirfaedah. Meskipun demikian, terkadang emosi yang disuguhkan oleh perpisahan tidak semudah itu dijeruji. Kadang ia menjebol dinding-dinding kegersangan kognisi yang saya bangun dan terus saya perkuat dari hari ke hari. Menelurkan berbagai kebimbangan, kegalauan, termasuk tulisan yang tengah Anda baca ini.

Tulisan singkat ini hendak saya berikan kepada mereka-mereka yang tengah berada di negeri jauh di sana. Mereka yang kini menyadari bahwa luasnya dunia ini menipu anggapan mereka sebelumnya bahwa lingkungan mereka adalah yang utama. Mereka yang kini sebelum memejamkan mata bertanya apa yang sebenarnya saya lakukan disini? Siapakah saya sebenarnya? Benarkah yang selama ini sudah saya lakukan. Mereka yang memilin rindu untuk menjadi temali yang suatu saat nanti mengikat ia yang mereka cinta dalam pertemuan abadi. Mereka yang tengah mempertaruhkan kehidupan untuk sampai ke tempat tujuan. Mereka yang memikirkan rumah dan cinta yang membanjiri mereka disana. Mereka yang lidahnya kelu mengecap makanan yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Mereka yang bersedih karena perbedaan budaya. Mereka yang memikirkan pulang setiap detiknya, setiap helaan nafasnya.

Juga kepada mereka yang tengah menunggu kedatangan seseorang. Mereka yang tengah berpanjang sabar. Mereka yang tengah setengah mati mencoba mengerti, mencoba memahami bahwa ini semua sementara. Mereka yang tengah resah terus meyakini diri bahwa yang disana tengah baik-baik saja. mereka yang terjaga di tengah malam dan bersimbah air mata karena mimpi yang terasa begitu nyata.

Seluruh rasa kagum saya ada pada mereka itu. Tidak mudah menyerah kalah pada jarak dan jeda yang terjadi antar manusia dan menyerahkan semuanya kepada kebutaan dan ketidakhadiran. Segalanya akan berlalu, Anda bersama waktu dan tidak ada yang sanggup menghentikannya. Ia akan membawa Anda kepada tujuan-tujuan baru yang tidak Anda duga sebelumnya. Waktu akan terjalin seiring rindu, mengikat para manusia, menembus jarak, memotong jeda dan hela. Tunggulah, sehari akan berganti, sedetik akan terlalui.

scriptamanent

Asketis

Pada suatu kesempatan tidak seberapa lama kemari, saya bersama beberapa sahabat mendiskusikan beberapa hal mengenai beberapa hal untuk waktu ke depan. Beberapa dari mereka mencecar saya mengenai sikap dan perilaku yang tengah saya anut kini, kiranya nilai apa yang menjadi koridor utama saya untuk bergulir menjalani hidup. Saya, tentu saja, girang apabila ditanya demikian. Pertanyaan reflektif semacam itu adalah kebiasaan yang harus terus ditumbuhkan dan dibiasakan dan terkadang saya butuh bantuan orang lain untuk mengeluarkannya. Jawabannya tidak selalu sama tentu saja sehubungan saya sebagai manusia adalah sosok dinamis yang tidak mengalami finalitas. Lentur, mulur, daur, berbaur, sehingga apa yang saya yakini tidak ajeg pada satu titik tertentu.

Dan pada kesempatan kali itu saya sendiri terkejut dengan apa yang saya keluarkan. Entah sadar atau tidak, apa yang kini tengah saya anut adalah: penyangkalan diri. Apa yang lebih mengejutkan lagi adalah nukilan ayat yang kemudian saya jadikan pembenaran. Markus bab 8 ayat 34:

The Way of the Cross

34 Then he called the crowd to him along with his disciples and said: “Whoever wants to be my disciple must deny themselves and take up their cross and follow me.

Bagaimana ajaran tersebut keluar dari mulut saya mungkin hanya Yesus dan Allah Bapa yang tahu jawabannya.

Ajaran katolik merupakan ajaran yang begitu bercokol dalam pemikiran dan alam bawah sadar saya. Dan sebagai karunia kehendak bebas yang diberikan kepada saya, saya memiliki kemewahan untuk menyukai ajaran mana pun dengan segala konsekuensinya. Secara pribadi, saya pribadi lebih suka melihat ajaran agama sebagai suatu panduan dimana manusia akan selalu ditantang untuk resah, bertanya, dan menggugat. Bahwa, seperti yang dikatakan Romo Magnus-Suseno di penutup buku ‘Menalar Tuhan’, keinginan manusia adalah selalu ingin bertanya. Tidak ada ide yang bisa saya lebih sepakati dari itu. Maka terkadang saya jengkel melihat ada ajaran agama yang menutup pemikiran-pemikiran manusia dan mengkerdilkannya.

Demikian, ayat tersebut , hari ini, menjadi salah satu ayat favorit saya selain Matius 25:14-30 yang mengajarkan soal akumulasi kapital.

Apabila dipersempit, yang bisa saya ambil dari ayat tersebut adalah soal penyangkalan diri: deny myself. Saya suka istilah ini terlebih ketika Kurt Cobain bengak-bengok soal denial di bagian akhir ‘Smells Like Teen Spirit’. Bunyinya enak dilafal de-na-i-yel begitu pun Bahasa Indonesianya: sangkal. Entah lah, bunyinya terasa megah di telinga saya. Penyangkalan diri menjadi satu konsep yang mulai coba saya introduksikan. Pendekatan penyangkalan diri berarti menolak segala konsep definisi tentang saya. Bahwa saya bukanlah ini dan bukanlah itu, tidak ini dan tidak itu.

Pendekatan tersebut bukan lah tanpa alasan, pendekatan penyangkalan adalah salah satu gerbang masuk menuju keberadaan tuhan. Bahwa sang haqq, Yang Esa dan omnipotent itu tidak bisa didefinisikan. Dia hadir dalam ruang-ruang ketidaktahuan, kehampaan, di dalam void space. Segala apa yang tidak bisa diasosiasikan, diketahui secara definitif, dan tidak bisa difalsifikasi menunjukan bahwa disitulah Tuhan berada. Metode ini digunakan mulai dari ajaran Jnana Yoga dan Advaita Vedanta dari hinduisme yang dikenal dengan neti-neti hingga ajaran katolisitas yang dikenal dengan pendekatan via negativa.

Darinya kemudian saya belajar bahwa untuk mencapai kesejatian, yang perlu dilakukan adalah menyangkal segalanya. Akan selalu ada bayangan gelap yang tercipta setiap kali kita bernafsu mencapai kebenaran. Bukankah pengetahuan manusia memang divonis terbatas semenjak Kant dan disempurnakan oleh Heisenberg? So, why bother to seek the truth? We will be consumed by cthulhu at the end.

scriptammanent.

Berdagang

Ah, sudah lama betul saya tidak mengisi blog ini. Tampaknya memang hidup memang tengah begitu datarnya. Banyak, terlalu banyak kebencian, keresahan, kekhawatiran, dan kekecewaan yang beredar di sekeliling. Segala hal menyebalkan itu yang memburamkan indera saya, memutus hubungan saya dengan dia yang maha asik di sana. Menyebalkan karena kini saya sadar bahwa saya sudah tidak selucu kemarin dan semakin tidak lucu saja nampaknya. Sebab itu, ada gairah yang perlu kembali saya perah, ada vitalitas yang perlu saya kembali munculkan. Kembali ke titiki di masa lalu jelas bukan solusi atau jawaban, namun mengulanginya terus menerus merupakan suatu yang saya pikir perlu kembali diperlukan. Dan itu lah, saya putuskan untuk mengisi kembali blog ini.

Sudah sejauh mana saya melangkah semenjak postingan terakhir? Tidak jauh saya rasa. Kecuali bahwa saya kembali menyukai genre J-pop dan J-rock, tidak banyak yang berubah. Oh, ada beberapa bacaan mengenai wacaa postmodernitas yang tengah kembali saya geluti dan tambahan beberapa suplemen wacana ekofeminisme yang semakin saya gali semakin tidak saya pahami itu. Namun, yang paling menyenangkan adalah membaca salah satu karya Jared Diamond: “The World until Yesterday”. Buku yang sangat menggembirakan karena bisa mematahkan kesombongan peradaban dan angkuhnya modernitas. Bahwa manusia-manusia manufaktur modern masa kini yang berjejal-jejal di perkotaan begitu terputus dengan alam semesta dan lingkungan sekitarnya hingga saya pun kurang meyakini mereka dapat bertahan apabila disandingkan dengan kekuatan alam. Saya pernah mengalaminya ketika di tepi Biatan Ulu dan harus membuat pondokan dari material kayu yang ada di sekitaran. Memalukan, sungguh memalukan.

Fenomena ini apa yang disebut sebagai alienasi. Tapi bukan alienasi an sich yang mau saya bahas. Well, in fact, tidak ada yang sebegitu inginnya saya bahas, malam ini saya hanya mau menulis sesuka-suka saya setelah begitu lama tidak bergelut dengan kata-kata. Keterputusan dengan alam itu yang tengah begitu kuat saya rasakan. Dasar kesadarannya adalah bahwa apabila ketika saya dilepaskan ke tengah-tengah kekuatan alam, saya tidak begitu yakin dapat bertahan hidup. Ini juga yang menjadi fenomena bahwa nyaris setiap orang yang hilang atau tersesat di belantara rimba tidak dapat bertahan hidup dalam waktu lama. Keterputusankah itu? Atau saya yang hanya berpikir terlalu jauh? Entah lah.

Hal tersebut begitu mengganggu dalam beberapa waktu dalam bentuk ketidakmampuan saya dalam mengolah material dengan menggunakan teknologi yang ada. Baik lah latar belakang saya adalah generasi milenial kelas menengah ngehek yang ditanam di dalam lingkungan dengan sekuritas level tinggi yang menghasilkan keluaran berupa manusia manja. Manja dalam artian, saya tidak dapat memenuhi kebutuhan atau basis-basis material saya sendiri. Beberapa kesempatan saya dituntut menampilkan performa untuk bertahan hidup dan yang bisa saya lakukan hanya terpelongo menunggu maut datang menjemput. Sementara rekan-rekan saya yang lain mampu belajar begitu cepatnya untuk mengenali materi, berkawan dengan teknologi hingga menjadikannya sebagai perpanjangan tubuhnya dan menghasilkan artefak baru yang pastinya dapat memperpanjang usia mereka, jauh melebihi usia saya di keadaan yang sama. Hah, getir.

Basis material tersebut berarti makanan, pakaian, dan bangunan. Mencari dan mengolah bahan makanan (memasak), membuat produk pakaian (menjahit), hingga mengolah material alam (nukang) adalah hal-hal dimana saya berubah menjadi pecundang. Tapi apakah itu salah? Ya tentu saja ketika kamu harus berhadapan kepada pemenuhan-pemenuhan kebutuhan. Namun kita toh bisa meminta orang lain untuk menyediakan bahan tersebut untuk kita bukan? Tidak semua hal harus dipenuhi sendiri? Hoho, berangkat dari situ dan berakhir di kapitalisme.

Kapitalisme, neoliberalisme, dan seluruh ideologi yang bertumpu pada semangat membeli itu, dalam lingkaran pergaulan saya, adalah produk titisan dajjal yang harus diluluhlantakkan dengan segala cara yang ada. Bila perlu menggunakan kekuatan koersi atau kontak fisik, karena para borjuis-kapitalis tidak berkeringat dan melakukan aktivitas fisik sebanyak proletar itu. Di atas kertas, adu jotos antara proletar dan borjuis jelas dimenangkan oleh proletar maka proletar mencoba untuk merumuskan perlawanan mereka dengan jalan revolusi! Dan dimana bila itu terjadi, saya pasti terkapar di jalanan aspal ketika mencoba melarikan diri dengan motor saya, bisa kena batu atau jotos kamerad perjuangan.

Maka demikian, para kapitalis ini mencoba membuat jalan yang lebih cantik karena tahu adu jotos dan jogging dengan proletar hanya menjadi ladang pembantaian semata, no chance to win, no way to run. Solusinya: ciptakan lah perdagangan.

Perdagangan, saya pikir menjadi salah satu terobosan terbaik manusia dalam membangun perdamaian. Kekuatan ekonomi kini menjadi penentu kekuasaan setelah sebelumnya kekuasaan dimanifestasikan dari kucuran darah atau jumlah mayat yang rebah di tanah. Kini kekuasaanditentukan dengan banyaknya uang yang bisa kita berikan ketika bantingan buat beli gorengan atau hidangan berbuka puasa. Kekuasaan, termasuk didalamnya kebanggaan (pride) dan identitas dimasukan ke dalam domain-domain investasi dan kekuatan kepemilikan pribadi yang berkembang hingga tahap paling absurdnya: finansial.

Begitu lah perdagangan kemudian membuat dunia menjadi sangat rumit. Apabila sebelumnya segala masalah bisa diselesaikan dengan saling meghunus senjata, kini manusia lebih suka bernegosiasi atau adu licik dan tusuk dari belakang. Bukan kah itu sangat menyulitkan persoalan? Mungkin karena kesadarn manusia yang membedakannya dari binatang sehingga dalam melakukan apapun mereka harus tampil berbeda dan lebih baik dari hewan. Padahal toh, yang menganggap tindakan manusia lebih terhormat dari binatang hanya manusia saja. Apa seekor ayam peduli apabila ada manusia yang memperkosa anak kambing? Dari tiga aktor di atas hanya manusia yang terganggu. Di sini saya separo merasa bersyukur, separonya lagi bingung. Sudah lah, mari kembali menikmati keterputusan ini.

scriptammanent